Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemenkes: Angka Hepatitis di Indonesia Turun

📅 Senin, 29 Jul 2024, 19:35 WIB | Oleh:
Kemenkes: Angka Hepatitis di Indonesia Turun Doc: muhammad marup
Ket. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi, dalam Temu Media Hari Hepatitis Sedunia, yang diakses Senin (29/7).

JAKARTA - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi, mengungkapkan angka hepatitis di Indonesia mengalami penurunan. Dalam waktu 10 tahun terakhir, penurunan terjadi untuk penyakit hepatitis B dan C.

"Indonesia telah berhasil menurunkan secara bermakna dalam 10 tahun terakhir," ujar Imran, dalam Temu Media Hari Hepatitis Sedunia, yang diakses Senin (29/7).

Dia menerangkan, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan, prevalensi hepatitis B turun dari 7,1 persen pada 2013 menjadi 2,4 persen pada 2023. Untuk hepatitis C, data WHO Global Health Observatory 2022 for HCV mencatat prevalensi hepatitis C turun dari 1 persen pada 2013 menjadi 0,5 persen pada 2022.

Imran menyebut, vaksinasi dan pengobatan menjadi dua kunci dalam penurunan prevalensi hepatitis. Pada 2023, lebih dari 2,3 juta dari target 4,4 juta bayi baru lahir telah menerima imunisasi hepatitis B setelah 24 jam kelahiran.

"Kemudian, bagi ibu hamil yang kita temukan positif kita berikan antivirus tenofovir untuk mencegah transmisi virus Hepatitis B dari ibu ke anak," katanya.

Dia menuturkan, pemberian antivirus tenofovir telah diinisiasi sejak 2022 dan secara bertahap dilakukan di seluruh Indonesia. Pada 2024, pihaknya tengah menyiapkan penambahan layanan di 1.230 layanan terdiri dari 1.020 puskesmas dan 210 rumah sakit yang tersebar di 188 kabupaten/kota dan 34 provinsi.

"Tahun ini akan kita kembangkan lagi untuk bisa ke 1.410 layanan baik di puskesmas maupun rumah sakit," katanya.

Imran mengungkapkan, pemerintah juga telah menyediakan obat Direct Acting Antiviral (DAA) untuk pengobatan hepatitis C. Pengobatan ini diyakini memiliki tingkat keberhasilan mencapai 90 persen.

"Untuk pengobatan DAA ini, kami sudah menyediakan di 33 provinsi dan pada tahun 2024 ini ditargetkan semua provinsi itu sudah punya rumah sakit yang bisa memberikan layanan pengobatan Hepatitis C dengan DAA," tuturnya.

Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia Andri Sanityoso menjelaskan, hepatitis adalah peradangan hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti obat-obatan, perlemakan, autoimun, alkohol, bakteri, parasit, dan virus. Virus hepatitis terdiri dari 5 jenis, yakni hepatitis A, B, C, D dan E dengan cara penularan, gejala dan tingkat keparahan dan pencegahan yang berbeda.

"Adapun, hepatitis B dan C dapat berkembang menjadi kronis dan dapat menjadi penyebab imun sirosis hati, dan kanker hati sehingga menyebabkan kematian," tuturnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Megapolitan
Warga Bekasi Akan Dihibur B...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.