• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Perpecahannya Disertai den...

Perpecahannya Disertai dengan Curahan Magma yang Sangat Besar

Selasa, 08 Apr 2025, 06:16 WIB

Sekitar 138 juta tahun yang lalu terjadi perpecahan antara benua yang sekarang disebut Amerika Selatan dan Afrika. Perpecahan keduanya merupakan hasil dari pergerakan lempeng tektonik, yaitu pergeseran sebagian besar litosfer Bumi (kulit terluar planet) di atas lapisan yang lebih cair di bawahnya yang disebut astenosfer. Proses ini telah terjadi selama jutaan tahun.

Sebelumnya Afrika dan Amerika Selatan berada dalam satu benua yaitu Superbenua Pangea, sekitar 300 juta tahun yang lalu. Daratan besar ini mencakup sebagian besar benua Bumi, termasuk apa yang sekarang kita kenal sebagai Amerika Selatan dan Afrika.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Sekitar 200 juta tahun yang lalu, selama Era Mesozoikum, Pangea mulai terpecah karena pergerakan lempeng tektonik. Litosfer Bumi terbagi menjadi beberapa lempeng tektonik besar dan kecil yang mengapung di mantel semi-cair di bawahnya. Proses keretakan (ketika kerak bumi terpisah) mulai membentuk lembah keretakan antara daratan yang akan menjadi Afrika dan Amerika Selatan.

Saat lempeng terus terpisah, celah antara daratan melebar, dan air laut mulai membanjiri. Hal ini menyebabkan terbentuknya Samudra Atlantik. Seiring waktu, benua terus menjauh, dan lautan menjadi lebih luas, memisahkan Amerika Selatan dan Afrika menjadi daratan yang berbeda.

Hingga saat ini lempeng-lempeng itu masih bergerak hingga saat ini. Amerika Selatan bergerak ke arah barat, sementara Afrika bergerak ke arah timur. Inilah sebabnya mengapa kedua benua masih tampak "cocok" seperti potongan-potongan puzzle, terutama di sepanjang garis pantai, yang menunjukkan bahwa mereka pernah menjadi bagian dari daratan yang lebih besar.

Curahan Magma

Menurut penelitian terbaru, dalam proses pemisahan antara Afrika dan Amerika Selatan terjadi curahan magma yang sangat besar yang terjadi pada 135 juta tahun yang lalu. Peristiwa perpecahan itu disebut sangat panas.

Pecahnya benua tersebut memuntahkan lebih dari 3,8 juta mil kubik (16 juta kilometer kubik) magma yang masih bertahan sebagai batuan vulkanik di Amerika Selatan, di Afrika, dan di dasar laut Samudra Atlantik. Di beberapa tempat di Namibia dan Angola, lapisan batuan vulkanik ini memiliki ketebalan hingga 0,6 mil (1 kilometer).

Penelitian baru yang menggabungkan berbagai sumber data yang dikumpulkan sebelumnya dari Amerika Selatan, Afrika, dan dasar laut menemukan bahwa letusan magma utama terjadi antara 135 juta dan 131 juta tahun yang lalu, dengan puncaknya sekitar 134,5 juta tahun yang lalu.

Pemahaman yang lebih baik tentang waktu letusan ini dapat memberi para peneliti gambaran yang lebih baik tentang apa yang memicu perpecahan tersebut serta dampaknya terhadap iklim.

"Kita mengalami beberapa kepunahan dan juga beberapa gangguan pada iklim" sekitar 134,5 juta tahun lalu,” kata penulis utama studi Mohamed Mansour Abdelmalak, seorang ahli geologi dan geofisika di Universitas Oslo di Norwegia.

Dengan mengetahui usia magma yang tepat membantu menghubungkan letusan dengan peristiwa ini. Penelitian baru ini juga menemukan bukti adanya "anomali termal" di bawah apa yang saat itu merupakan Pangea selatan, benua super yang mulai terpecah 200 juta tahun lalu menjadi benua-benua yang ada saat ini.

Perpecahan benua-benua itu berlangsung sangat lambat, dengan Amerika Selatan dan Afrika terpecah 135 juta tahun lalu. Sementara Amerika Utara tidak menyelesaikan perpecahannya dengan Eropa hingga 55 juta tahun lalu.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perpecahan Pangea selatan terjadi, sebagian, karena apa yang dikenal sebagai gumpalan mantel kolom batuan super panas yang naik dari lapisan tengah Bumi, mantel. Gumpalan ini mencair dan menipiskan kerak benua dari bawah.

Penelitian baru mengisyaratkan bahwa anomali termal yang membantu memisahkan Amerika Selatan dan Afrika mungkin disebabkan oleh gumpalan mantel itu, kata Abdelmalak kepada Live Science, tetapi hipotesisnya masih kontroversial.

"Kami tidak memiliki banyak sampel, jadi kami tidak tahu persis apakah vulkanisme ini terkait dengan gumpalan mantel," katanya.

Ia mengatakan, sampel sangat dibutuhkan dari batuan yang sekarang berada di bawah laut dalam di lepas pantai Argentina dan Uruguay, tempat pengeboran laut dalam yang dilakukan sangat sedikit, katanya. Namun, ada contoh modern dari gumpalan mantel yang menyebabkan keluarnya magma di Islandia.

Di Islandia, Punggungan Atlantik Tengah yang masih terpisah dengan kecepatan 0,8 hingga 2 inci (2 hingga 5 centimeter) per tahun berada di daratan. Daratan ini telah terbentuk oleh titik panas Islandia, yang menurut penelitian didorong oleh gumpalan yang mencapai jauh ke dalam mantel.

“Sampel batuan dalam tambahan dari Afrika dan laut dalam dapat membantu peneliti memahami seberapa banyak magma meletus selama perpecahan antara Afrika dan Amerika Selatan dan bagaimana letusan tersebut memengaruhi iklim,” kata Abdelmalak.

Pada sebagian besar letusan besar, iklim menghangat karena gunung berapi memuntahkan sejumlah besar gas rumah kaca. Namun, ada periode pendinginan 134 juta tahun yang lalu, yang mungkin terjadi karena magma yang meletus hancur, atau mengalami pelapukan, dengan cepat. Dalam pelapukan, batuan hancur dan bereaksi secara kimiawi dengan udara, menarik karbon dioksida keluar dari atmosfer. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.