Balai Pelestarian Kebudayaan Pelihara Situs Batu Pahat di Bima

Minggu, 15 Jun 2025, 22:08 WIB

BIMA – Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali Nusa Tenggara merampungkan kegiatan pemeliharaan situs batu pahat yang familier dikenal Candi Tebing Wadu Pa’adi Desa Kananta, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Kegiatan itu berlangsung selama empat hari mulai 11 Juni–14 Juni 2025, sebagai tindak lanjut dari hasil studi konservasi yang telah dilakukan pada April lalu," kata ketua tim konservasi itu, Ni Wayan Karolina, di Bima, Minggu (15/6).

Ket. Foto: Tim konservasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Bali Nusra melakukan pemeliharaan pada situs bersejarah Candi Tebing Wadu Pa’a atau batu pahat di Desa Kananta, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). — Sumber: ANTARA

Ia mengatakan pemeliharaan situs bertujuan menghambat gejala kerusakan dan pelapukan yang terjadi akibat faktor internal maupun eksternal, serta menjaga kondisi fisik situs agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Dengan kondisi fisik yang terawat, katanya, cagar budaya batu pahat bisa bertahan lebih lama dan bisa diwariskan ke generasi mendatang. Situs batu pahat dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengembangan pariwisata.

Balai Pelestarian Kebudayaan melakukan empat tahapan konservasi dimulai dengan pembersihan mekanis kering untuk menghilangkan debu dan kotoran dari permukaan relief, pembersihan tradisional menggunakan minyak emulsi serei wangi yang disemprotkan secara hati-hati.

Selanjutnya, pembersihan mekanis basah guna mengangkat sisa lumut dan debu pasca-penyemprotan dan terakhir tahap konsolidasi, yakni penguatan material tanah dan batu yang mulai rapuh agar lebih kokoh dan tidak mudah rusak.

Pada April lalu, timnya sudah melakukan pendataan keterawatan relief, pengumpulan data lingkungan sekitar situs, serta dokumentasi kondisi terkini yang menjadi dasar perencanaan tindakan konservasi.

"Hasilnya tim menemukan adanya kerusakan pada relief batu yang disebabkan oleh pelapukan biologis seperti tumbuhnya lumut dan jamur, serta pelapukan fisik akibat cuaca dan perubahan suhu," ucapnya.

Karolina menekankan pentingnya pelestarian situs bersejarah mengingat Wadu Pa’a adalah salah satu situs penting di Bima yang memiliki nilai historis tinggi.

"Kami berupaya menjaga agar relief yang ada tidak semakin rusak oleh faktor alam. Setiap tahapan dilakukan secara hati-hati dan sesuai standar konservasi nasional,” ujarnya.

Balai Pelestarian Kebudayaan menyatakan partisipasi masyarakat sekitar sebagai penting dalam menjaga kelestarian situs. Tim konservasi yang bertugas melalukan pemeliharaan berjumlah empat orang, yakni Ni Wayan Karolina, Dewa Made Suastika, I Nyoman Sumertha, dan I Wayan Gede Juliana.

Situs Wadu Pa'a memiliki beberapa bentuk pahatan relief agama Hindu-Buddha, seperti Dewa Ganesha, Sang Buddha, Chattra, Lingga, hingga Siwa Mahaguru. Setiap pahatan relief menandakan bahwa Wadu Pa'a dahulu menjadi lokasi untuk pemujaan Hindu bercampur dengan Buddha yang diperkirakan ada pada abad ke-11 Masehi.

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.