DLH Gunungkidul Kembalikan Habitat Monyet Agar Tidak Masuk Permukiman

Minggu, 02 Jun 2024, 17:24 WIB

GUNUNGKIDUL - Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta, berupaya mengembalikan ekosistem monyet ekor panjang supaya tidak mengganggu ladang pertanian dan masuk ke permukiman masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DIY Harry Sukmono di GunungkidulMinggu mengatakan, di beberapa kapanewon(kecamatan), monyet ekor panjang mulai memasuki perkampungan dan ladang milik petani.

"Mengatasi serangan monyet ekor panjang perlu kolaborasi untuk mengembalikan ekosistem habitat," kata Harry.

Seperti diketahui, di Padukuhan Nongkosingit, Kalurahan Dadapayu, terjadi konflik manusia dan monyet ekor panjang (MEP) hingga meresahkan warga.

Kemunculan MEP terjadi pada pagi sekitar 09.00 WIB sampai 10.00 WIB, dan sore hari sekitar pukul 15.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB.

Saat musim hujan, monyet di ladang, sementara saat musim kemarau masuk rumah warga.

Harry mengatakan, penanganan MEP harus dilakukan bersama sama dan bersinergi untuk mengembalikan lagi habitat ekosistem MEP, antara lain dengan menanam bibit tanaman yang bisa menghasilkan pakan MEP yang tidak bisa dikonsumsi manusia.

"Selanjutnya, menanam tanaman untuk menciptakan ekosistem habitat MEP agar tidak masuk ke ladang/lahan pertanian dan permukiman penduduk," katanya.

Sementara itu, salah seorang warga Nongkosingit Sigit Wahyu mengatakan, seminggu terakhir beberapa ekor monyet turun sampai ke permukiman.

Ia menjelaskan, setiap hari dirinya dan warga lainnya menyiapkan ketapel untuk mengusir monyet. Warga sekitar resah dengan kemunculan MEP ini karena masuk ke permukiman, bahkan sampai masuk ke dalam rumah.

"Sempat masuk rumah, tetapi belum mengambil apa-apa langsung diusir. Tapi kalau perempuan yang mengusir, malah seperti mengejek," katanya.

Sigit mengatakan, monyet biasanya mengambil buah yang ada di sekitar pekarangan seperti pisang, pepaya, hingga ketela pohon. Sejak 5 tahun terakhir, monyet masuk ke pemukiman warga.

Menurut cerita turun temurun warga sekitar, MEP yang masuk ke permukiman itu yang dijauhi rombongan atau koloninya.

"Kalau ditembak tidak berani, paling hanya diusir. Sempat dibuatkan orang-orangan sawah malah dibuat mainan," katanya. Ant

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara, Opik

Berita Terbaru

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

Krisis Air Bersih di Natuna! Pemkab Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kekeringan Meteorologis, BMKG Ingatkan Seluruh Wilayah Jateng untuk Siaga

Curanmor Merajalela! Polda Banten Bongkar Sindikat yang Beraksi di 14 Lokasi

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.