Bukan Lagi sebagai Pelengkap, Pariwisata Akan Jadi Senjata Baru Ekonomi Semarang

Minggu, 13 Apr 2025, 17:07 WIB

SEMARANG - Pariwisata bukan hanya soal keindahan alam atau budaya, tapi juga alat strategis untuk pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Karena itu, daerah harus serius mengelola dan mempromosikan potensi wisatanya.

Pariwisata bisa menjadi penyumbang utama PAD (Pendapatan Asli Daerah) melalui pajak, retribusi, dan aktivitas ekonomi turunan lainnya (akomodasi, kuliner, dan transportasi). Industri pariwisata menyerap banyak tenaga kerja, baik langsung (pemandu wisata, hotel, restoran) maupun tidak langsung (UMKM, pengrajin, dan petani lokal).

Ket. Foto: Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti saat menghadiri kegiatan Kirab Sesaji Rewanda. — Sumber: ANTARA/HO-Pemkot Semarang

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengusulkan adanya musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) khusus pariwisata sebagai salah satu upaya pengembangan sektor pariwisata secara lebih komprehensif.

"Kalau ada musrenbang pembangunan kenapa tidak kita buat musrenbang untuk pariwisata. Nanti kami agendakan rapat kerja dengan kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan desa wisata untuk menentukan agenda yang ada di Kota Semarang," katanya, di Semarang, Minggu (13/4).

Menurut dia, musrenbang pariwisata juga menjadi upaya agar pengembangan desa-desa wisata dapat dirancang secara khusus dan partisipatif

Ia mengatakan, perlu adanya sebuah rapat kerja antara Pemerintah Kota Semarang dengan kepala desa wisata dan ketua pokdarwis untuk menentukan agenda apa saja yang akan dilakukan di tahun 2026, khususnya di bidang pariwisata.

Semarang, kata dia, memiliki potensi yang sangat luar biasa sebagai kota pariwisata, misalnya di Goa Kreo, Gunungpati yang memiliki tradisi unik bernama Kirab Sesaji Rewanda.

"Goa Kreo ini adalah permata yang terpendam. Jika kita mengasah, ini akan berkilau dan menjadi sesuatu yang akan dilirik. Kita sebenarnya sudah bersiap, sudah ada tempat terbuka (amfiteater) dan pernah ada orkestra," katanya.

Namun, ia menyoroti perlunya peningkatan akses jalan masuk menuju Goa Kreo sehingga dia menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Disperkim untuk memperhatikan dan segera menindaklanjuti.

"Nanti kami perbesar jembatan dan tingkatkan akses jalan masuk supaya amfiteater juga dilirik. Karena kalau berdiri sendiri tanpa penunjang fasilitas tentu akan mempersulit teman-teman seniman yang akan menggunakan," katanya.

Kirab Sesaji Rewanda merupakan agenda tahunan yang menjadi ruang refleksi untuk mengingat pentingnya harmoni antara manusia dan alam, termasuk monyet yang selama ini menghuni kawasan Goa Kreo.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa kegiatan budaya tahunan, termasuk Sesaji Rewanda bukan sekadar tontonan, melainkan wujud syukur, pelestarian sejarah, dan pengingat tentang hubungan manusia dengan lingkungan.

Agustina juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Semarang untuk terus merawat warisan budaya tersebut dengan mengemas menjadi lebih meriah, serta melibatkan lebih banyak kelompok sadar wisata dan masyarakat sekitar.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.