• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Senyawa Anti Penuaan Baru ...

Senyawa Anti Penuaan Baru Dapat Obati Alzheimer

Kamis, 10 Apr 2025, 06:01 WIB

Penyakit Alzheimer yang merupakan bagian dari penyakit demensia, adalah penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat. Hal ini berdampak pada juga pada penurunan kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku.

Penyakit yang termasuk salah satu jenis penyakit degeneratif ini bisa memburuk seiring waktu sehingga membuat penderitanya tidak mampu lagi melakukan pekerjaan sehari-hari. Pada tahap awal, penderitanya akan mengalami gangguan daya ingat bersifat ringan, seperti tidak mengingat nama benda, percakapan, atau peristiwa yang belum lama terjadi.

Ket. Foto: — Sumber: AFP/ Viken KANTARCI

Seiring waktu, penyakit Alzheimer bisa bertambah parah. Penderita kondisi ini bisa mengalami linglung atau cemas, serta selalu curiga terhadap orang lain. Mereka yang mengalami penyakit ini umumnya elah berusia di atas 60 tahun.

Penyakit Alzheimer terjadi akibat penumpukan protein abnormal yang mengganggu kinerja sel-sel saraf di otak. Dalam jangka panjang, otak akan kehilangan berbagai fungsi, seperti mengontrol pikiran, memori, dan bahasa.Penelitian juga menunjukkan bahwa penyakit Alzheimer dipicu oleh berbagai faktor, seperti genetik, pola hidup, dan lingkungan.

Peneliti Universitas Dalhousie menemukan bahwa senolitik dapat secara selektif menargetkan enzim berbahaya pada Alzheimer, yang menawarkan potensi untuk pengobatan yang lebih efektif.Senyawa ini membantu membersihkan sel-sel yang rusak atau “zombie” yang terbentuk seiring bertambahnya usia dan berkontribusi terhadap peradangan dan disfungsi jaringan.

Menurut penulis, penelitian ini membuka kemungkinan baru untuk mengembangkan generasi berikutnya dari penghambat ChE yang secara khusus menargetkan AChE dan BChE yang terkait dengan patologi penyakit Alzheimer.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Aging, tim peneliti dari Universitas Dalhousie, yang dipimpin oleh Sultan Darvesh, menemukan bahwa senyawa anti penuaan tertentu, yang dikenal sebagai senolitik, dapat memblokir enzim otak berbahaya yang terkait dengan penyakit Alzheimer (AD) tanpa memengaruhi yang sehat.

Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana kerusakan terkait AD dapat ditargetkan secara tepat, yang membuka jalan bagi pengobatan yang lebih aman yang melindungi memori dan kesehatan otak pada orang dewasa yang lebih tua. Penyakit Alzheimer adalah salah satu penyebab paling umum dari hilangnya memori dan demensia.

Ciri khas penyakit ini adalah penumpukan gumpalan protein lengket di otak, yang dikenal sebagai plak amiloid-beta. Dua enzim asetilkolinesterase (AChE) dan butirilkolinesterase (BChE) ditemukan di dekat plak ini.

Meskipun enzim ini memainkan peran penting dalam fungsi otak, enzim ini juga dapat berkontribusi terhadap perkembangan AD saat menempel pada plak. Obat yang menargetkan enzim ini sudah digunakan untuk membantu daya ingat, tetapi obat ini sering kali memblokir bentuk yang berbahaya dan sehat, yang dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

Menguji Senyawa untuk Selektivitas

Untuk menyelidiki solusi yang lebih baik, para peneliti menguji enam senyawa yang dikenal karena sifat anti-penuaan atau peningkat kinerja otaknya. Mereka ingin mengetahui apakah senyawa ini hanya dapat memblokir bentuk enzim AChE dan BChE yang berbahaya yang terkait dengan penyakit Alzheimer.

Dengan menggunakan sampel jaringan otak dari pasien AD dan uji aktivitas enzim, mereka menemukan bahwa senyawa seperti dasatinib dan nintedanib, keduanya senolitik, mampu memblokir bentuk AChE dan BChE yang terkait dengan plak amiloid-beta. Namun, senyawa ini tidak memengaruhi enzim otak normal.

“Kami menunjukkan bahwa senolitik dan nootropik terpilih menghambat ChE yang terkait dengan plak tetapi tidak enzim yang terkait dengan elemen saraf normal,” ucapnya.

Pendekatan selektif ini dapat meningkatkan daya ingat, mengurangi peradangan, dan menghindari efek samping dari pengobatan AD saat ini. Singkatnya, penelitian ini membuka kemungkinan baru untuk mengobati penyakit Alzheimer dengan cara yang lebih terarah.

Penelitian ini juga menyoroti bagaimana penemuan dalam penuaan dan kesehatan otak dapat bekerja sama untuk menciptakan terapi yang lebih baik untuk penyakit neurodegeneratif. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

Krisis Air Bersih di Natuna! Pemkab Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kekeringan Meteorologis, BMKG Ingatkan Seluruh Wilayah Jateng untuk Siaga

Curanmor Merajalela! Polda Banten Bongkar Sindikat yang Beraksi di 14 Lokasi

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.