Worldcoin dan Visi Sam Altman: Mengapa Bola Mata Anda Jadi Kunci Masa Depan Digital?
Senin, 05 Mei 2025, 18:40 WIBJAKARTA â Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Komite Digital Nasional (Komdigi) telah resmi memblokir akses ke proyek Worldcoin di Indonesia per awal Mei 2025. Langkah ini dilakukan menyusul kekhawatiran serius terhadap pengumpulan data biometrik warga Indonesia oleh entitas asing yang tidak terdaftar secara resmi.
Pemblokiran ini menambah panjang daftar negara yang merespons keras terhadap proyek ambisius buatan Sam Altmanâpendiri OpenAI dan sosok di balik ChatGPTâyang disebut-sebut akan merevolusi sistem identitas global.
Worldcoin bukan sekadar proyek kripto. Ia membawa visi besar: menciptakan sistem identitas digital universal berbasis biometrik iris mata, dengan janji untuk menyertakan seluruh umat manusia ke dalam ekonomi digital global.
Dari OpenAI ke âOrbâ
Diluncurkan resmi pada Juli 2023, Worldcoin dibangun oleh perusahaan Tools for Humanity yang berbasis di Jerman dan AS. Proyek ini dipimpin langsung oleh Sam Altman, yang secara global dikenal sebagai pelopor kecerdasan buatan melalui OpenAI.
Kunci teknologi Worldcoin terletak pada alat berbentuk bola logam futuristik yang disebut âOrbâ, yang berfungsi memindai iris mata manusia. Proses ini akan menghasilkan World ID, yakni identitas digital unik berbasis data biometrik yang diklaim anonim dan tak dapat dipalsukan.
âTujuan kami adalah membangun lapisan identitas dan keuangan yang dapat digunakan oleh semua orang di dunia,â ujar Altman dalam wawancara dengan Financial Times (Juli 2023).
Worldcoin juga menyediakan insentif berupa mata uang kripto bagi mereka yang mendaftarâsebuah taktik yang banyak dikritik sebagai eksploitasi atas warga negara berkembang.
Janji Inklusi atau Skema Eksploitasi?
Worldcoin mengklaim telah menjangkau lebih dari 3,5 juta pengguna di 34 negara hingga awal 2025. Banyak dari mereka berasal dari wilayah Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan.
Namun para pengamat menyoroti ketimpangan distribusi proyek ini. Dalam investigasi mendalam oleh MIT Technology Review (April 2022), Worldcoin dinilai menargetkan populasi rentan di negara-negara berkembang, dengan janji uang tunai atau kripto sebagai imbalan atas pemindaian biometrik yang âtidak benar-benar dipahami risikonya oleh pengguna.â
Wired UK (Oktober 2023) bahkan menyebut Worldcoin sebagai âeksperimen sosial skala global tanpa kontrol etik yang memadai.â
Kritik Etik dan Ancaman Privasi
Salah satu kekhawatiran utama dari para pakar adalah soal keamanan dan penyimpanan data iris, meski pihak Worldcoin mengklaim bahwa data iris yang dipindai diubah menjadi hash matematis dan tidak disimpan dalam bentuk gambar.
Namun, Komisi Perlindungan Data Prancis (CNIL) menyebut bahwa mekanisme teknis Worldcoin masih belum transparan dan menimbulkan potensi pelanggaran terhadap GDPR (Regulasi Perlindungan Data Umum Uni Eropa). Hal serupa juga mendorong Kenya dan Jerman untuk menghentikan aktivitas Worldcoin di wilayahnya.
âIni bukan soal teknologi, tapi soal siapa yang mengontrol identitas global,â tulis Naomi Klein dalam kolomnya di The Intercept (Agustus 2023).
Beberapa akademisi juga mempertanyakan urgensi Worldcoin di tengah ketidaksiapan hukum banyak negara untuk menangani proyek semacam ini. âProyek ini bisa mendesak otoritas negara tanpa memberi mereka cukup waktu untuk mengevaluasi risiko jangka panjang,â kata Prof. Michael Veale, pakar hukum teknologi dari University College London, dalam laporan BBC Tech (Agustus 2023).
Dunia Tanpa Paspor?
Visi jangka panjang Worldcoin adalah menciptakan identitas digital yang dapat digunakan secara lintas batasâmirip paspor digital berbasis blockchain. Namun hal ini justru membangkitkan kekhawatiran bahwa perusahaan swasta seperti Tools for Humanity akan memiliki otoritas yang lebih besar daripada negara dalam urusan paling fundamental: identitas warga.
Dengan pemblokiran di Indonesia, perdebatan seputar Worldcoin kini masuk ke fase baru. Bukan hanya soal teknologi canggih, tetapi juga soal kedaulatan digital, etika global, dan masa depan identitas manusia.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Bidik Target 'Net Zero': Estonia Ajak Indonesia Perkuat Sinergi Energi Terbarukan
-
Mengejutkan! Riset Temukan Kandungan BPA pada Makanan Kaleng Lebih Tinggi dari Galon
-
Peningkatan penumpang Whoosh saat libur Natal dan Tahun Baru
-
Gara-gara Masalah Data, Hingga Kini Masih Banyak Petani yang Belum Menerima Pupuk Bersubsidi
-
OJK Ambil Langkah Tegas: Perusahaan Modal Ventura Ini Dicoret!
-
Jam Tangan yang Terhubung dengan Satelit dan Seluler, Hebat Sekali
-
ChatGPT Hadirkan Fitur Group Chat: Ajak Teman & Kolaborasi Langsung di Satu Ruang Obrolan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.