- Home
-
- Luar Negeri
-
- Filipina Tuding Penjaga Pa...
Filipina Tuding Penjaga Pantai Tiongkok Lakukan Tindakan 'Biadab' Blokir Evakuasi Medis
Jumat, 07 Jun 2024, 13:29 WIBMANILA - Penjaga pantai Filipina pada Jumat (7/6) menuduh kapal Tiongkok menghalangi upaya mengevakuasi anggota angkatan bersenjata yang sakit di Laut Tiongkok Selatan, dan menyebutnya sebagai tindakan yang "biadab dan tidak manusiawi".
Insiden yang menurut Filipina terjadi bulan lalu, melibatkan anggota kontingen kecil marinir yang ditugaskan untuk menjaga BRP Sierra Madre, sebuah kapal Filipina yang berlabuh di Second Thomas Shoal yang disengketakan, tempat terjadinya kronfrontasi dengan Tiongkok di masa lalu.
Juru bicara Penjaga Pantai Filipina Jay Tarriela mengatakan kapal penjaga pantai dan angkatan laut diganggu oleh kapal-kapal Tiongkok, meskipun telah memberi tahu bahwa operasi tersebut bersifat medis.
"Perilaku biadab dan tidak manusiawi yang ditunjukkan oleh penjaga pantai Tiongkok tidak mendapat tempat di masyarakat kita," kata Tarriela dalam sebuah pernyataan.
Kedutaan Besar Tiongkok di Filipina telah menerima permintaan komentar, namun tidak segera menanggapi dengan pernyataan.
Tarriela mengatakan penjaga pantai Tiongkok "terlibat dalam manuver berbahaya dan bahkan dengan sengaja menabrak" kapal angkatan laut negaranya saat sedang mengangkut personel yang sakit.
"Operasi evakuasi medis yang seharusnya sederhana justru menjadi sasaran pelecehan," kata Tarriela.
Panglima militer Filipina Romeo Brawner mengatakan pada hari Selasa bahwa upaya pertama untuk mengangkut tentara yang sakit ke provinsi barat Palawan gagal setelah mereka dihadang oleh Tiongkok.
Upaya lain dilakukan keesokan harinya dengan bantuan penjaga pantai Filipina dan tentara tersebut berhasil dievakuasi, kata Brawner.
Tiongkok mengklaim hampir seluruh Laut Tiongkok Selatan, yang merupakan jalur perdagangan kapal tahunan senilai lebih dari 3 triliun dollar AS. Tiongkok juga telah mengerahkan ratusan kapal penjaga pantai sejauh 1.000 km dari daratan untuk mengawasi wilayah yang dikatakan sebagai yurisdiksinya.
Filipina dan Tiongkok selama setahun terakhir telah berulangkali berselisih di wilayah sengketa yang masuk dalam zona ekonomi eksklusif Manila. Tiongkok secara rutin menuduh Filipina melakukan perambahan, sementara Manila dan sekutunya mengutuk apa yang mereka sebut sebagai agresi oleh Beijing.
Pada 2016, Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag mengatakan klaim Tiongkok tidak memiliki dasar hukum, namun keputusan tersebut ditolak oleh Beijing.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: CNA
Berita Terkait:
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Lagi, Anggota Politbiro Tiongkok Diselidiki Lembaga Pengawas Antikorupsi
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Semarakkan Mudik Lebaran 1447 H, KAI Wisata Hadirkan Hiburan Budaya hingga Pembagian Takjil
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Karhutla Mengancam Natuna, Lanud RSA Aktifkan Posko Udara Siaga Darurat
-
Harga Minyak Anjlok Tajam setelah Trump Sebut Perang Melawan Iran akan Segera Berakhir
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.