Pemerintah Harus Mengganti Kerugian Petani akibat Serangan Hama

Rabu, 04 Sep 2024, 00:00 WIB

NGAWI - Hama tikus sawah yang cepat berkembang biak serta memiliki daya rusak yang cukup tinggi menempatkannya sebagai ancaman pada setiap pertanaman. Kerusakan tanaman karena mereka menyerang tanaman sejak di pertanaman hingga menjelang panen.

Oleh sebab itu, upaya pengendalian untuk menekan populasi tikus harus dilakukan terus-menerus mulai dari saat pratanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu. Peran serta dan kerja sama masyarakat/kelompok tani, penentu kebijakan dan tokoh masyarakat juga diperlukan selama proses pengendalian hama tikus.

Ket. Foto: Kepala Dusun Kaliwangon, Desa Dero, Kecamatan Beringin, Ngawi, Jawa timur, sekaligus Ketua Kelompok Tani “Rukun Makmur”, Sukardi, menunjukkan salah satu lubang persembunyian tikus di lahan miliknya. — Sumber: KORAN JAKARTA/SELOCAHYO

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Bringin, Ngawi, Rahayu Jamaratih, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya dan sosialisi untuk mengendalikan hama tikus di wilayah itu.

Menurut dia, petani telah melakukan berbagai cara mulai gerilya di malam hari, melepas burung hantu, dan sebagainya, tapi serangan tikus terus berlanjut hingga musim panen.

"Ada bantuan amunisi (obat tikus) tujuannya menstimulasi petani, untuk melakukan pengendalian bersama-sama sebelum tanaman sampai masa primordial 55 hari. Kita sampaikan pada poktan (kelompok tani) bahwa pengendalian tidak boleh ada jedanya," kata Rahayu.

Rahayu menjelaskan tikus dikenal sangat cerdik dalam menghindari berbagai antisipasi yang dilakukan, sehingga petani harus menyiasati perubahan pola perilaku tikus itu.

"Tikus sangat sensotif, mereka bisa curiga dengan bau orang pada obat atau umpan yang disebar tanpa menggunakan sarung tangan, atau ditaruh tidak pada tempatnya. Maka, petani disarankan pakai bambu atau dibungkus plastik agar tikus tertarik," katanya.

Secara terpisah, Kordinator Unit Pelaksana Teknis Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT-PTPH) Wilayah Kerja Madiun, Wuryaning Handayani, mengungkapkan saat ini hama tikus banyak menjadi keluhan petani di wilayah kerja dengan luas lahan sekitar 150 ribu hektare tersebut, yang meliputi daerah di Madiun, Ngawi, Pacitan, Magetan, dan Ponorogo.

"Di Ngawi, hama tikus menempati urutan pertama karena memang daerah ini lahannya yang paling luas, terutama pada wilayah di bagian timur yang serangannya hampir merata," katanya.

Asuransi Tani

Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, mengatakan semestinya kejadian seperti ini bisa dibantu melalui asuransi tani. Apalagi dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani dijelaskan bahwa kegagalan panen karena hama, apalagi dalam skala luas bisa dinyatakan sebagai kejadian luar biasa, dan petani bisa mendapatkan ganti rugi meskipun petani belum ikut asuransi usaha tani.

"Kami berharap asuransi usaha tani bisa lebih dioptimalkan dan menjangkau lebih banyak petani," tegas Qomar.

Kehadiran pemerintah baik dalam dukungan kebijakan dan dukungan anggaran sangat diperlukan dalam upaya memperbaiki ekosistem ini. Ledakan populasi hama akan mengganggu produksi dan ada akhirnya akan mengganggu ekosistem pangan.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.