Samuel Wattimena: Jangan Kerdilkan Kesenian
Minggu, 23 Mar 2025, 15:31 WIBSEMARANG - Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Samuel Wattimena, mengingatkan jangan sampai kesenian maupun kebudayaan dikerdilkan dengan faktor ekonomi semata, yakni urusan duit.
"Jangan selalu mengaitkan kebudayaan atau seni ini dengan ekonomi," kata dia usai bertemu dengan sejumlah kalangan seniman kontemporer di Galeri Semarang, Minggu (23/3).
Memang, katanya, ada sektor ekonomi kreatif, tetapi jangan kemudian mengerdilkan kesenian, apalagi kebudayaan dengan aspek ekonomi.
"Bahwasanya ada ekonomi kreatif ini kemudian mengembangkan kesenian itu sendiri. Tapi, kesenian adalah kesenian, apalagi kebudayaan. Jadi, jangan dikerdilkan dengan dia jadi duit enggak, dia berapa harganya?" kata dia.
Menurut dia, kesenian maupun secara luas kebudayaan harus menjadi inspirasi dalam berbagai sektor kehidupan, apalagi seiring dengan perubahan yang terus menerus terjadi.
"Nah, ini yang menurut saya pemerintah harus berperan serta. Ya, jangan otoriter, jangan lakukan penindasan, karena kebudayaan ini harus bergerak. Yang akhirnya akan membentuk kutub-kutubnya sendiri," kata perancang busana itu.
Dalam pertemuan itu, Samuel melihat bahwa seni sebagai bagian yang memberikan semangat kehidupan dari berbagai beban yang dihadapi sehari-hari.
"Kita, orang-orang yang di bidang seni ini bisa menyumbangkan sesuatu dalam hal spirit. Pak Chris (pemilik Galeri Semarang, red.) bercerita jangan mengecilkan masalah kebudayaan ini hanya soal seni. Karena, kebudayaan ini jauh lebih luas," kata dia
Pemilik Galeri Semarang Chris Dharmawan menyampaikan bahwa kebudayaan adalah satu manifestasi dari daya pikir manusia yang diwujudkan dalam ide dan tindakan, termasuk karya-karya seni.
"Jadi, banyak faktor kebudayaan yang terlupakan, misalnya ngomong soal agama, soal politik, kemudian soal cara hidup pakaian, bahasa, makanan, kemudian arsitektur, seni. Nah itu semua adalah bagian dari kebudayaan," kata dia.
Sementara itu, seniman kontemporer, Rudy Murdock mengatakan bahwa seni harus menginspirasi banyak hal, sebagaimana falsafah yang dipegangnya, yakni no art, no future.
"Seni itu harus menginspirasi. Artinya, menginspirasi banyak hal, untuk membuat perubahan. Tentu saja berubah dari yang buruk menjadi yang lebih baik. Itu harapan ke depannya, memang harus, negara ini harus menjadi lebih baik," kata dia. Ant/I-1
- kebudayaan
- Kesenian
- Samuel Wattimena
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bukan Sekadar Dipindah, Badung Gunakan Teknologi RDF Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Industri
-
Petugas Mencermati WNA Asal Tiongkok, 4 Ditangkap sebagai Sindikat Penipuan Daring
-
Portugal Ditahan Imbang Kongo 1-1, Cristiano Ronaldo Gagal Bawa Selecao Menang
-
Pariwisata Bali Lesu, Konstruksi Ikut Tertahan, Kok Bisa?
-
Semarak Pembukaan Festival Semarapura di Klungkung Bali
-
Kawasan Teluk Bergejolak: Drone Iran Sasar Kapal Tanker Kuwait
-
Pertamina Pastikan Stok BBM di Jember Aman untuk Kebutuhan Masyarakat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.