Pabrik Pupuk Sudah Tua dan Hasilkan Banyak Emisi, Percepat Revitalisasi agar Lebih Efisien

Minggu, 11 Mei 2025, 23:55 WIB

JAKARTA-Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Herman Khaeron menyoroti masalah pabrik pupuk yang sudah tua, umurnya bahkan sudah ada yang 30 tahun. Ini tentu tidak bagus dari sisi efiensi.

Herman mendorong agar sesegera mungkin melakuman revitalisasi pabrik pupuk"Pabrik-pabrik ini sudah ada yang 30 tahun. Teknologinya usang, tidak efisien, dan berpotensi bocor,” katanya usai bertemu dengan Pupuk Indonesia beserta jajaran, di Jakarta, Jumat (9/5)

Ket. Foto: Salah satu pabrik PT.Pupuk Indonesia — Sumber: istimewa

Dia menyebut, pengembangan dan peremajaan pabrik pupuk membutuhkan investasi besar, sekitar 116 triliun rupiah dengan proyeksi efisiensi jangka panjang hingga 11 triliun rupiah. Pemerintah diminta hadir memberikan dukungan pembiayaan agar pabrik pupuk bisa diremajakan dan terus menjalankan perannya dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

"Pemerintah, DPR, dan BUMN harus bahu-membahu. Pupuk ini menyangkut kedaulatan pangan, produktivitas petani, dan keberlangsungan usaha pabrik itu sendiri,” ucapnya.

 Anggota BAKN DPR RI lainnya, Musthofa menyinggung pentingnya efisiensi produksi pupuk. Ia menyatakan bahwa banyak pabrik pupuk di Indonesia sudah tua dan membutuhkan revitalisasi. “Kalau memang revitalisasi butuh 100 triliun rupiah, mari kita bahas bersama. Jangan ragu kalau ini untuk kepentingan masyarakat dan ketahanan pangan,"jelasnya.

Rencana Perusahaan

Maret lalu, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi juga mengungkap rencana perusahaan yang akan merevitalisasi pabrik-pabrik dengan total anggaran mencapai 116 tiriliun rupiah "(Investasi) Rp 116 triliun itu adalah untuk merevitalisasi seluruh industri pupuk. Itulah yang dibutuhkan karena banyak pabrik kami yang sudah tua-tua,"ucap

Sejumlah pabrik pupuk yang telah berdiri lama ujarnya seperti PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) yang menjadi paling tua karena beroperasi sejak tahun 1959. Pendirian pabrik lain dari PT Petrokimia Gresik pada 1972, PT Pupuk Kujang pada 1975 di Cikampek, PT Pupuk Kalimantan Timur 1977, dan PT Pupuk Iskandar Muda di tahun 1982. 

Dia mengatakan, perusahaan perlu merevitalisasi sejumlah pabrik agar operasional bisa berjalan lebih optimal dan mengeluarkan lebih sedikit emisi gas.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.