Kabar Baik dari Prancis, RI Dapat Tambahan Kuota Tuna di Forum IOTC
Minggu, 20 Apr 2025, 13:20 WIBJAKARTA â Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berhasil menambah kuota tangkapan tiga jenis tuna untuk Indonesia pada Sidang Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) di La Reunion, Perancis.
Keberhasilan tersebut merupakan bagian dari upaya KKP dalam memperjuangkan kepentingan nasional pada forum IOTC dan rangkaian pertemuan teknis pendukung lainnya.
"Kita berhasil mengawal berbagai isu strategis mulai dari peningkatan kuota tangkapan tuna, penggunaan observer, perlindungan awak kapal perikanan, hingga penguatan kerja sama negara pantai (Coastal States Alliance/CSA),â kat Delegasi Republik Indonesia yang dipimpin Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya Trian Yunanda dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (19/4).
Melalui sidang IOTC yang dilaksanakan di Prancis pada 7-17 April 2025 KKP berhasil menambah kuota penangkapan ikan big eye tuna naik 2.791 ton, menjadi 21.396 ton untuk periode 2026â2028 dan kuota skipjack tuna (cakalang) ditetapkan menjadi 138 ribu ton.
Sedangkan penyesuaian kuota yellowfin tuna telah disepakati menjadi 45.426 ton untuk tahun 2025.
Indonesia juga berhasil mendorong pengecualian penggunaan observer nasional dalam kegiatan alih muatan oleh kapal rawai tuna.
Menurut Trian, hal itu merupakan wujud nyata diplomasi perikanan yang adaptif dan solutif, termasuk 14 proposal penting yang berhasil diadopsi diantaranya Proposal B oleh Indonesia terkait transhipment (alih muatan), serta proposal-proposal lain yang relevan seperti konservasi hiu, dan sistem pemantauan kapal (VMS).
"Dalam forum IOTC kali ini, negara-negara anggota CSA seperti Indonesia, Maladewa, Afrika Selatan, Pakistan, dan Sri Lanka menunjukkan peran signifikan dalam mengawal kepentingan negara pantai," jelasnya.
Konsolidasi posisi bersama terbukti mampu memperkuat suara negara-negara berkembang dalam pengambilan keputusan. Indonesia mendukung penuh inisiatif formalisasi Coastal States Alliance sebagai platform diplomasi kolektif di kawasan Samudera Hindia.
Delegasi Indonesia juga merekomendasikan pelibatan industri perikanan dalam program observer nasional, serta peningkatan kapasitas melalui kerja sama dengan konsorsium ROP IOTC untuk pelatihan dan review laporan.
Pemerintah akan terus menyempurnakan sistem pelaporan dan pemantauan sebagai bentuk komitmen terhadap kepatuhan internasional.
Pengelolaan Berkelanjutan
Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP Lotharia Latif menyampaikan forum IOTC menjadi salah satu instrumen penting dalam tata kelola perikanan tuna yang berkelanjutan di kawasan Samudera Hindia.
"Sejak awal telah disiapkan tim delegasi RI yang akan bernegosiasi di sana dan telah mendapatkan arahan dari Bapak Menteri (Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono) untuk terus memperjuangkan kepentingan perikanan Indonesia di tingkat dunia," ujarnya.
KKP akan terus memastikan bahwa kepentingan nelayan, industri, dan sumber daya perikanan nasional terlindungi dalam kerangka kerja sama internasional yang adil dan berkelanjutan.
Tambahan kuota tangkapan tuna, menurut Latif harus menjadi pendorong bagi semua pihak untuk mematuhi sistem penangkapan yang lebih berkelanjutan.
Penangkapan ikan harus terukur, demikian pula kapal dan alat tangkap wajib memenuhi standar aturan tentang cara menangkap ikan yang baik dan benar. Pelaporan yang terdata dan jelas ketelusuran serta pelaporan ikannya harus ditaati.
"Dengan demikian, kita tidak dianggap sebagai pelaku penangkapan ilegal, justru ikut menjaga ekologi dan keberlanjutan ikan di laut. Hal ini tidak akan tercapai bila semua pihak baik nelayan dan pelaku usaha tidak mendukung kebijakan pemerintah tersebut," tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem laut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi maupun kehidupan sosial masyarakat.
Trenggono mengaku telah menggagas program-program ekonomi biru guna memastikan terjaganya kepentingan ekologi tersebut.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pertama di Indonesia, Khofifah Teken MoU dengan Badan Karantina Indonesia Buka Layanan Karantina Terpadu di Pasar Induk Modern Sidoarjo
-
Banjir Lahar Gunung Merapi Surut, Operasi SAR Dilanjutkan
-
Sindrom Sjogren, Penyakit Autoimun yang Sebabkan Mata Kering
-
Solidaritas untuk Aceh: Pengembang Panas Bumi Bersatu Salurkan Bantuan bagi Korban Bencana
-
Al-Hilal Bidik Kejutan Lain Kontra Fluminense di Piala Dunia Antarklub
-
Grantes, Akibat Beban Hidup, Ibu Menggantung Diri, Dua Anak Diracun. Anggota DPR Masih Mau Menari-nari Sambil Tertawa-tawa?
-
Hapus Denda 100 Persen, Pemkab Bogor Obral Diskon Pajak hingga 31 Maret 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.