Ini Pelajaran Berharga dari Kekalahan Telak Timnas U-17 Lawan Korut

Rabu, 16 Apr 2025, 17:58 WIB

JAKARTA - Seperti mata uang yang selalu punya dua sisi berbeda, menerima kekalahan pun demikian.

Ada kekecewaan dan rasa sakit setiap kali mendapatkan kekalahan, namun di dalamnya ada pula "emas" yang tersembunyi, berupa pengalaman dan pelajaran berharga yang dapat membentuk tim menjadi lebih kuat.

Ket. Foto: Pemain timnas U-17 Indonesia berpose pada pertandingan melawan Korea Selatan U-17 dalam laga perdana Grup C Piala Asia U-17 2025 di Stadion Prince Abdullah Al Faisal, Jeddah, Arab Saudi, Jumat (4/4). — Sumber: ANTARA/HO-PSSI

Choe Song-hun (8'), Kim Yu-jin (19'), Ri Kyong-bong (48'), Kim Tae-guk (P 60'), Ri Kang-rim (61'), dan Pak Ju-won (77') bergantian membuat gawang timnas U-17 Indonesia terkoyak menjadi lumbung gol pada babak perempat final Piala Asia U-17 2025 di Stadion Kota Olahraga Raja Abdullah, Senin (14/4).

Gol-gol itu menghukum dan menyingkirkan Indonesia, yang bermain gugup dan buruk sejak sepak mula, dengan kekalahan 0-6. Kekalahan ini membuka sebuah lubang besar, bahwa kekuatan Indonesia sejatinya masih jauh dari kata bagus untuk bersaing di level dunia meski sebelumnya memiliki statistik lima kemenangan dan satu kali seri sejak babak kualifikasi.

Dari babak kualifikasi, Indonesia cuma kemasukan satu gol. Itupun melalui sepakan penalti pemain Yaman ketika kedudukan sedang dalam keunggulan 2-0. Situasi mereka tertinggal lebih dulu baru terjadi ketika melawan Korea Utara, tim tersukses kedua di Piala Asia U-17 dengan dua piala.

Situasi ini nyatanya membuat Garuda Muda bingung bagaimana caranya bangkit dari situasi tertinggal lebih dulu. Gol Choe Song-hun membuat mereka panik, sehingga menyebabkan tak bermain tenang. Koordinasi permainan pun menjadi berantakan. Chemistry romantis antara Muhammad Al Gazani, Putu Panji, dan Mathew Baker di barisan pertahanan juga tak padu pada pertandingan ini.

Saat Korea Utara menguasai bola, Mierza Firjatullah menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang menerapkan pressing di area depan untuk mengganggu distribusi bola dari bek-bek mereka. Sembilan pemain outfield lainnya memilih menunggu di area permainan sendiri.

Taktik ini dirasa sangat tidak efektif karena tekanan yang diberikan kepada bek-bek Korea Utara yang membawa bola, tidaklah cukup. Tekanan dari Mierza bagai angin lalu saja karena sangat mudah dilewati. Berbeda dengan Korea Utara, mereka terlihat berani menekan. Dua sampai tiga pemain mereka gunakan, bahkan saat bola untuk Indonesia masih berada di kiper Dafa Al Gasemi.

Di pertandingan ini, pelatih Nova Arianto juga tak menemukan formula yang tepat untuk menghentikan sirkulasi bola nyaman yang dikuasai oleh lini tengah Korea Utara yang diisi An Jin Sok, Ri Ro Gwon, Pak Kwang Song, dan Kim tae Guk.

Mental anak-anak asuh Nova mendapatkan puji-pujian selama tiga laga penyisihan grup, terutama ketika menang dramatis melawan Korea Selatan dan Afganistan. Publik menyanjung mental Garuda Muda di dua pertandingan itu seperti baja.

Namun, ketika dihadapkan lawan tangguh seperti Korea Utara, mental yang dielu-elukan itu tak menjawab ekspektasi. Padahal, sebuah tim hebat adalah tim yang tak hanya piawai menang, tetapi juga selalu tahu bagaimana caranya bangkit dari keterpurukan.

Menambah pemain berkualitas

Piala Dunia U-17 2025 akan dimulai sekitar tujuh bulan lagi di Qatar. Dari tujuh bulan itu, Indonesia U-17 wajib memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memperbaiki kualitas mereka sebelum pergelaran kejuaraan dunia yang dihelat 3-27 November tersebut berlangsung.

Setelah kekalahan setengah lusin dari Korea Utara, Nova Arianto mengambil langkah awal dalam persiapan tujuh bulan menuju Piala Dunia U-17 dengan melakukan evaluasi dari empat pertandingan yang mereka jalani di Piala Asia U-17. Beberapa aspek yang menjadi sorotan adalah pengambilan keputusan di lapangan, aspek fisik, serta skill individu pemain.

Evaluasi itu segera ia berikan kepada PSSI, sebagai dasar untuk menyusun roadmap persiapan Garuda Muda menuju Piala Dunia U-17.

“Bagaimana kami lebih mempersiapkan pemain bukan hanya secara mental, tetapi secara skill individu mereka itu juga harus kami tingkatkan. Dan harapannya pemain bisa lebih siap dan pemain harus bisa lebih bekerja keras,” tutur Nova.

Dari segi pemain, Nova bisa melihat lagi apakah pemain-pemainnya di Piala Asia U-17 masih terjaga kualitasnya di November nanti atau tidak. Yang pasti, kekalahan dari Korea Utara telah membuka celah kelemahan yang harus segera dibenahi.

