WHO: Pandemi Covid-19 Pangkas Angka Harapan Hidup Global Hampir 2 Tahun

Sabtu, 25 Mei 2024, 13:37 WIB

JENEWA - Covid-19 memangkas angka harapan hidup global hampir dua tahun ketika wabah merebak dari tahun 2019 hingga 2021, menghapus kemajuan yang telah dicapai selama satu dekade, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 24 Mei.

"Pandemi Covid-19 membalikkan tren peningkatan stabil dalam angka harapan hidup saat lahir dan harapan hidup sehat saat lahir," kata badan kesehatan PBB tersebut.

Ket. Foto: Angka harapan hidup global turun 1,8 tahun menjadi 71,4 tahun, tingkat yang sama seperti tahun 2012, menurut studi statistik kesehatan dunia tahunan WHO. — Sumber: AFP

Angka harapan hidup global turun 1,8 tahun menjadi 71,4 tahun, tingkat yang sama seperti tahun 2012, menurut studi statistik kesehatan dunia tahunan WHO.

Durasi rata-rata orang untuk hidup sehat turun 1,5 tahun menjadi 61,9 tahun pada tahun 2021 - juga dibandingkan dengan tahun 2012, menurut studi tersebut.

Dampaknya bahkan lebih buruk dibandingkan temuan penelitian yang diterbitkan Lancet pada Januari lalu yang menyebutkan rata-rata harapan hidup turun 1,6 tahun selama pandemi.

Para peneliti dalam studi tersebut mengatakan bahwa Covid-19 memiliki "dampak yang lebih besar" terhadap harapan hidup dibandingkan peristiwa lainnya selama setengah abad terakhir.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan angka-angka tersebut menyoroti pentingnya perjanjian keamanan pandemi global yang dinegosiasikan di Jenewa "untuk memperkuat keamanan kesehatan global, tetapi juga melindungi investasi jangka panjang di bidang kesehatan dan mendorong kesetaraan di dalam dan antar-negara".

Para peneliti Lancet memperkirakan Covid-19 menyebabkan 15,9 juta kematian berlebih selama tahun 2020-2021, baik akibat virus tersebut maupun gangguan sistem kesehatan terkait pandemi.

Namun studi WHO mengatakan angka harapan hidup tidak mengalami penurunan yang sama di seluruh dunia.

Amerika dan Asia Tenggara adalah wilayah yang paling parah terkena dampaknya, dengan angka harapan hidup turun sekitar tiga tahun, katanya.

Pasifik Barat adalah wilayah yang paling sedikit terkena dampaknya, dengan angka harapan hidup hanya turun 0,1 tahun.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.