Akademisi Sebut Udara Dalam Ruangan Lebih Banyak Polutan! Berbahaya Bagi Kesehatan Mental
Jumat, 09 Mei 2025, 22:12 WIBJAKARTA - Akademisi dari Universiti Putra Malaysia, Juliana Jalaludin, menyebut udara dalam ruangan lebih banyak mengandung polutan. Menurutnya, kondisi tersebut berbahaya bagi kesehatan mental.
Dia mengungkapkan, dalam penelitian global menunjukkan lebih dari 90 persen orang menghabiskan waktunya di dalam ruangan. Lamanya waktu yang dihabiskan manusia di dalam ruangan menjadi salah satu alasan mengapa penting memperhatikan kualitas udara dalam ruangan.
"Lebih dari 90 persen tergantung pada usia. Misalnya bayi akan lebih lama menghabiskan waktunya di dalam ruangan," ujar Juliana, saat mengisi kuliah umum di Universitas Airlangga (Unair), Jumat (9/5).
Juliana mengatakan bahwa udara dalam ruangan ternyata mengandung lebih banyak polutan dibandingkan di luar. Polutan dalam ruangan jumlahnya 2 hingga 5 kali lebih banyak daripada polutan di luar ruangan.
Dia menjelaskan bahwa dampaknya manusia akan terpapar lebih banyak polutan meskipun sedang di dalam ruangan. Menurutnya, polusi udara dalam ruangan, dapat disebabkan oleh berbagai hal salah satunya bangunan yang saling berdempet sehingga tidak memiliki ventilasi udara dan menyebabkan tidak adanya pertukaran udara.
"Udara segar dari luar tidak dapat masuk ke ruangan, begitupun dengan udara kotor dari dalam ruangan tidak dapat lepas ke luar sehingga kualitas udara dalam ruangan menjadi buruk," jelasnya.
Juliana menuturkan, beberapa contoh dampak polusi udara dalam ruangan dapat mengganggu kesehatan mental. Menurhtnya, Volatile Organic Compound (VOC) yang merupakan senyawa organik yang mudah menguap di udara dapat menyebabkan stres fisiologis.
"VOC dapat berasal dari bahan pelapis furnitur, tiner, atau cat dinding yang uapnya dapat terhirup manusia. VOC memberikan efek toksik pada tubuh manusia dan dapat menyebabkan stres fisiologis," katanya.
Di samping itu, kata dia, udara yang tidak fresh misalnya mengandung banyak karbondioksida atau CO2 juga disebut dapat mengakibatkan brain fog. Brain fog merupakan kelelahan mental yang menyebabkan gangguan kognitif seperti tidak fokus atau kebingungan.Â
Tak hanya itu, ia juga menjelaskan bagaimana debu dapat berdampak pada gangguan mental. Dia menuturkan bahwa debu yang terhirup dapat mengganggu keseimbangan hormon endokrin manusia.
"Gangguan pada hormon endokrin dapat berefek pada munculnya depresi dan kecemasan. Berhati-hati dan pastikan ruangan untuk belajar dan bekerja jangan berdebu," tuturnya.
Redaktur: Sriyono
Penulis: Muhamad Ma'rup
Berita Terkait:
-
Tim SAR Evakuasi Pria Hanyut di Sungai Lau Biang Kabupaten Karo
-
Presiden Prabowo Minta PLN dan Pertamina Segera Pangkas Anak-Cucu Perusahaan untuk Efisiensi serta Produktivitas
-
Angin Segar, Khofifah Hapus Pajak Pokok dan Denda Kendaraan Ojol
-
Menbud Apresiasi Kontribusi Is Haryanto dalam Konser Sepanjang Jalan Kenangan
-
Google Bakal Hapus Watermark pada Gambar dan Video AI?
-
Minggu, Cuaca Jakarta Diprakirakan Cerah Berawan, Suhu Udara Tertinggi 33 Derajat Celsius
-
Gunung Bromo Ditutup, Wisatawan Bisa Minta Refund atau Jadwal Ulang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.