Football Institute Duga STY Gunakan “Buzzer” dari Temuan Drone Emprit
Kamis, 30 Jan 2025, 22:26 WIBJAKARTAâ Pendiri Football Institute, Budi Setiawan, menduga mantan pelatih tim nasional Indonesia, Shin Tae-yong, menggunakan buzzer atau pendengung dari temuan drone emprit di media sosial.
Football Institute menganalisis terdapat akun bot yang terorganisir untuk menyuarakan dukungan ke STY yang dipecat oleh PSSI pada 6 Januari.
"Dari riset ini membuktikan tagar #STYstay itu menggunakan buzzer. Hasil riset ini hampir sama dengan riset Football Institute yang menyebutkan ada kepentingan lain di luar sepak bola," kata Budi Setiawan dalam keterangan resmi, Kamis (30/1).
Budi mengatakan terdapat motif tertentu di balik ramainya cuitan dan dukungan STY hingga membuat iklim sepak bola di Indonesia sudah tidak sehat karena banyaknya penggiringan opini.
"Padahal sudah dijelaskan, ini soal pertimbangan (pemecatan) tapi masih ramai, itu patut dicurigai ada yang menciptakan isu (di media sosial)," kata Budi.
Football Institute menguraikan bahwa dari temuan tersebut terdapat penciptaan isu yang terjadi secara alamiah atau rekayasa dan terbukti diciptakan oleh buzzer.
Budi menilai langkah PSSI tepat karena mengakhiri kontrak STY yang seharusnya berlangsung hingga 2027.
Terlepas dari berbagai pertimbangan teknis soal kepemimpinan STY di timnas Indonesia, Budi mengatakan iklim sepak bola di Indonesia diharapkan bisa kembali sehat.
Sementara itu, Analis Medsos Drone Emprit, Slovenia Istiani, mengatakan pembicaraan media sosial terbagi tiga kategori menanggapi pemecatan STY.
Pertama kategori narasi pro Shin Tae-yong, kedua kontra Shin Tae-yong, dan ketiga narasi media dan akun info.
Slovenia menguraikan bahwa terdapat total 6.090 artikel lalu 18.156 mention, dan dibicarakan di media sosial sebanyak 14.478 mention mengenai isu pemecatan STY ini.
Slovenia menyoroti ada tagar #STYstay yang cukup masif di media sosial X. Selain dicuitkan akun organik dan publik, tagar ini dicuitkan akun bot. Drone Emprit mencurigai akun bot ini terorganisir dengan narasi yang sama.
"Ada akun yang kami tangkap polanya sama. Tidak hanya di X, tagar terorganisir ini banyak ditemukan di Instagram. Akun ini tidak bicara konteks, tapi lebih ke amplifikasi cuitan atau unggahan, dia retweet atau komen untuk menaikkan engagement," kata Slovenia.
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ini Cara Patrick Kluivert Menangkan Hati Suporter Indonesia
-
Bukan Waktunya Lagi Perempuan sebagai Penerima Manfaat, Harus Berkarya
-
Great Pacific Garbage Patch Simbol Krisis Plastik Global Terbesar di Dunia
-
STY: Saya Bangga Telah Tinggalkan Fondasi Sepak Bola di Indonesia
-
STY Ucapkan Perpisahan dan Terima Kasih untuk Timnas Indonesia
-
Frimpong Siap Siap Hadapi Tantangan Gantikan Alexander-Arnold di Liverpool
-
Ekonomi RI Diramal Meroket 5,5 Persen, Airlangga Hartarto Ungkap "Senjata Rahasia" Pemerintah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.