Petani Lebak Didorong Bertani Cerdas, Fokus pada Sayuran Dataran Rendah

Jumat, 25 Apr 2025, 19:08 WIB

LEBAK - Dengan demikian, sayuran dataran rendah memiliki potensi besar untuk berkontribusi positif bagi perekonomian, baik secara langsung melalui peningkatan pendapatan petani dan pelaku usaha, maupun secara tidak langsung melalui diversifikasi pertanian, ketahanan pangan, dan pengurangan jejak karbon. 

Sayuran lokal dapat mendukung ekonomi lokal dengan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar wilayah produksi. Mengonsumsi sayuran lokal dapat mengurangi jejak karbon dibandingkan dengan sayuran impor, karena jarak transportasi yang lebih pendek. 

Ket. Foto: Produksi tanaman sayuran dataran rendah jenis ketimun dipasok ke pasar Rangkasbitung Kabupaten Lebak dengan harga eceran Rp8.000 , sedangkan di tingkat petani Rp4.000 per kilogram. — Sumber: ANTARA/Mansyur

Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, meminta petani mengembangkan tanaman sayuran dataran rendah guna menjadi andalan ekonomi masyarakat di daerah itu.

"Kami melihat prospek usaha pertanian sayuran dataran rendah cukup bagus, karena permintaan pasar cenderung naik," kata Kepala Bidang Produksi Distan Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak, Jumat (25/4).

Produksi pertanian tanaman sayuran dataran rendah antara lain ketimun, pare/paria, kacang panjang, cabe, oyong, terung dan kukuk.

Selama ini, produksi tanaman sayuran dataran rendah secara rutin memasok ke Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang, Pasar Serpong, Pasar Rangkasbitung, Pasar Maja hingga Pasar Kebayoran Jakarta.

Produksi sayuran itu diperkirakan di atas 30 ton per hari dari petani Rangkasbitung, Warunggunung, Kalanganyar, Cibadak dan Sajira.

"Kami berharap semua petani di 28 kecamatan dapat mengembangkan produksi sayuran dataran rendah karena dapat mendongkrak swasembada pangan dan kesejahteraan petani," katanya.

Menurut dia, perguliran uang dari hasil penjualan produksi tanaman sayuran dari 30 ton jika harga rata-rata Rp4.000 per kg bisa mencapai Rp120 juta per hari.

Pendapatan ekonomi petani sebanyak itu tentu menyumbangkan kesejahteraan kehidupan mereka.

Dengan demikian, pemerintah daerah mendukung petani bisa tanam bergantian dalam setahun dua kali musim tanam pangan padi dan satu kali musim tanam sayuran dataran rendah.

"Kami yakin Lebak ke depan bisa sentra produksi sayuran dataran rendah, karena didukung lahan luas," kata Deni.

Yana (55) seorang petani di Blok Kanaga Warunggunung Kabupaten Lebak mengatakan pihaknya kini bisa memenuhi permintaan pasar sekitar lima ton per hari dari produksi aneka sayuran dataran rendah itu, antara lain peria/pare, timun, oyong, kacang panjang.

Para tengkulak setiap sore hari mendatangi petani di Blok Kanaga Warunggunung dan sekitarnya dengan menggunakan angkutan colt untuk mengambil aneka sayuran yang sudah disiapkan petani.

Para tengkulak itu sudah menjadi langganan untuk menampung hasil aneka tanaman sayuran dataran rendah yang dikembangkan petani tersebut.

"Kami dan petani di sini mengembangkan tanaman sayuran dataran rendah, karena ada yang menampung tengkulak itu, sehingga tidak kesulitan untuk pemasaran," kata Yana.

Ia menyebutkan, saat ini, harga aneka sayuran dataran rendah rata-rata Rp4.000/ kg, dan jika produksinya mencapai lima ton maka diakumulasikan total Rp20 juta/hari.

Selama ini, produksi aneka tanaman sayuran itu bisa dipanen 15 sampai 20 kali.

"Kami mengembangkan tanaman sayuran itu cukup membantu ekonomi keluarga, juga menyerap puluhan tenaga kerja warga setempat," katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.