Francesco Perono Cacciafoco, Xi'an Jiaotong-Liverpool University
Hari masih pagi ketika sekelompok orang Abui menari dalam lingkaran di sekitar âmaasangââaltar utama desa. Mereka bergantian melakukan gerakan yang selaras dengan jeda ritmis. Bunyi gendang yang mengiringi setiap langkah diyakini menghubungkan dunia manusia dengan para dewa.
Mereka sedang membawakan tarian âlego-legoââbagian tak terpisahkan dari ritual leluhur. Gerakan tari mereka dipandu oleh irama dari genderang âMokoâ, alat musik khas yang dianggap benda pusaka dan alat suci. Genderang ini sebagian besar ditemukan di Kepulauan Alor-Pantar, di Nusa Tenggara Timur.
Bersama Shiyue Wu, asisten riset saya di Xiâan Jiaotong-Liverpool University (Suzhou, Jiangsu, Tiongkok), saya mengembangkan dan menerbitkan penelitian tentang nama-nama genderang âMokoâ dan gong perunggu dari Alor dalam tiga bahasa  lokal Papua yang digunakan di pulau tersebut, yaitu: Abui (Alor Tengah), Sawila (Alor Timur), dan Kula (Alor Timur).
Penelitian ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kita tentang genderang Moko dan makna serta kesuciannya bagi identitas dan warisan budaya masyarakat yang tinggal di kepulauan Alor-Pantar.
Referensi sejarah yang kabur
Di antara banyak tradisi leluhur dan benda ritual di Indonesia Tenggara, genderang âMokoâ mewakili perpaduan unik antara nilai simbolis dan religius serta fungsi praktis dalam kehidupan sosial masyarakat Papua setempat.
Secara teknis, genderang âMokoâ adalah timpaniâkhususnya membranofonâyang menghasilkan bunyi melalui getaran kulit atau selaput yang dipukul.
Alat musik ini digunakan secara luas dan mengakar kuat di kalangan masyarakat adat Alor, Pantar, dan sekitarnyaâtermasuk di Timor, dan kelompok Austronesian serta Papua di Flores, Kendati demikian, sejarah dan asal usul alat musik ini masih samar.
âGong perungguâ dari kepulauan Alor-Pantar umumnya berbentuk cakram logam pipih bundar dan dimainkan dengan palu. Alat ini memiliki fungsi musikal dan sosial yang sebanding dengan genderang âMokoâ.
Masyarakat setempat percaya bahwa genderang dan gong tersebut bukan buatan lokal, melainkan hasil produksi dari lokasi asal yang belum diketahui. Ini terkonfirmasi dalam percakapan kami dengan konsultan lokal Abui.
Atribut unik drum âMokoâ
Setiap genderang âMokoâ (dan gong perunggu) memiliki ciri khasâbaik dari segi ukuran, bentuk, bunyi maupun hiasan atau dekorasinya.
Keunikan ini diperkuat dengan adanya nama âindividualâ untuk setiap alat, yang menandai kategori tertentu, dengan atribut musikal dan estetis yang berbeda.
Misalnya, ada âfiyaai futalâ (dalam bahasa Abui) yang berarti genderang âbunga kemiriâ, dan âbileeqwea / bileeq-weaâ (dalam bahasa Abui) atau genderang âdarah kadalâ.
Semua kelompok etnis di Alor, Pantar, dan daerah sekitarnya menggunakan varian lokal mereka sendiri untuk menamai alat musik. Penamaan ini mencerminkan ritual dan ciri perdagangan masing-masing alat musik.
Meski demikian, penutur asli tidak dapat menjelaskan nama âMokoâ, beserta asal-usul etimologis dan semantiknya. Mereka sepakat bahwa alat musik ini kemungkinan berasal dari luar kepulauan, tetapi tidak seorang pun mengetahui lokasi persisnya. Ada yang menduga alat itu datang dari Jawa, Makassar, India, Vietnam, atau bahkan Cina, tetapi semua itu hanya asumsi tanpa bukti kuat.
Beberapa mitos lokal dan cerita asal-usul mengisahkan bahwa genderang âMokoâ ini ditemukan terkubur di dalam tanah. Konon, genderang yang masa itu dianggap barang berharga disembunyikan di bawah tanah oleh penduduk setempat, agar tidak jatuh ke tangan penjajah atau dibawa pergi oleh orang asing.
Istilah âMokoâ diakui luas dan digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh penutur bahasa Alor-Pantar, terlepas dari bahasa dan desa mereka. Akan tetapi, hingga kini tidak seorang pun, di antara penduduk setempat, dapat menjelaskan asal usul kata  atau kemungkinan tafsir maknanya. Karena itu, genderang âMokoâ masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan dalam khazanah budaya dan bahasa setempat.
Ada kemungkinan bahwa nama âMokoâ diciptakan âsecara internalâ, oleh warga Alor dan Pantar sendiri, barangkali berasal dari bahasa âMelayu Alorâ, yang umum digunakan di kepulauan tersebut sejak abad ke-14, dan kemudian menyebar luas ke luar.
Akan tetapi hipotesis tersebut belum terbukti, dan bisa jadi justru sebaliknya, nama tersebut datang dari luar lalu masuk ke Alor-Pantar.
Sejauh ini, makalah kami menyajikan daftar sistematis nama-nama drum dan gong, lengkap dengan sebutan asli dalam tiga bahasa lokal, terjemahan terkait, nama demi nama, catatan sintetis tentang kemungkinan asal usul nomenklaturnya, katalog instrumen berdasarkan kategori (hasil kerja lapangan dan pengamatan langsung), serta foto-foto pilihan yang menunjukkan pentingnya alat musik ini dalam budaya masyarakat.
Di luar fungsi musikal
Genderang âMokoâ merupakan benda ritual kuno yang umum digunakan dalam upacara-upacara ibadah pra-Kristen yang dilakukan oleh masyarakat adat di masa lalu. Tradisi ini bertahan hingga saat ini, melalui cerita rakyat dan perayaan lokal.
Genderang, beserta gong perunggu, juga berfungsi sebagai âmata uangâ lokal yang berharga dalam transaksi tradisional. Gong sering menjadi bagian dari perdagangan dan praktik sosial, seperti dalam negosiasi mahar.
Perjalanan untuk memahami sepenuhnya dinamika sejarah produksi dan penyebaran genderang dan gong âMokoââtermasuk asal-usul dan etimologinyaâmungkin masih panjang. Namun, hal itu tidak mengurangi nilai budaya dan materialnya di mata masyarakat Alor-Pantar.
Meskipun asal usulnya belum jelas, genderang âMokoâ dan gong perunggu dikatalogkan, dideskripsikan, dan dinilai dengan cermat oleh komunitas lokal. Secara berkala, dewan multietnis berkumpul untuk menilai, memperbarui, dan memvalidasi nilai-nilai dan tingkat prestise sosial serta keunikan yang melekat pada warisan berharga ini.
Upaya ini, dikombinasikan dengan pengumpulan dan sistematisasi data âlangsungâ, yang sedang kami kembangkan untuk membantu  mengungkap teka-teki muasal instrumen musik sakral ini.
Francesco Perono Cacciafoco, Associate Professor in Linguistics, Xi'an Jiaotong-Liverpool University
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.