Mereka harus menggembleng dirinya masing-masing di klub dari segi skill, fisik, dan mental. Sementara federasi juga bisa menyiapkan pemusatan latihan serta laga uji coba internasional dengan tim kuat atau minimal selevel. Tujuannya adalah untuk mengekspos kelemahan tim Garuda Muda. Harapannya, kelemahan yang tampak pada laga uji coba segera diperbaiki sebelum kompetisi resmi dimulai.

Nova juga bisa menambah pemain baru ke dalam skuadnya untuk bisa benar-benar bersaing dan tak hanya sekedar meramaikan pergelaran Piala Dunia U-17. Pemain baru ini bisa ia dapatkan dari kompetisi Elite Pro Academy (EPA) atau membuka seleksi terbuka, yang dulu pernah ia lakukan saat mencari bakat-bakat muda terbaik untuk usia 16 tahun pada awal 2024.

Selain dari dua cara itu, mencari pemain diaspora dengan kualitas mumpuni juga bisa menjadi opsi. Dengan kualitas tim di Piala Dunia U-17 yang semakin beragam dan tentunya lebih tangguh, penting bagi Nova untuk memiliki kualitas dan kedalaman skuad yang bagus.

Format baru, ada peluang untuk Indonesia

Mulanya, format Piala Dunia U-17 2025 yang nantinya diselenggarakan lima tahun beruntun di Qatar dimainkan dengan format mini-turnamen yang diisi 48 peserta.

Sebanyak 48 peserta itu dibagi ke empat mini-turnamen, masing-masing 12 tim, dengan setiap mini-turnamen dibagi ke dalam tiga grup yang berisi empat peserta.

Singkatnya, setiap pemenang turnamen mini dan finalis terbaik lolos ke babak final. Babak ini menentukan pemenang sejati turnamen. Format ini akan menyajikan 78 pertandingan di Piala Dunia U-17 2025.

Namun, FIFA melakukan perubahan format pada Maret 2025. Mereka mengubah format ini agar menyerupai format Piala Dunia tingkat senior tahun 2026. Bukan memakai mini-turnamen, nantinya 48 tim akan dibagi ke dalam 12 grup yang masing-masing diisi empat tim.

Babak gugur tak dimulai pada babak 16 besar seperti edisi-edisi sebelumnya saat masih memakai 24 tim. Babak gugur Piala Dunia U-17 2025 akan dimulai pada babak 32 besar, 16 besar, perempat final, semifinal, perebutan tempat ketiga, dan final. Total pertandingan yang akan digelar sebanyak 104 pertandingan.

Setiap juara dan runner-up grup akan lolos ke babak gugur. Sisanya, delapan peringkat terbaik babak grup berhak mendapatkan tiket ke babak hidup dan mati. Jumlah peringkat tiga terbaik yang lolos ini lebih banyak dua kali lipat dari edisi sebelumnya.

Di edisi 2023 yang dihelat di Indonesia, sang tuan rumah gagal lolos ke fase berikutnya karena menghuni peringkat terakhir ranking peringkat ketiga terbaik. Saat itu, Indonesia yang diasuh Bima Sakti mengoleksi dua poin, hasil imbang 1-1 kontra Ekuador dan Panama.

Indonesia bersama tiga negara lainnya, Afrika Selatan, Ceko, dan Swiss, menjadi negara yang akan memainkan partisipasi keduanya di Piala Dunia U-17. Keempat negara ini mengoleksi jumlah tampil tepat di atas lima negara debutan seperti Republik Irlandia, Fiji, El Savador, Uganda, dan Zambia.

Amerika Serikat dan Brasil menjadi negara paling sering mengikuti turnamen ini yaitu sebanyak 19 kali. Artinya, kedua negara ini hanya absen sekali di Piala Dunia U-17 yang tahun ini menggelar edisi ke-20. Sementara itu, juara bertahan Jerman akan memainkan partisipasi ke-12-nya di Piala Dunia U-17 sejak debut pada 1985.

Adapun, format baru ini jelas menguntungkan Indonesia untuk mencuri kesempatan lolos. Satu kemenangan saja di babak penyisihan akan sangat penting membawa Garuda Muda berpeluang lolos melalui jalur peringkat tiga terbaik.

Yang terpenting adalah memaksimalkan persiapan selama kurang lebih tujuh bulan mendatang. Dengan format yang membuka lebih banyak slot ke fase gugur, peluang Indonesia untuk mencetak sejarah baru terbuka lebih lebar.

Garuda Muda tak perlu terbebani target tinggi. Mereka cukup mengingat bahwa selama di Piala Asia U-17 2025, mereka pernah tampil sangat menjanjikan, dengan pertahanan lapis baja dan serangan cepat yang begitu efektif.

Anggap saja kekalahan 0-6 dari Korea Utara di babak perempat final Piala Asia U-17 sebagai pelajaran berharga, yang sama sekali tak perlu dibawa ke hati dan merusak mimpi. Ambil pengalaman di Piala Asia U-17 sebanyak-banyaknya sebagai bekal menatap Piala Dunia U-17 lebih kuat dan lebih matang.

Masyarakat Indonesia tak perlu menghakimi dan mencaci maki anak-anak muda itu setelah kekalahan kemarin. Inkonsistensi di level muda di bawah 20 tahun adalah hal wajar.

Bagaimanapun juga, mereka adalah anak-anak 16-17 tahun yang sudah membuat Indonesia bangga. 

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Alfred, Antara

Berita Terbaru

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

613 PKL Kramat Jati Bakal Dipindahkan, Ini 4 Lokasi yang Disiapkan Pasar Jaya

Coco Gauff Juara Cincinnati Open 2026! Tampil Perkasa dan Ukir Prestasi Gemilang

Pedagang Ikan Pasar Kramat Jati Bakal Direlokasi, Ini Persiapannya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.