• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Gua Nek Takon, Tempat Ting...

Gua Nek Takon, Tempat Tinggal Nenek Moyang Masyarakat Sukadana

Sabtu, 26 Okt 2024, 06:25 WIB

Di Jalan Sungging, Dusun Senebing, Desa Harapan Mulia, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, terdapat sebuah gua bersejarah dengan nama Gua Nek Takon. Tempat ini menjadi destinasi wisata dengan menawarkan perpaduan sejarah asal-usul, keindahan alam, dan kekayaan budaya.

Situs Gua Nek Takon berada di barisan kaki bukit yang dahulunya disebut dengan barisan Bukit Laut. Sekarang disebut berdasarkan penamaan lokal yaitu Gunung Senebing. Jarak gua dengan Jalan Sungging lebih kurang 300 meter.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Gua Nek Takon memiliki nilai penting bagi masyarakat Kecamatan Sukadana yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Kayong Utara. Diakui oleh masyarakat tempat tersebut, situs ini merupakan bekas hunian, sekaligus cikal bakal dari nenek moyang mereka.

Berdasarkan penuturan lisan, Nek Takon dipercaya sebagai salah satu nenek moyang dari masyarakat Sukadana di masa lampau. Nek Takon terdiri dari 7 beradik, yaitu dia (Nek Takon), Tok Bubut, Nek Sedah, Nek Tanggi, Nek Letong/Utong, Nek Doyan, dan satu orang lagi tidak diketahui keberadaannya.

Keluarga Nek Takon tersebut tidak menetap secara bersamaan. Hanya Nek Takon saja yang tinggal di Senebing, Desa Harapan Mulia, Sukadana, tempat gua itu berada. Dalam penuturan lisan, hanya ia yang menetap dalam gua yang sekarang diberi nama menurut namanya.

Tok Bubut menetap di Tok Bubut Desa Sungai Mata Mata, Kecamatan Simpang Hilir. Nek Sedah dan Nek Tanggi menetap di Sedahan Jaya sekarang, Kecamatan Sukadana. Mereka berdua menetap di gua di Gunung Sedahan

Berdasarkan penuturan, Nek Takon adalah pribadi yang murah hati. Ia suka menolong masyarakat, dengan meminjamkan barang pecah belah untuk digunakan dalam hajatan, contohnya piring dan mangkok saat masyarakat memiliki hajatan masa itu.

Menurut kanal Kayong TV, jika diperhatikan dengan seksama, Gua Nek Takon yang dimaksud hanya semacam ceruk dengan lebar lebih kurang 1 meter. Kedalaman ceruk ini mencapai 12 meter. Yang menarik sebenarnya bukan gua ini, tapi lingkungan di sekitarnya.

Di luar gua tersebut terdapat semacam struktur alam yang diduga bekas peradaban manusia purba yang pernah bertempat tinggal disini. Sekitar 20 meter dari Gua Nek Takon, ke arah atas, terdapat semacam struktur alam berbentuk batu yang menyerupai hunian yang aman dari hujan dan panas.

Pada titik itu terdapat 2 lubang yang menyerupai gua. Struktur yang membentuk lubang ini dengan ukuran batu sangat besar. Di antara batu besar tersebut, ada batu dengan lebar sekitar 12 meter dan tinggi 6,50 meter.

Di atas batu besar tersebut, bertengger batu lempeng besar sehingga membentuk ruang yang unik. Ruang ini terdiri dari 2 bagian. Ruang pertama atau ruang muka, lebar bagian depan 5 meter dan lebar belakang 3 meter, dengan tinggi bagian depan 4,10 meter.

Ruang bagian kedua, dengan arah agak menanjak, lebar ruang 3 meter dan panjang 5 meter, mirip terowongan yang saling terhubung. Pada bagian bawah, terdapat 1 ruang dengan ukuran agak kecil dengan lebar sekitar 1 meter dan panjang 4 meter.

Di depan ruang ini dijumpai semacam pelataran batu, dengan ukuran panjang 4,70 meter dan lebar 7,60 meter. Pelataran itu menghadap ke arah timur, dengan pemandangan alam yang indah. Dimungkinkan bahwa ini tempat mereka berkumpul.

Di struktur alam tersebut, ada semacam pahatan-pahatan berbentuk bulat pada dinding batu. Pahatan tersebut sepertinya sengaja dibuat. Kemudian, pada bagian tertentu ada semacam upaya untuk meratakan batu tersebut untuk dibentuk sedemikian rupa.

Ada yang menyerupai tempat tidur atau tempat berteduh dari hujan maupun panas. Jika dilihat dari tata letaknya, yang berada di bukit dan gua batu, kehidupan semacam ini identik dengan gaya hidup manusia purba di masa lampau. Apalagi gua ni dekat dengan mata air.

Menariknya, situs tersebut tidak jauh dari Gua Batu Cap di Sedahan Jaya, berada di kecamatan yang sama, Sukadana. Di situs Gua Batu Cap bahkan terdapat semacam inskripsi menyerupai huruf paku berwarna merah yang belum dapat dibaca oleh para ahli. Dari temuan tersebut, kemungkinan Gua Nek Takon dan Gua Batu Cap berada dalam satu zaman. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Libur Panjang Bikin Stasiun Jakarta Padat, 38.842 Penumpang Berangkat Naik Kereta

Bupati Sintang Imbau Warga untuk Peduli dan Hentikan Bakar Hutan dan Lahan

Kerajinan Badui Banjir Pesanan di Bazar Harkop Harnas, UMKM Lokal Raup Omzet

Senangnya! Cerita Komik "Oki dan Nirmala dari Negeri Dongeng" akan Diangkat ke Layar Lebar!

'Perang Dagang' AS vs Kanada, PM Carney Umumkan Tarif Balasan untuk Produk-produk Amerika

Durian Melimpah di Lebak, Pedagang Raup Omzet hingga Rp50 Juta Sehari

Kampung Adat Sade Terbakar, Kemenpar Siapkan Dapur Umum dan Pemulihan Wisata

Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman

Karhutla Makin Mengancam, Kemenhub Fasilitasi Pesawat Asing untuk Perkuat Penanganan

Aturan Baru Florida Bikin Geger! Ngebut Ditilang, Berkendara Lambat Juga Kena

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

Krisis Air Bersih di Natuna! Pemkab Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kekeringan Meteorologis, BMKG Ingatkan Seluruh Wilayah Jateng untuk Siaga

Curanmor Merajalela! Polda Banten Bongkar Sindikat yang Beraksi di 14 Lokasi

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.