Film 'Samsara' Tawarkan Pengalaman Sinematik Tak Biasa
Minggu, 02 Jun 2024, 18:21 WIBJAKARTA - Film bisu hitam putih berjudul Samsara karya sutradara Garin Nugroho menawarkan pengalaman sinematik yang tidak biasa kepada para penikmat film.
"Dalam Samsara, kami mencoba untuk kembali ke akar pertama kali sinema muncul, yaitu film bisu dengan iringan musik live," kata produser Samsara, Gita Fara dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (31/5).
"Bentuk ini kami harapkan bisa memberikan pengalaman sinematik yang luar biasa," ia menambahkan.
Gita menuturkan bahwa Samsara mengajak para penikmat film kembali menikmati suasana masa lalu sekaligus mencicipi masa depan dengan perpaduan sinema, musik tradisi Gamelan Yuganada, dan musik elektronik Gabber Modus Operandi.
Samsara menampilkan elemen pertunjukan tradisional Bali seperti gamelan, tari tradisional, topeng, dan wayang yang dipadukan dengan musik elektronik serta tari dan topeng kontemporer.
Penggarapan musik pengiring film itu dipimpin oleh Komposer Wayan Sudirana dan Kasimyn, yang memadukan musik Gamelan Yuganada dan musik elektronik Gabber Modus Operandi.
Vokalis Ican Harem, Gusti Putu Sudarta, Dinar Rizkianti, dan Thaly Titi Kasih menambahkan warna pada iringan film.
Pembuatan film juga melibatkan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani, Gus Bang Sada, Siko Setyanto, maestro tari I Ketut Arini, Cok Sawitri, Aryani Willems, Valentine Payen-Wicaksono, dan penari-penari dari Komunitas Bumi Bajra Bali.
Sutradara Garin Nugroho menyebut film yang ia buat kali ini menggabungkan unsur film, unsur teater, dan unsur seni tradisi.
"Untuk bermain film bisu itu tidak mudah, karena biasanya dimainkan dalam tradisi Barat rata-rata, bukan dari sisi kita. Makanya, para aktor harus tahu betul konsep dan ketiga unsur seni itu," kata dia.
Aktor Ario Bayu dan penari Juliet Widyasari Burnett berperan dalam film berlatar Bali tahun 1930-an itu, yang bercerita tentang Darta, pria dari keluarga miskin yang lamarannya ditolak oleh orang tua Sinta yang kaya raya.
Penolakan itu membuat Darta membuat perjanjian dengan Raja Monyet dan melakukan ritual gelap untuk mendapatkan kekayaan, tetapi upaya itu justru menimbulkan penderitaan.
Film Samsara ditayangkan dalam festival serta panggung seni dan budaya di dalam maupun luar negeri, termasuk perhelatan Indonesia Bertutur 2024 di Bali pada Agustus 2024.
"Harapan kami, karya ini setelah Esplanade bisa kembali menemui penontonnya, baik di dalam maupun luar negeri," kata Gita merujuk pada penayangan film di pusat pertunjukan seni Esplanade di Singapura. Ant/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kejari Bogor Tetapkan Tersangka Korupsi Proyek Rumah Sakit Rp93 Miliar
-
Jakarta Terima Hadiah Ultah Mencapai Rp22,2 Triliun
-
Film Indonesia Berhasil Curi Perhatian di Festival Film Internasional Shanghai, Tiket Nonton Ludes Terjual!
-
Pengeluaran Fiktif, Kejati Jatim Tahan Eks Dirut Kebun Binatang Surabaya
-
Tayang Tahun Depan, Film "Berbagi Suami 2.0" Kembali Bertabur Bintang
-
Sinner Merasa Lebih Siap Hadapi Wimbledon, Waspadai Cuaca Panas
-
Sukses di Mancanegara, Film "Solata" Kembali ke Indonesia, Kisahkan Realitas Pendidikan di Tana Toraja
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.