Tiongkok Berjanji Tegakkan Stabilitas saat Trump Membentuk Ulang Tatanan Dunia

Jumat, 07 Mar 2025, 23:55 WIB
BEIJING – Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, pada Jumat (7/3), memaparkan negaranya sebagai kekuatan penstabil, saat Presiden Amerika Serikat,  Donald Trump mengguncang ekonomi dunia dengan tarif.
"Tiongkok membawa stabilitas yang sangat dibutuhkan ke dunia yang terus berubah dan bergejolak,” kata Wang Yi dalam jumpa pers tahunan di Beijing pada hari Jumat, dan berjanji untuk membela keadilan global dan perdamaian dunia.
Dikutip darivThe Straits Times, pernyataan pejabat senior Partai Komunis itu menyusul meningkatnya ketegangan AS-Tiongkok setelah Trump menggandakan tarif terhadap Tiongkok menjadi 20 persen minggu ini. Langkah tersebut memengaruhi impor tahunan sekitar 1,5 triliun dolar AS dan menambah perang dagang global yang lebih luas yang juga telah melanda Kanada dan Meksiko.
Trump juga sedang membentuk kembali tatanan dunia melalui perundingan dengan Rusia, yang menciptakan ketegangan dengan Eropa dan NATO
(North Atlantic Treaty Organization). Sekutu Barat khawatir Partai Republik itu berpaling dari Ukraina sambil membuat klaim ekspansionis tentang kepemilikan Greenland, mengambil kembali Terusan Panama, dan menambahkan Kanada sebagai negara bagian ke-51.
Wang berjanji untuk menegakkan hubungan dengan Rusia, yang katanya tidak akan terpengaruh oleh peristiwa eksternal apa pun.
“Persahabatan Tiongkok-Rusia tidak akan berubah,” katanya. “Persahabatan ini adalah sesuatu yang konstan di tengah dunia yang penuh gejolak, bukan variabel dalam perolehan geopolitik.”
Wang menegaskan kembali dukungan Tiongkok terhadap perundingan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina dan tidak secara langsung menjawab pertanyaan apakah Beijing akan mengirim pasukan penjaga perdamaian.
Presiden Tiongkok, Xi Jinping menegaskan kembali kemitraannya dengan Putin pada bulan Februari pada peringatan tiga tahun invasi Rusia ke Ukraina, yang menunjukkan bahwa potensi hubungan yang lebih hangat antara Moskow dengan Washington tidak akan merusak hubungan bilateral. Tiongkok secara terbuka mendukung perundingan AS-Rusia untuk mengakhiri perang, meskipun Beijing khawatir akan menjadi fokus utama Washington setelahnya.
Mengenai pertanyaan tentang hubungan Tiongkok-Eropa, Wang menegaskan kembali bahwa kedua pihak harus meningkatkan komunikasi karena ketidakpastian meningkat.
Selama bertahun-tahun, Tiongkok telah merayu Eropa sebagai penyangga dengan AS, sehingga memberikan Beijing mitra strategis. Salah satu keberhasilan diplomatik terbesar mantan Presiden Joe Biden adalah menarik Brussels menjauh dari Beijing.
Kini, tindakan Trump meninggalkan Ukraina membuat Eropa khawatir dan memberi Beijing peluang. Itu akan memberi Xi kesempatan, jika itu berarti Jerman, Prancis, dan pasar utama lainnya lebih terbuka terhadap ekspor Tiongkok, karena Beijing bersiap menghadapi tarif impor AS yang semakin tinggi.
Tiongkok sejauh ini bersikap hati-hati terhadap Trump karena ekonomi masih terbebani oleh permintaan yang lemah dan penurunan pasar perumahan. Tiongkok menanggapi tarif impor Amerika dengan tindakan yang terarah dan memberi ruang untuk perundingan, meskipun rasa frustrasi tampaknya mulai meningkat.
Menanggapi pertanyaan tentang kebijakan Trump yang mengutamakan Amerika, Wang mengatakan bahwa “negara besar” tidak boleh mengutamakan kepentingan pribadi daripada prinsip atau menindas yang lemah. 

Redaktur: Andreas Chaniago

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.