Jerman Gantikan AS Terkait Kepemimpinan di JETP

Jumat, 28 Feb 2025, 01:00 WIB

Jakarta – Langkah Jerman untuk mengambil alih peran kepemimpinan dalam Just Energy Transition Partnership (JETP) mencerminkan komitmen negara tersebut terhadap transisi energi global dan dukungannya terhadap upaya Indonesia dalam mencapai target emisi nol bersih.

Utusan Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Sujono Djojohadikusumo mengungkapkan Jerman menggantikan Amerika Serikat (AS) dalam kepemimpinan di Just Energy Transition Partnership (JETP).

Ket. Foto: Utusan Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Sujono Djojohadikusumo dalam acara Indonesia Green Energy Investment Dialogue 2025 di Jakarta, Kamis (27/2). — Sumber: ANTARA/AJI CAKTI

"Saya bertemu dengan delegasi pemerintah Jerman pada pekan lalu dan delegasi Jerman menyampaikan bahwa pemerintah Jerman memutuskan untuk menggantikan AS terkait kepemimpinan (lead member) dalam JETP," ujar Hashim di Jakarta, Kamis (27/2).

Seperti dikutip dari Antara, perubahan besar terjadi saat AS menarik diri secara resmi dari Perjanjian Iklim Paris atau Paris Agreement, dan kemudian menarik diri dari JETP. Keputusan ini sejalan dengan kebijakan Presiden Donald Trump yang menarik AS dari berbagai inisiatif iklim global.

JETP merupakan kemitraan global untuk mempercepat transisi energi yang adil. JETP bertujuan untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Sebagai informasi, Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta menyatakan bahwa Jerman mengambil alih kepemimpinan bersama International Partners Group (IPG) dalam Kemitraan Transisi Energi yang Adil (JETP) di Indonesia bersama Jepang mulai awal 2025.

Sejak peluncuran JETP pada KTT G20 Tahun 2022 di Indonesia, Jerman telah menjadi pendukung setia transisi energi Indonesia.

Dengan salah satu portofolio proyek bilateral terbesar dalam kerja sama pembangunan yang didedikasikan untuk upaya itu, Jerman memperdalam keterlibatannya dengan mengambil tanggung jawab kepemimpinan bersama, dan membantu mendorong fase berikutnya dari implementasi JETP.

Pengembangan EBT

Sementara itu, IPG, yang terdiri dari negara-negara G7, Uni Eropa, Denmark, dan Norwegia, bersama Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ) - koalisi global lembaga keuangan terkemuka - berjanji memobilisasi dana 20 miliar dollar AS (sekitar 326,1 triliun rupiah) guna mendukung tujuan JETP Indonesia.

Komitmen tersebut bertujuan untuk membatasi emisi, mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) secara signifikan, dan mencapai emisi nol bersih di sektor listrik pada 2050.

Untuk memperkuat komitmen itu, disebutkan bahwa delegasi tingkat tinggi dari Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Christine Toetzke, mengunjungi Jakarta dari 17–21 Februari.

Delegasi tersebut berinteraksi dengan pemerintah Indonesia, Co-Lead Jepang, IPG, Sekretariat JETP, dan komunitas JETP yang lebih luas untuk meninjau kemajuan dan mengidentifikasi langkah-langkah penting untuk mempercepat implementasi.

Diharapkan JETP tidak hanya membuka peluang baru untuk pertumbuhan hijau tetapi juga meletakkan dasar bagi pembangunan berkelanjutan, ketahanan ekonomi, dan kemakmuran jangka panjang bagi Indonesia.

Redaktur: Andreas Chaniago

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.