Studi: Transisi Menuju Keberlanjutan Regeneratif Penting bagi Bisnis

Senin, 12 Agu 2024, 00:02 WIB

JAKARTA - Firma konsultan manajemen global Kearney telah merilis studi yang berjudul 2024 Kearney Regenerate Asia Pacific Sustainability Report menekankan transisi menuju keberlanjutan regeneratif sangat penting bagi bisnis di Indonesia.

Studi komprehensif ini menganalisis praktik keberlanjutan dari berbagai perusahaan di Asia Pasifik (APAC), dan menyoroti kebutuhan mendesak bagi perusahaan di Indonesia untuk beralih ke keberlanjutan regeneratif.

"Studi ini menekankan bahwa transisi menuju keberlanjutan regeneratif sangat penting bagi bisnis di Indonesia untuk mengatasi tantangan lingkungan dan sosial, memastikan ketahanan jangka panjang, profitabilitas, dan manfaat bagi komunitas. Melaksanakan praktik ini dapat meningkatkan tanggung jawab korporat dan sejalan dengan tujuan keberlanjutan global, menciptakan masa depan yang lebih sehat dan adil bagi semua," kata Presiden Direktur Kearney Indonesia Shirley Santoso dalam keterangan resmi, di Jakarta, Jumat.

Berdasarkan laporan tersebut, disebutkan bahwa terdapat kesadaran yang besar terkait urgensi keberlanjutan bagi sebuah organisasi secara umum.

Namun, sebagian besar pemimpin bisnis di Asia masih memandang keberlanjutan sebagai pendorong biaya dan risiko daripada peluang untuk menciptakan nilai lebih. Bisnis di Asia berada pada tingkat kematangan yang berbeda-beda dalam perjalanan keberlanjutan, tetapi tetap optimis mencapai dampak positif selama satu dekade ke depan.

Di Indonesia, pemerintah telah menetapkan ambisi untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. Di sisi lain, lebih dari 80 persen energi tanah air disediakan melalui bahan bakar fosil, dan Indonesia juga menjadi produsen batu bara terbesar keempat di dunia.

Karena itu, Indonesia mendirikan 'Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan' (Just Energy Transition Partnership/JETP) untuk memobilisasi 20 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dalam 3-5 tahun ke depan guna mempercepat transisi energi pada tahun 2022.

"Berdasarkan hasil studi kami, 43 persen organisasi Indonesia saat ini telah mengadopsi pendekatan regeneratif untuk keberlanjutan, dengan tambahan 57 persen perencanaan untuk melaksanakan dalam 1-3 tahun ke depan. Studi Kearney di Asia Pasifik menunjukkan bahwa perusahaan yang fokus pada praktik regeneratif dapat memberikan dampak positif bersih, berkontribusi pada pemulihan ekosistem, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan menciptakan peluang ekonomi," ujarShirley.

Menurut dia,mengintegrasikan upaya keberlanjutan ke dalam strategi bisnis inti dan memastikan komitmen dari pimpinan tertinggi adalah kunci mengatasi tantangan terkait akuntabilitas dan metrik. Kepemimpinan yang kuat memastikan tujuan keberlanjutan dapat diprioritaskan dan selaras dengan misi serta visi perusahaan secara keseluruhan.

Lebih lanjut, para pemimpin bisnis di Indonesia disebut semakin khawatir tentanggreenwashingyang mendorong kebijakan keberlanjutan lebih ketat, perencanaan lebih hati-hati, dan investasi lebih besar dalam sumber daya keberlanjutan.

Kendati 72 persen pemimpin bisnis di Indonesia percaya bahwa target dekarbonisasi dapat dicapai, hanya 46 persen yang memiliki rencana sesuai dengan Perjanjian Paris. Hal ini menunjukkan perlunya struktur tata kelola lebih kuat dan mekanisme akuntabilitas lebih jelas.

Dia menekankan teknologi sebagai alat penting untuk mendefinisikan ulang proses bisnis dan rantai pasokan, memungkinkan organisasi yang tangguh fokus pada penciptaan nilai jangka panjang. Teknologi canggih dianggap mengoptimalkan penggunaan sumber daya, mengurangi limbah, dan meningkatkan efisiensi di seluruh operasi.

Di Indonesia, teknologi dan kemampuan pengukuran emisi yang lebih baik, serta dukungan manajemen lebih besar menjadi pendorong utama mempercepat upaya dekarbonisasi.

"Dengan mengadopsi praktik regeneratif, memperkuat kepemimpinan dan tata kelola, dan pemanfaatan teknologi canggih, perusahaan dapat mencapai kesuksesan yang berjangka panjang, berkontribusi pada tujuan keberlanjutan global, dan mendorong masa depan yang lebih sehat dan adil," katanya pula.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.