- Home
-
- Luar Negeri
-
- PBB: Perubahan Iklim Tingk...
PBB: Perubahan Iklim Tingkatkan Kerentanan Komunitas Pengungsi
Sabtu, 20 Jul 2024, 00:02 WIBJENEWA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan cuaca ekstrem dan perubahan iklim dapat meningkatkan kerentanan para pengungsi dan komunitas pengungsi sehingga membuat hidup mereka semakin sulit.
Dalam sebuah wawancara dengan Anadolu, yang dikutip Jumat (19/7), Juru Bicara Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Olga Sarrado, menyoroti dampak perubahan iklim terhadap pengungsi dan orang-orang yang terpaksa mengungsi.
"Mereka meningkatkan risiko perlindungan dan juga berdampak pada kemandirian mereka, serta kemungkinan mereka untuk membangun kembali kehidupan di tempat mereka berada," kata Sarrado.
Seperti dikutip dari Antara, Sarrado menekankan cuaca ekstrem, seperti banjir, kekeringan, dan badai semakin sering terjadi dan berdampak negatif terhadap pengungsi dan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal.
Dalam beberapa kesempatan, lanjut Sarrado, cuaca buruk memaksa pengungsi untuk mengungsi kembali dengan beberapa dapat kembali ke komunitasnya, namun ada yang kehilangan segalanya dan harus memulai dari nol di lokasi lain.
"Jadi inilah dampak utama yang kami lihat terhadap pengungsi akibat peristiwa cuaca ekstrem ini dan dampak perubahan iklim," ujarnya.
Sangat Rentan
Sarrado mengutip statistik UNHCR yang menunjukkan pada Mei 2024, sebanyak 120 juta orang di seluruh dunia terpaksa mengungsi dan tiga perempat dari mereka tinggal di negara-negara yang sangat rentan terhadap peristiwa cuaca ekstrem dan bencana iklim.
"Jadi, ini berarti sebagian besar dari mereka yang menjadi pengungsi atau pengungsi internal juga harus menghadapi peristiwa iklim ekstrem dan proyeksi UNHCR memberi tahu kita bahwa pada tahun 2040 situasinya akan jauh lebih buruk," ungkapnya.
Tak hanya itu, dalam beberapa bulan terakhir banjir besar yang melanda wilayah selatan Brasil telah menyebabkan 600.000 orang mengungsi.
Kemudian, berdasarkan data dari Pusat Pemantauan Pengungsi Internal yang menunjukkan bahwa hampir 26 juta orang mengungsi akibat peristiwa cuaca ekstrem pada tahun 2023, sebagian besar disebabkan oleh banjir atau kekeringan.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Infantino Gelar Rapat Darurat di Maroko, Krisis Kepemimpinan FIFA Kian Memanas
-
Suhu Bumi Cetak Rekor Terpanas 11 Tahun, PBB Serukan Aksi Global
-
Dinkes: Penderita TBC di Tangerang Capai 5.101 Kasus
-
Siapa Destry Damayanti? Ini Profil Pjs Gubernur Bank Indonesia
-
Hutan Gunung Soputan Terbakar, Delapan Mobil Damkar Dikerahkan
-
Eddy Soeparno: Krisis Energi Dunia Momentum Perkuat Ketahanan Energi Nasional
-
IQAir: Kualitas Udara Jakarta pada Sabtu (01/8) Terburuk Ketiga di Dunia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.