Muncul Sejumlah Peringatan Resesi Ekonomi AS
Senin, 20 Mei 2024, 00:02 WIBJAKARTA - Seorang pakar strategi investasi memperingatkan kalau resesi bisa tiba-tiba menyerang ekonomi Amerika Serikat (AS). Peringatan itu disampaikan Kepala Strategi Investasi B. Riley Wealth Management, Paul Dietrich, yang merupakan pakar Wall Street dan menjadi salah seorang meramal resesi pada 2008 lalu.
"Ada sejumlah besar peringatan yang muncul di AS yang menunjukkan perekonomian hampir pasti menuju resesi," katanya seperti dimuat dan dikutip dari Business Insider, akhir pekan lalu.
Dia baru-baru ini mencatat ada beberapa tanda, seperti inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan sepanjang kuartal pertama (Q1) dan volatilitas yang lebih besar di pasar. Saham dan obligasi juga mengalami kenaikan yang tidak terlalu besar. Sementara itu, minyak dan emas yang biasanya memiliki kinerja baik dalam kondisi inflasi, justru meningkat.
"Pertumbuhan ekonomi juga mulai melambat, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat 1,6 persen pada kuartal pertama, turun dari 3,4 persen pada kuartal terakhir tahun 2024," kata Dietrich.
Begitu pula dengan kepercayaan konsumen yang juga jatuh, pertumbuhan lapangan kerja melambat, seiring dengan tingkat pengangguran, baru-baru ini menyentuh level tertinggi dalam dua tahun.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS hampir empat kali lipat imbal hasil dividen S&P 500. Fenomena seperti itu menjadi sebuah tanda bahwa investor mengantisipasi suku bunga akan tetap lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Ini merupakan imbal hasil Treasury tertinggi sejak tahun 2001 dan yang kedua kalinya dalam 100 tahun terakhir, mencapai angka sebesar itu.
"Perekonomian dan pasar saham belum pernah melihat hal seperti ini dalam sejarah. Semuanya mengingatkan saya pada gelembung dot-com pada tahun 2001-2002," ujar Dietrich lagi.
Dia juga berspekulasi bahwa resesi berikutnya sebenarnya "telah tertunda" karena stimulus senilai triliunan dollar yang dikeluarkan selama pandemi. Tapi sebenarnya, perekonomian masih berada di jalur penurunan.
"Ketika dukungan tersebut berhenti, maka hal itu bisa menjadi pukulan terakhir bagi saham, yang tampaknya ditopang oleh kepercayaan investor yang berlebihan dan terputusnya hubungan dengan fundamental perusahaan," kata Dietrich.
Dengan belanja defisit saat ini tidak berkelanjutan, maka suatu saat nanti akan berakhir. Kalau hal itu terjadi, dampaknya akan sangat buruk terhadap lapangan kerja, perekonomian, dan pasar saham global.
Perlu Diwaspadai
Menanggapi hal itu, pakar ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan potensi resesi global harus diwaspadai, terutama dampaknya terhadap perekonomian nasional.
"Negara-negara maju akan lebih merasakan dampak negatifnya karena kontribusi ekspor terhadap PDB mereka yang tinggi. Langkah antisipasinya adalah menjaga supply barang, memberi insentif ke swasta, dan mendukung BUMN supaya pajak mereka dapat menyehatkan APBN," tuturnya.
Peneliti Ekonomi Celios, Nailul Huda, mengatakan rezim suku bunga tinggi dan pelemahan daya beli domestik AS membuat ekonominya bisa melambat.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Bisa Bersaing di Pasar AS, Kemendag Yakinkan Eksportir Mamin
-
Banjir Terjang 13 Desa di Lima Kecamatan di Bima, Ratusan Rumah Terendam
-
Turun Tipis, Harga Emas Antam Hari Ini Rp2.340.000 per Gram
-
Kronologi Anggota Pasukan Bela Diri Jepang Masuk Tanpa Izin ke Kedubes China
-
Satu Tahun Berlalu Pengungsi Erupsi Lewotobi Belum Pindah dari Tenda
-
Menhan Meminta Prajurit TNI Jangan Sekali-kali Menyakiti Hati Rakyat
-
Dorong Substitusi Impor, Kemenperin Pertemukan Industri Produsen dan Pengguna Pati Ubi Kayu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.