Lubang Gravitasi Disebabkan oleh Kematian Samudra Hindia Purba?
Jumat, 29 Nov 2024, 06:10 WIBDi Samudra Hindia terdapat lubang gravitasi berupa lekuk terdalam di medan gravitasi Bumi yang menyebabkannya permukaan laut lebih rendah daripada di tempat lain di Bumi.

Foto:Â NOAA/AFP
Sebuah misteri yang ada di Samudra Hindia adalah adanya lubang gravitasi (gravity hole). Hal ini menurut para ilmuwan terjadi karena berkurang massa Bumi di tempat tersebut yang menyebabkan tarikan gravitasi lemah dan permukaan laut lebih rendah dari rata-rata.
Lalu apa penyebab gravitasi di tempat itu melemah? Teka-teki ini baru saja mulai dipecahkan oleh para ilmuwan. Menurut laporan yang dipublikasikan dalam dalam jurnal Geophysical Research Letters, lubang gravitasi Samudra Hindia adalah lokasi lekuk terdalam di medan gravitasi Bumi.
Lubang gravitasi merupakan wilayah samudra dengan bentuk menyerupai lingkaran. Tarikan gravitasi di wilayah ini dikenal yang sangat lemah, membuat permukaan air laut di sana 348 kaki atau 106 meter lebih rendah daripada di tempat lain di Bumi.
Ditemukan pada tahun 1948, asal-usul lubang gravitasi raksasa ini atau geoid low, secara teknis disebut tetap menjadi misteri hingga saat ini. Lubang tersebut membentang seluas 3,1 juta kilometer persegi dan terletak 1.200 kilometer di barat daya India.
Geoid adalah bidang ekuipotensial medan gaya berat Bumi yang berimpit dengan muka laut rata-rata global, yang digunakan sebagai bidang acuan untuk penentuan posisi vertikal atau tinggi suatu titik di permukaan Bumi.
Berbagai teori telah mencoba menjelaskan keberadaannya sejak ahli geofisika pertama kali mendeteksi keberadaannya. Penjelasan baru terkait lubang gravitasi muncul pada tahun 2023. Para peneliti menggunakan 19 model komputer untuk mensimulasikan gerakan mantel Bumi dan lempeng tektonik selama 140 juta tahun terakhir. Kemudian diungkapkan skenario yang memunculkan geoid low yang mirip dengan yang ada di kehidupan nyata.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lubang gravitasi Samudra Hindia terbentuk setelah matinya samudra purba bernama Tethys, yang berada di antara superbenua Laurasia dan Gondwana. Tethys terletak di bongkahan kerak Bumi yang bergeser di bawah lempeng Eurasia selama pecahnya Gondwana 180 juta tahun yang lalu. Saat ini terjadi, pecahan kerak yang hancur tenggelam jauh ke dalam mantel.
Sekitar 20 juta tahun yang lalu, saat pecahan-pecahan ini mendarat di wilayah paling bawah mantel, mereka memindahkan material berdensitas tinggi yang berasal dari âgumpalan Afrikaâ gelembung padat magma yang mengkristal, 100 kali lebih tinggi dari Gunung Everest, yang terperangkap di bawah Afrika.
Gumpalan magma berdensitas rendah naik untuk menggantikan material padat, mengurangi massa keseluruhan wilayah tersebut dan melemahkan gravitasinya. Para ilmuwan belum mengkonfirmasi prediksi model ini dengan data gempa bumi, yang dapat membantu memverifikasi keberadaan gumpalan berdensitas rendah di bawah lubang tersebut.
Sementara itu, para peneliti semakin menyadari bahwa magma Bumi penuh dengan gumpalan aneh, termasuk beberapa yang dianggap hilang dan muncul di tempat yang tak terduga. Bukan hanya Bumi, eksplorasi Mars juga telah mengungkap gumpalan berbagai bentuk dan ukuran yang mengintai di bawah permukaan planet tersebut.
Gumpalan Magma
Dalam laporan tersebut, para ilmuwan berhipotesis bahwa lubang di Samudra Hindia tersebut dibentuk oleh gumpalan magma yang berasal dari dalam planet. Anomali tersebut telah membingungkan para ahli geologi sejak lama.
Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Institut Sains India di Bengaluru, India, telah menemukan apa yang mereka yakini sebagai penjelasan yang kredibel disebabkan oleh gumpalan magma yang berasal dari dalam planet, seperti yang menyebabkan terbentuknya gunung berapi.
Untuk sampai pada hipotesis ini, tim tersebut menggunakan superkomputer untuk mensimulasikan bagaimana area tersebut dapat terbentuk, yang terjadi hingga 140 juta tahun yang lalu. Temuan tersebut, yang dirinci dalam sebuah studi yang diterbitkan baru-baru ini di jurnal Geophysical Research Letters, berpusat di sekitar lautan purba yang sudah tidak ada lagi.
Gumpalan magma dinilai hal wajar. Selama ini manusia terbiasa menganggap Bumi berbentuk bulat sempurna. Padahal menurut para peneliti hal itu jauh dari kebenaran. âBumi pada dasarnya adalah kentang yang menggumpal,â kata salah satu penulis studi Attreyee Ghosh, seorang ahli geofisika dan profesor madya di Pusat Ilmu Bumi di Institut Sains India, dikutip dari CNN.
âJadi secara teknis, Bumi bukanlah bola, melainkan yang kita sebut elipsoid, karena saat planet berputar, bagian tengahnya menonjol keluar. Planet kita tidak homogen dalam kepadatan dan sifat-sifatnya, dengan beberapa area lebih padat daripada yang lain hal itu memengaruhi permukaan Bumi dan gravitasinya,â papar Ghosh.
âJika Anda menuangkan air ke permukaan Bumi, level yang diambil air disebut geoid, dan itu dikendalikan oleh perbedaan kepadatan dalam material di dalam planet, karena mereka menarik permukaan dengan cara yang sangat berbeda tergantung pada seberapa banyak massa yang ada di bawahnya,â ucap dia.
âLubang gravitasi di Samudra Hindia secara resmi disebut geoid rendah Samudra Hindia adalah titik terendah dalam geoid itu dan anomali gravitasi terbesarnya, membentuk depresi melingkar yang dimulai tepat di ujung selatan India dan mencakup sekitar 3 juta kilometer persegi.
Anomali ini ditemukan oleh ahli geofisika Belanda Felix Andries Vening Meinesz pada tahun 1948, selama survei gravitasi dari sebuah kapal, dan masih menjadi misteri. âIni adalah titik terendah terbesar di geoid, dan belum dijelaskan dengan benar,â kata Ghosh.
Untuk menemukan jawaban yang mungkin, Ghosh dan rekan-rekannya sepakat menggunakan model komputer untuk memutar balik waktu 140 juta tahun untuk melihat gambaran besarnya, secara geologis. Â hay/I-1
- Lubang Gravitasi
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.