Ingebrigtsen Menangi Lari 3.000m, Jaga Peluang Raih Dua Gelar di Kejuaraan Dunia Indoor

Minggu, 23 Mar 2025, 09:00 WIB

NANJING - Pelari Norwegia, Jakob Ingebrigtsen, menunjukkan sprint akhir yang luar biasa untuk memenangkan nomor 3.000 meter di Kejuaraan Dunia Atletik Indoor di Nanjing, Tiongkok, Sabtu (22/3) waktu setempat. Kemenangan ini menjaga peluangnya untuk meraih dua medali emas tetap terbuka.

Ingebrigtsen mencatat waktu 7 menit 46,09 detik dalam balapan yang menegangkan di Cube, Nanjing.

Ket. Foto: Pelari Norwegia, Jakob Ingebrigtsen, menunjukkan sprint akhir yang luar biasa untuk memenangkan nomor 3.000 meter di Kejuaraan Dunia Atletik Indoor di Nanjing, Tiongkok, Sabtu (22/3) — Sumber: AFP

Atlet Ethiopia, Berihu Aregawi—peraih medali perak 10.000 meter di Olimpiade Paris tahun lalu—harus puas dengan perak setelah finis hanya 0,16 detik di belakang Ingebrigtsen dengan waktu 7:46,25. Sementara itu, atlet Australia, Ky Robinson, meraih perunggu dengan catatan 7:47,09.

Kini, Ingebrigtsen akan mengalihkan fokusnya ke nomor favoritnya, 1.500 meter, yangdigelar pada hari Minggu. Dia berambisi meniru legenda Ethiopia, Haile Gebrselassie, yang sukses meraih dua emas di nomor 1.500m dan 3.000m pada Kejuaraan Dunia Indoor di Maebashi, Jepang, tahun 1999.

“Saya tidak terlalu menikmati pemanasan di 1.500 meter, tapi balapannya selalu menyenangkan. Itulah yang akan saya lakukan, bersenang-senang,” ujar Ingebrigtsen.

Juara Olimpiade dua kali dan juara dunia dua kali di nomor 5.000 meter ini datang ke kejuaraan dengan modal kemenangan ganda di 1.500m dan 3.000m pada Kejuaraan Eropa Indoor di Apeldoorn.

Namun, yang mengejutkan, gelar juara dunia indoor masih belum dia miliki hingga akhirnyatampil dominan di lintasan dan mengunci kemenangan di detik-detik terakhir.

Pada penampilan terakhirnya di Kejuaraan Dunia Indoor, Ingebrigtsen harus puas dengan medali perak setelah kalah dari pelari Ethiopia, Samuel Tefera, di nomor 1.500m pada ajang di Beograd tahun 2022. Dia juga absen di Glasgow tahun lalu akibat cedera tumit Achilles.

“Memenangkan medali dunia selalu terasa spesial, apalagi jika itu adalah medali yang belum pernah saya raih sebelumnya," ujar Ingebrigtsen.

Saya mungkin ingin mengambil posisi depan lebih awal, tapi pada titik tertentu, ini semua tentang menjaga ritme dan merasa nyaman. Saya merasa kuat di akhir lomba dan secara umum, saya punya sprint akhir yang lebih baik dibanding pesaing saya. Itu bukan balapan yang mudah, tapi saya yakin bisa melakukan serangan di 100 meter terakhir dan menang—dan pada akhirnya, itulah tujuan utama,” sambungnya.

Sesuai dengan gayanya, Ingebrigtsen memilih untuk tetap di bagian belakang dari 14 peserta saat pelari Jerman, Sam Parsons, mengambil alih pimpinan, memisahkan kelompok menjadi satu barisan panjang.

Namun, dia tak bertahan lama di posisi belakang. Perlahan, Ingebrigtsen mulai naik ke barisan depan dengan 11 lap tersisa. Saat sudah di posisi terdepan, dia sempat membiarkan duo Ethiopia, Biniam Mehary dan Getnet Wale, memimpin.

Dengan tujuh lap tersisa, pelari Irlandia Andrew Coscoran mengambil alih posisi terdepan, sementara Ingebrigtsen tetap tenang di posisi keempat. Cornelius Kemboi dari Kenya kemudian melesat ke depan, dan tiba-tiba Ingebrigtsen terjebak di posisi keenam tanpa banyak ruang untuk bermanuver.

Namun, dengan 600 meter tersisa, dia mulai bergerak. Ia melebar untuk mendapatkan jalur bersih dan menempel ketat di belakang Aregawi. Saat bel berbunyi, menandakan 200 meter terakhir, kedua pelari beradu sprint menuju garis finis.

Aregawi tampak memiliki keunggulan, tetapi Ingebrigtsen tetap sabar di belakangnya. Di trek lurus terakhir,pelari asal Norwegia melancarkan serangan yang tepat waktu untuk mengunci gelar juara dunia indoor pertamanya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.