Sekolah Favorit Justru Menjadi Masalah dalam PPDB

Selasa, 02 Jul 2024, 03:03 WIB

Miskonsepsi masyarakat terkait sekolah favorit dinilai menjadi salah satu masalah utama dalam penerimaan peserta didik baru sehingga mendorong untuk mendaftar di sekolah tertentu dengan beragam cara.

JAKARTA - Direktur Sekolah Dasar (SD), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Muhammad Hasbi, mengatakan, miskonsepsi masyarakat terkait sekolah favorit menjadi salah satu masalah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Hal tersebut mendorong masyarakat untuk mendaftar pada sekolah tertentu dengan berbagai macam cara.

Ket. Foto: FORUM DARING l Direktur Sekolah Dasar (SD), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Muhammad Hasbi, dalam Forum Merdeka Barat (FMB) 9 secara daring, Senin (1/7). — Sumber: Koran Jakarta/M.Ma'ruf

"Pertama adanya miskonsepsi di masyarakat terkait favoritisme sekolah. Jadi masih ada sekolah favorit," ujar Hasbi, dalam Forum Merdeka Barat (FMB) 9 secara daring, Senin (1/7).

Dia menegaskan, bagi Kemendikbudristek tidak ada sekolah favorit. Pihaknya memiliki kepentingan untuk memastikan semua sekolah memiliki kualitas yang sama.

"Tidak ada lagi sekolah favorit karena pada dasarnya sekolah itu memiliki kualitas yang sama-sama unggul," jelasnya.

Hasbi menambahkan, masalah kedua yaitu daya tampung yang belum ideal. Ke depan, pihaknya mendorong lebih banyak daya tampung sekolah salah satunya melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik. "Kemudian bekerja sama dengan pemda untuk menyediakan sekolah-sekolah baru," katanya.

Penyempurnaan Kebijakan

Hasbi mengungkapkan, adanya kebijakan PPDB tahun ini merupakan penyempurnaan dari kebijakan sebelumnya. Sebelum adanya sistem PPDB saat ini, PPDB menggunakan sistem ranking yang berpotensi membuat diskriminasi bagi peserta didik yang tinggal dekat dengan sekolah-sekolah mereka.

Dia menilai, diskriminasi akan semakin terasa bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi kurang mampu yang tidak masuk ranking karena harus mencari sekolah lebih jauh. Selain itu, bagi peserta didik disabilitas juga tidak menerima cukup afirmasi.

"PPDB telah terbukti mampu memperkecil jarak kualitas antarsekolah atau disparitas kualitas antarsekolah. membuat sekolah lebih heterogen dan memberi akses lebih baik kepada masyarakat kurang mampu dan disabilitas," ucapnya.

Sementara itu, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menduga, di tahap akhir PPDB masih ada bangku sisa yang belum terisi. Menurutnya, hal tersebut jadi modus kecurangan dan sengaja disembunyikan agar bisa diperjualbelikan.

"Tahun ini janganlah dilakukan. Itu tindakan biadab, culas, dan bertentangan dengan ruh pendidikan. Pemerintah daerah wajib mendaftar dan memberikan sisa kuota kepada yang lebih membutuhkan, yaitu para penerima KIP/KJP," terangnya.

Dia meminta Kemendikbudristek harus menghentikan sistem seleksi serta menyesuaikan daya tampung sekolah dengan jumlah calon pendaftar. Di sisi lain, pemerintah daerah wajib melibatkan sekolah swasta untuk menyediakan daya tampung yang sesuai dengan calon peserta didik.

"Kekurangan bangku itu terjadi karena pemerintah daerah hanya mengurusi sekolah negeri saja. Padahal, tugas pemerintah adalah membiayai, memfasilitasi, dan memastikan semua anak mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan di semua jenis sekolah, mau sekolah negeri maupun sekolah swasta," tuturnya. ruf/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

Berita Terbaru

Bukan Sekadar Besaran Gaji, Pekerja Indonesia Cari Rasa Dihargai di Tempat Kerja

Virtus Technology Indonesia Resmi Jadi Master Distributor DJI Enterprise di Indonesia

Produk Bernilai Tambah Tinggi Asal Cilegon Tembus Kanada, Kemendag: Bukti Industri RI Makin Kuat

Trafik Uplink Melampaui Downlink, Pola Penggunaan Jaringan Digital Mulai Berubah

Info Loker! Job Fair Pemkab Magelang 2026 Tersedia 3.717 Lowongan

Shin Ye Eun Ajak Masyarakat Indonesia Rasakan Kehangatan Hunian Pintar Berbasis K-Wellness

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Babak Gugur Piala Dunia 2026 Mulai Terbentuk, Enam Negara Amankan Tiket 32 Besar, Empat Tersingkir

Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Ini Deretan Pemain yang Memperebutkan dari Messi, Mbappe, hingga Haaland, Siapa yang Layak?

Tiga Pejabat Tinggi Pratama Setjen MPR RI Dilantik, Siti Fauziah Tekankan Penguatan Kolaborasi dan Peningkatan Kinerja Lembaga

Peternak Sapi Perah Indonesia Raih Kenaikan Produksi Susu Berkat Transfer Teknologi AS

DFSK E5 Plus Resmi Buka Pre-Booking di Indonesia, Konsumen Berpeluang Dapat Benefit Rp60 Juta.

Info Lowongan kerja! Ayo Walk in Interview ke GOR Tanjung Duren Jakbar, Buka 4.262 Lowongan

Pertama di Indonesia, Whitesky Group dan SkyDrive Hadirkan Mockup eVTOL 1:1

1.151 KM Jalan Daerah Dilebarkan dari 3 Jadi 8 Meter, Dana Rp5,41 T Digelontorkan

Iming-iming Gaji Tinggi! Wamen P2MI dan Australia Bahas Ancaman Penipuan Pekerja Migran

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.