• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Perlawanan Budak yang Must...

Perlawanan Budak yang Mustahil Berhasil

Jumat, 10 Mei 2024, 06:25 WIB

Ada tiga jalur perdagangan budak yang dilakukan aktor kolonialisme dalam mengirimkan budak ke benua Amerika, yaitu Jalur Tengah, Jalur Pertama dan Jalur Terakhir. Jalur Tengah adalah tahap perdagangan budak Atlantik dimana jutaan orang Afrika yang diperbudak diangkut ke Amerika sebagai bagian dari perdagangan budak segitiga.

Pada kategori Jalur Tengah, kapal-kapal berangkat dari Eropa menuju pasar Afrika dengan membawa barang-barang manufaktur. Barang-barang ini lalu diperdagangkan dengan budak oleh penguasa negara-negara Afrika dan pedagang budak Afrika lainnya.

Ket. Foto: — Sumber: Wikimedia

Sedangkan Jalur Pertama (First Passage) adalah perjalanan paksa para budak Afrika dari rumah mereka di pedalaman. Mereka ditangkap oleh suku lain atau oleh anggota suku mereka sendiri, di bawah ke pelabuhan Afrika tempat mereka dipenjarakan hingga dijual dan dimuat ke kapal.

Jalur Terakhir adalah perjalanan budak dari pelabuhan pendaratan di benua Amerika menuju perkebunan atau tujuan lain di mana mereka akan dipekerjakan. Jalur Tengah melintasi Atlantik bergabung dengan Jalur Pertama dan Jalur Terakhir.

Nicholas Radburn, dosen Sejarah Dunia Atlantik 1500-1800 di Universitas Lancaster dan David Eltis, profesor emeritus Sejarah di Universitas Emory lewat tulisan mereka yang dipublikasikan di lamanThe Conversationpada 4 Maret 2020, menuturkan videotimelapsesyang mereka buat untuk membantu menjawab pertanyaan penting tentang perdagangan budak seperti mengapa sebagian besar kapal menyelesaikan pelayarannya tanpa tahanan yang diperbudak menggulingkan penculiknya?

Bagi Radburn dan Eltis, masyarakat Afrika jelas bukan korban pasif perdagangan budak sehingga mereka bisa menolak atau memberontak. Memang dalam video ia menggambarkan banyak yang menolak makanan, mencoba menceburkan diri ke laut, atau berusaha meledakkan kapal, hingga memilih kematian daripada perbudakan.

"Orang-orang yang diperbudak juga melancarkan pemberontakan bersama kapanpun mereka punya kesempatan, dengan harapan mereka bisa merebut kapal dan mendapatkan kembali kebebasan mereka," tulis keduanya.

Dalam video tiga dimensi (3D) menunjukkan pemberontakan yang dilakukan selalu berakhir dengan kegagalan. Fitur keamanan yang dibangun pada kapal seperti L'Aurore sangat efektif dalam menghentikan pemberontakan. Laki-laki yang diperbudak dirantai, mencegah mereka mencapai kru di belakang barikade, tembok kayu setinggi sembilan kaki di dek utama.

"Awak kapal di atas tembok ini dapat menembaki tawanan pemberontak dengan senjata api. Melarikan diri dari sisi kapal juga sulit karena jaring yang dipasang awak kapal di sekeliling kapal," ungkap mereka.

Langkah-langkah ini sangat efektif sehingga tidak satupun dari 1,3 juta orang yang diperbudak yang menaiki kapal Liverpool mampu mengambil alih kapal tersebut, apalagi membawanya ke darat dan kembali ke rumah mereka. Peluang yang mustahil ini dapat diilustrasikan dengan baik dengan memeriksa database perdagangan budak Intra-Amerika mengenai pelayaran budak yang baru-baru ini tersedia.

Pemberontakan yang paling sukses hanya terjadi di kapal-kapal yang membawa budak dari satu wilayah Amerika ke wilayah lain. Para tawanan di kapal Amistad, Creole dan San Juan Nepomuceno misalnya yang berhasil mengambil alih kapal-kapal tersebut dan mencapai kebebasan.

Cara ini tidak pernah mungkin dicapai oleh mereka yang berada dalam usaha transatlantik seperti yang dilakukan dari Kota Liverpool. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.