Perkuat Kolaborasi, Lombok Tengah Libatkan Penggiat Lingkungan Antisipasi Dampak Iklim
Jumat, 10 Mei 2024, 00:07 WIBLombok Tengah - Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah melakukan kolaborasi dengan penggiat lingkungan atau Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (Konsepsi) Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam rangka mengantisipasi ancaman perubahan iklim.
"Ini salah satu upaya pemerintah untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim di Lombok Tengah," kata Kepala Bapperinda Kabupaten Lombok TengahLalu Wiranata di Praya, Kamis.
Program yang dilaksanakan bersama Konsepsi NTB dalam penanganan inklusif berbasis ekosistem dalam menghadapi ancaman iklim, di antaranya membuat desa percontohan pengelolaan sampah, sekolah lapang iklim, dan desa tangguh bencana.
"Tujuan sekolah iklim itu untuk melatih keterampilan petani tadah hujan di Lombok Tengah agar bisa beradaptasi dengan perubahan iklim atau dampak El Nino," katanya.
Kegiatan desa tangguh bencana diharapkan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam memahami maupun prosedur kesiapsiagaan menghadapi bencana, seperti banjir, longsor,angin puting beliung, serta gempa.
"Kerja sama ini dilaksanakan selama lima tahun sehingga kita lakukan MoU (penandatanganan nota kesepahaman) dengan Konsepsi NTB pekan ini," katanya.
Ia mengatakan program yang dilaksanakan Konsepsi tersebut membantu pemerintah daerah, terlebih dari segi anggaran, karena program dibiayai oleh mereka. Pemerintah daerahmenyiapkan data dan sasaran program.
Oleh karena itu, ia berharap,masyarakatmendukung programdalam rangka mengantisipasi ancaman perubahan iklim, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lombok Tengah.
"Program ini cukup membantu pemerintah daerah termasuk memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat," katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok TengahRidwan Maruf mengatakan dari 154 desa dan kelurahan,34 desa tangguh bencana hingga 2023 telah terbentuk dan melampaui target.
"Desa tangguh bencana itu tersebar di 12 kecamatan di Lombok Tengah," katanya.
Ia mengatakan bencana tidak pernah diharapkan semua orang tetapi mana kalau terjadi bencana maka semua pihak harus menangani dan menyiapkan diri untuk menghadapi, karena bencana bukan saja urusan pemerintah, namun bencana tanggung jawab semua.
"Pembentukan desa tangguh bencana itu bertujuan meningkatkan kemampuan dan keterampilan sumber daya, sehingga terbentuk masyarakat tangguh menghadapi bencana yang bisa terjadi secara tiba-tiba," katanya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangguhkan, Ini Respons Kapolri
-
Indonesia Tertinggal Jauh dalam Teknologi Kuantum, Kalah dari Negara Tetangga
-
DPRD dan Pemkot Bogor Bahas Raperda Rumah Susun untuk Atasi Keterbatasan Lahan dan Pertumbuhan Penduduk
-
Sanggar Margasari Kacrit Putra Bekasi Masuk 3 Besar Lomba Seni Palang Pintu Polda Metro Jaya.
-
Menhub Sebut Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Bakal Dievaluasi
-
Komnas HAM Sesalkan Penyerangan Warga Sipil di Intan Jaya, Ingatkan Pelanggaran HAM dan Hukum Humaniter
-
Ekonomi Syariah Indonesia Dinilai Belum Optimal karena Kurang Integrasi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.