Ekspor Kelapa Bulat Belum Final, Kemendag Masih Matangkan Kebijakan
Kamis, 24 Apr 2025, 16:01 WIBJAKARTA - Perkembangan ekspor kelapa Indonesia saat ini menunjukkan tren yang cukup positif, meskipun ada tantangan di beberapa aspek. Volume ekspor kelapa mentah cenderung stagnan atau menurun karena lebih banyak dialihkan ke pasar domestik atau diolah terlebih dahulu sebelum diekspor.
Permintaan terhadap produk turunan kelapa seperti minyak kelapa, santan, arang tempurung, dan air kelapa meningkat, terutama dari negara-negara seperti, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Tiongkok, dan Korea Selatan.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan kebijakan terkait ekspor kelapa bulat masih dalam tahap pembahasan.
"Sedang dibahas, sedang digodok lebih lanjut," ujar Puntodewi di Jakarta, Kamis (24/4).
Puntodewi menyampaikan pembahasan mengenai kebijakan ekspor kelapa harus memperhatikan kepentingan hulu dan hilir. Oleh karena itu, menurutnya pembahasan untuk kebijakan ini akan terus bergulir.
Ia memastikan bahwa nantinya kebijakan baru ini akan memihak kepada perlindungan pasar dalam negeri, sekaligus tetap mendorong peningkatan ekspor.
"Intinya itu, kita kan pertama pengamanan pasar dalam negeri, kemudian mendorong ekspor. Jadi nanti kebijakan itu pastinya arah ke situ," kata Puntodewi.
Terkait usulan Kementerian Perindustrian untuk penerapan moratorium ekspor kelapa bulat guna menstabilkan harga kelapa dalam negeri, Puntodewi menyebut masih menunggu hasil diskusi antara pemangku kepentingan.
"Nanti dilihat saja hasilnya, karena kan kita tuh harus memperhatikan hulu hilirnya, semua harus diperhatikan. Jadi, nanti kebijakannya itu pasti yang paling sesuai lah," ucap Puntodewi.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebutkan pengusaha lebih tertarik melakukan ekspor kelapa bulat karena harganya lebih tinggi yang menyebabkan stok kelapa di dalam negeri berkurang.
Budi menyampaikan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah melakukan pertemuan dengan pelaku industri kelapa dan para eksportir untuk membahas harga kelapa yang mahal.
Berdasarkan pertemuan tersebut, didapatkan bahwa harga kelapa yang diekspor lebih mahal, sehingga lebih banyak pengusaha yang mengalihkan stoknya untuk dijual keluar negeri.
"Kan ini mahal, karena di ekspor ya. Harga ekspor memang lebih tinggi daripada harga dalam negeri. Karena semua ekspor, akhirnya jadi langka dalam negeri," kata Budi di Jakarta, Kamis (17/4).
- Kemendag
- ekspor kelapa
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat Selama Sepekan
-
BPBD Aceh Barat Padamkan Lahan Terbakar, Luas Area Terdampak 50,2 Hektare
-
Asyik, MGI Hadirkan Layanan Shuttle Premium Jakarta–Bandung dengan Konsep Hospitality dan Fasilitas Lounge
-
Semar Ndalil, Taman Pangan Edukatif Andalan Girikerto Sleman
-
Presiden Prabowo dan MBZ Perkuat Kemitraan Strategis di Istana Qasr Al Bahr
-
Negara-Negara Laut Utara Amankan Pasokan Energi Lewat Angin
-
Klasemen Liga Spanyol: Menangi El Clasico, Real Madrid Unggul Lima Poin Atas Barca
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.