Psikolog: Tawuran Remaja Karena Kurang Kegiatan yang ciptakan Momen Kreatif
Selasa, 11 Mar 2025, 20:38 WIBJAKARTA - Psikolog dan dosen Universitas Gadjah Mada Novi Poespita Chandra mengatakan remaja terlibat dalam tawuran yang kerap ada saat bulan Ramadhan karena kurangnya kegiatan bermakna dan kesempatan waktu berkumpul lebih banyak.
âMisalnya mereka habis tarawih sampai menjelang sahur gitu, mereka karena mungkin tidak mengisi kegiatannya dengan kegiatan-kegiatan yang meaningful, maka mereka di situ ada ide nih, ada kesempatan mereka untuk melakukan kegiatan yang 'meaningful' buat mereka yaitu salah satunya tawuran,â kata Novi ketika dihubungi ANTARA, Selasa.
Ia mengatakan, tawuran merupakan suatu pelampiasan yang dilakukan remaja karena kurangnya kegiatan yang bermakna pada keseharian mereka. Remaja seringkali hanya melakukan rutinitas yang sama setiap hari seperti mengerjakan tugas di sekolah, sehingga kurang ada kegiatan yang memantik rasa empati.
Hal ini menyebabkan adanya perasaan bosan dan kelelahan kronis karena menjalani rutinitas yang sama sehingga menyebabkan munculnya kecemasan yang dikeluarkan otak amigdala, yang membuat remaja bersikap agresif atau mendorong melakukan kekerasan.
âPadahal manusia itu harusnya yang banyak bekerja itu adalah otak manusianya atau namanya prefrontal cortex. Tapi syaratnya otak prefrontal cortex itu bekerja, dia itu harus punya perasaan bahagia dan meaningful gitu,â ucapnya.
âNah mungkin menurut saya karena mereka kurang kegiatan-kegiatan yang membuat mereka punya meaning, akhirnya yang aktif adalah otak amigdala mereka untuk mengisi kekosongan, kebosanan, itu apa? 'Oh kita tawuran',â tambah Novi.
Novi juga menjelaskan tawuran dipilih sebagai pelampiasan kegiatan remaja karena kebutuhan ingin diakui keberadaannya dan menunjukkan bahwa mereka kuat secara psikologis yang akhirnya menjadi permasalahan yang ada pada remaja untuk mendobrak rutinitas dan kebosanan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Novi menyarankan sekolah melakukan kegiatan positif dari rutinitas yang ada misalnya yang berkaitan dengan berpuasa atau interaksi sosial misal mengunjungi desa.
Hal ini akan membuat sebuah memori baru dan kegiatan yang berbeda namun tetap memunculkan rasa empati dan kebersamaan terlebih dalam memaknai bulan puasa.
Ia juga mengatakan para remaja bisa dilibatkan dalam kegiatan festival budaya yang menghibur di kala menunggu berbuka puasa yang akan memunculkan sisi kreatif remaja. Ant
âJadi mereka energinya dipakai untuk hal positif, nah sayangnya kita tidak cukup kreatif gitu ya untuk menciptakan momen-momen yang meaningful itu di saat mereka tidak punya banyak kegiatan,â kata Novi.Â
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Nonton Final UCL di Budapest Gratis? Fans Sepak Bola Indonesia Diajak Perluas Circle
-
Jauh Di Atas Harga Normal, Aramco Peringatkan 'Bencana' Pasar Minyak Kecuali Selat Hormuz Segera Dibuka Kembali
-
Udara Makin Panas, Berapa Derajat Suhu AC yang Disarankan Saat Musim Kemarau?
-
Pemkab Karawang Mulai Laksanakan WFH ASN Setiap Jumat
-
Pemerintah Diminta Buat Peta Jalan Penyediaan Mobil Kopdes Merah Putih
-
Pemprov Jateng Jemput Warganya di Taman Mini untuk Mudik
-
Tren Atau "Flexing"? Jelang Lebaran 2026 Permintaan Sewa Ponsel iPhone Meningkat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.