- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ribuan Orang Peringati Pem...
Ribuan Orang Peringati Pemberontakan Mahasiswa
Kamis, 02 Jan 2025, 02:50 WIBDHAKA - Ribuan warga Bangladesh pada Selasa (31/12) turun ke jalan untuk mengikuti pawai untuk persatuan di Ibu Kota Dhaka saat memperingati pemberontakan yang dipimpin mahasiswa lima bulan lalu yang menyebabkan tergulingnya Perdana Menteri Sheikh Hasina dan mengenang lebih dari 1.000 orang yang tewas dalam kekerasan tersebut.
Kelompok Mahasiswa Melawan Diskriminasi (SAD) yang memimpin protes, membatalkan rencana untuk menyerukan perubahan konstitusi negara tahun 1972 pada unjuk rasa tersebut, setelah pemerintah sementara mengumumkan pada Senin (30/12) bahwa mereka akan menyiapkan maklumat (proklamasi) Â terkait isu ini.
SAD mengatakan bahwa proklamasi revolusi Juli sangat penting untuk menghormati pengorbanan para pengunjuk rasa yang tewas atau terluka, dan berfungsi sebagai dokumen yang mencerminkan aspirasi rakyat. Namun beberapa analis politik telah menyatakan kekhawatiran bahwa akan ada ketidakstabilan baru jika mahasiswa mengupayakan perubahan konstitusi tanpa konsensus yang lebih luas.
Menanggapi hal itu, kantor peraih Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus, yang memimpin pemerintahan sementara di Bangladesh mengatakan akan mencari konsensus nasional mengenai deklarasi pemberontakan Juli dengan fokus pada persatuan, reformasi negara, dan tujuan pemberontakan yang lebih luas, seraya berharap agar deklarasi tersebut segera dirampungkan.
Pulihkan Stabilitas
Pada unjuk rasa hari Selasa, sejumlah kelompok mahasiswa datang dari seluruh negeri dan keluarga korban tewas dalam kerusuhan juga ikut serta dalam aksi unjuk rasa tersebut. Mereka membawa bendera nasional dan meneriakkan slogan-slogan menentang Hasina.
"Anak saya Shahriar, seorang siswa kelas sembilan, terbunuh (selama protes)," kata Abul Hasan dalam unjuk rasa tersebut. "Air mata kami tidak akan pernah berhenti, rasa sakit ini tidak akan pernah berakhir," imbuh dia.
Protes tersebut awalnya dipicu oleh penentangan terhadap kuota pegawai negeri sipil. Apa yang dimulai sebagai gerakan yang dipimpin mahasiswa, dengan cepat berubah menjadi pemberontakan yang lebih luas dan berskala nasional terhadap pemerintahan Hasina.
Kerusuhan mencapai puncaknya pada tanggal 5 Agustus, ketika kekerasan memaksa Hasina mengundurkan diri dan melarikan diri ke India, tepat sebelum pengunjuk rasa menyerbu kediaman resminya.
Tercatat lebih dari 1.000 orang tewas selama protes tersebut, menandai periode paling mematikan di negara itu sejak perang kemerdekaan tahun 1971.
Pemerintah sementara yang telah dibentuk, saat ini memiliki tugas untuk memulihkan stabilitas dan mempersiapkan pemilu. Pemimpin pemerintah sementara Yunus mengatakan pemilu di Bangladesh diperkirakan baru bisa dilaksanakan pada akhir tahun 2025 mendatang. ST/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Bazar Ramadhan Menjadi Ruang Strategis untuk Menggerakkan Ekonomi
-
Senja di Masjidil Haram: Cahaya Keemasan Menyelimuti Kota Makkah
-
Pemerintah Siap Berantas Praktik "White Label" di Industri Olahraga
-
Hujan Deras Picu Banjir, 35 RT dan 23 Ruas Jalan di Jakarta Terendam
-
Daur ulang kursi roda di Bali
-
Polda NTB Bongkar Praktik Beras Tak Sesuai Label, Satgas 2026 Turun Tangan
-
PSSI Siapkan Program Pembinaan Lanjutan Tim U-17
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.