Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

RUU Penyiaran Berpotensi Multitafsir

📅 Selasa, 06 Mei 2025, 22:17 WIB | Oleh:
RUU Penyiaran Berpotensi Multitafsir Doc: Istimewa
Ket. Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Gadjah Mada (UGM) Rahayu

JAKARTA - Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Gadjah Mada (UGM) Rahayu, mengatakan, revisi Undang-undang Penyiaran berpotensi multitafsi dan tumpang tindih. Menurutnya, Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran masih masih memerlukan pertimbangan terhadap sejumlah pasal yang tidak efisien karena tumpang tindih dengan kebijakan lain.

Dia menerangkan, jangan sampai regulasi soal siaran justru mempersempit ruang kebebasan berekspresi dan mengancam perseorangan di platform digital. Menurutnya, RUU Penyiaran justru banyak menghukum content creator, bukan platform.

"Aturan itu serahkan saja sama platform, mereka yang bertanggung jawab memoderasi konten. Pemerintah bisa berdiskusi dengan platform," ujar Rahayu, dalam keterangan resminya, dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (6/5).

Dia mencontohkan, regulasi siaran di Eropa, undang-undang audiovisual memberikan pengaturan jelas pada siaran televisi dan platform digital. Contohnya, dorongan konten lokal, larangan penayangan konten diskriminatif, hingga aturan periklanan.

"Regulasi ini juga membedakan pengaturan pada keduanya, seperti regulasi penayangan produk tembakau di siaran televisi ataupun pengaturan video-sharing di platform digital. Hal yang penting adalah bahwa regulasi tersebut mengatur penyelenggara, lembaga, perusahaan siaran, bukan perseorangan," terangnya.

Rahayu menyampaikan ada poin penting yang luput dari RUU Penyiaran. Regulasi selama ini masih melihat garis besar industri media nasional saja, belum berupaya menggandeng media siaran lokal.

Padahal sejak beralih ke digital, kata dia, banyak TV lokal yang sulit bertahan, bahkan tumbang. Penting bagi pemerintah untuk melindungi industri penyiaran, bukan hanya memberlakukan pelarangan atau pembatasan.

"Pada dasarnya keberadaan media ini kan bentuk dari suara masyarakat, maka perlu dilindungi," tuturnya.

Rahayu juga meminta pertimbangan kembali terkait kewenangan yang berlebihan bagi lembaga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Di RUU tersebut tidak ada penjelasan mengenai bagaimana bentuk pengawasan yang akan dilaksanakan oleh KPI, mengingat konten-konten digital saat ini bertumbuh cepat dan masif setiap harinya.

"Padahal perihal konten sendiri sudah diatur oleh Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan perusahaan platform digital," ucapnya.

Dia menyebut, ada usulan menarik dalam Draft RUU Penyiaran, salah satunya Pasal 7 Ayat 3 yang menyebut kewenangan KPI untuk membentuk KPI daerah. Menurutnya, pasal ini dapat mendorong penayangan konten-konten budaya daerah dan memperkuat media lokal.

"Sayangnya, pasal tersebut tidak menjelaskan bagaimana mekanisme operasionalnya, mulai dari pembentukan KPI Daerah hingga pengelolaan finansialnya. Dikhawatirkan usulan ini justru akan membebani anggaran di tingkat daerah," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Olahraga
PSG Incar Celah Pertahanan ...

Lumayan, Transportasi Jakarta Terbaik Nomor 15

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Lumayan, Transportasi Jakar...

Pasar Tengah Buruk, Pemprov Tunda IPO

1.5 jam yang lalu | Sujar

Megapolitan
Pasar Tengah Buruk, Pemprov...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.