Pencari Kerja Harus Punya 'Skill' Tinggi Agar Terserap di Industri

Kamis, 08 Agu 2024, 00:04 WIB

JAKARTA - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan masuknya investasi asing dan program vokasi merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan lapangan kerja dan menekan angka pengangguran.

"Kita tentu memperbanyak investasi supaya bisa menyerap tenaga kerja. Oleh karena itu, investasi dari luar negeri terus kita gencarkan setiap tahun agar ada peningkatan- peningkatan," kata Wapres seusai meninjau MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (7/8).

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: BPS - kj/ones

Pernyataan itu disampaikan Wapres menanggapi keluhan masyarakat usia produktif yang merasa resah dengan sulitnya mencari pekerjaan. Seperti dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa lebih dari 16 persen angka pengangguran di Indonesia disumbang oleh usia 25 hingga 29 tahun, yang masuk dalam usia produktif.

Wapres juga menekankan bahwa pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan kompetensi angkatan kerja sesuai dengan kebutuhan pemberi kerja.

Ma'ruf pun meminta agar para pencari kerja memiliki kemampuan yang mumpuni sesuai dengan kebutuhan para pemberi kerja dan agar direkrut oleh industri. Pemerintah terus berupaya meningkatkan kemampuan pencari kerja, baik melalui berbagai macam pelatihan maupun pendidikan vokasi.

"Sebab, sekarang ini industri itu padat modal, padat teknologi, sehingga kalau mereka tidak memiliki (keahlian), itu tidak bisa terserap," katanya.

Di sisi lain, Wapres mengatakan bahwa pemerintah terus mendorong pengembangan ekonomi kreatif masyarakat. Dia mengharapkan generasi muda tidak hanya berpatokan pada pekerjaan formal saja, tetapi juga mampu berwiraswasta ataupun bercocok tanam.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan, saat ini klaim investasi mampu meningkatkan serapan kerja perlu dipertanyakan. Investasi yang masuk ke Indonesia lebih didominasi yang padat modal sehingga tidak butuh banyak tenaga kerja. Kalaupun ada tenaga kerja bersifat semi skilled dan high skilled.

"Jadi, ada mismatch juga dengan profil angkatan kerja di banyak daerah," kata Bhima.

Menurut Bhima, pemerintah sebaiknya terus mempromosikan investasi yang bersifat padat karya, misalnya pengolahan produk pertanian dan perkebunan. Kemudian, insentifnya digeser dari industri padat modal ke padat karya.

Diminta terpisah, pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, mengatakan pemerintah harus melakukan langkah transformasi karena saat ini banyak masyarakat yang bekerja di sektor informal. Calon kelas menengah dan kelas menengah juga banyak yang tidak memiliki pekerjaan formal.

Untuk mencapai tujuan ambisius guna menjadi negara maju pada 2045, kebijakan harus berfokus membantu memperkuat dan mempertahankan daya beli kelas menengah. "Investasi dalam pendidikan dan pelatihan kejuruan diperlukan untuk transisi ini," kata Riefky.

Pemerintah harus membekali individu dengan keahlian yang diperlukan untuk mengakses pekerjaan dengan produktivitas yang lebih tinggi (misalnya, jasa dengan nilai tambah tinggi dan manufaktur). Cara seperti itu akan meningkatkan potensi penghasilan mereka yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Pemerintah juga perlu menciptakan lebih banyak peluang kerja di sektor-sektor dengan produktivitas tinggi seperti manufaktur yang dapat menyerap banyak tenaga kerja dan menawarkan upah yang lebih tinggi.

"Link and Match"

Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Robby Kusumaharta, mengatakan upaya menarik investasi sejalan dengan visi para pengusaha untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.

Namun demikian, upaya meningkatkan investasi dengan memperbanyak program vokasi tidak bisa berdiri sendiri. Kunci keberhasilan dari kedua hal tersebut adalah sinergi antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan.

"Pemerintah perlu meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dan memastikan program-program tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri melalui pendekatan link and match," katanya.

Kualitas vokasi harus menjadi prioritas dengan cara program-program vokasi yang ada harus terus diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar.

Pemerintah juga perlu memperkuat ekosistem investasi yang kondusif. Kemudahan perizinan, insentif fiskal, dan jaminan keamanan investasi adalah beberapa hal yang perlu terus ditingkatkan. Dengan begitu, iklim investasi yang positif akan menarik lebih banyak investor asing untuk menanamkan modalnya, termasuk di daerah yang pada akhirnya akan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.