Ini Empat Rekomendasi Walhi sebagai Respons atas Bencana yang Tewaskan 13 Warga Luwu

Rabu, 08 Mei 2024, 17:00 WIB

Jakarta - Organisasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menerbitkan empat rekomendasi yang mendesak untuk direalisasikan sebagai respons terhadap bencana banjir dan tanah longsor yang menewaskan13 warga di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Selatan Muhammad Al Amien dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa rekomendasi tersebut ditujukan untuk direalisasikan segera oleh pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Ket. Foto: Pantauan visual udara lokasi terdampak tanah longsor di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan oleh tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan helikopter, Selasa (7/5/2024). — Sumber: ANTARA/HO-BNPB

Empat butir rekomendasi tersebut, yaknimerevisi peraturan terkait pemanfaatan ruang (Rencana Tata Ruang Tata Wilayah/RTRW, Rencana Detail Tata Ruang/RDTL, Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan/RTBL).

Hal itu karena Walhimenilai banyak kawasan yang rentan terhadap bencana banjir dan tanah longsor justru diberikan izin pertambangan; salah satunya berlokasi di Desa Rante Bella, Latimojong, Luwu, Sulawesi Selatan.

Rekomendasiselanjutnya, yaknimengubah perspektif dan model siaga mitigasi serta penanggulangan bencana. Walhi menilai sudah saatnya pemerintah bisa menyelesaikan persoalan secara lugas tanpa dibatasi wilayah administratif namun, pemerintah seharusnya menyusun upaya mitigasi dan penanggulangan bencana melalui pendekatan bentang alam baik penyelesaian di tingkat DAS maupun kawasan esensial.

Walhijuga merekomendasikan agar memberikan edukasi serta melibatkan masyarakat secara bermakna di sekitar kawasan untuk sama-sama menyusun dan merumuskan upaya mitigasi dan penanggulangan bencana.

"Kami juga merekomendasikan agar Gubernur Sulawesi Selatan tegas menindak aktivitas pertambangan yang berada di kawasan inti dan penyangga pegunungan Latimojong," kata dia.

Ia menjelaskan, rekomendasi ini diberikan berdasarkan hasil kajian dan analisa dari tim Walhi Sulawesi Selatan atas respons bencana banjir dan longsor yang menewaskan 13 warga dan dampak kerusakan lainnya di Kabupaten Luwu, Enrekang, Sidrap, Wajo, dan Soppeng.

Dalam kajian tersebut Walhi mendapati lima kabupaten yakni Luwu, Enrekang, Sidrap, Wajo, dan Soppeng yang dilanda bencana banjir dan longsor sejak 3 April 2024 telah memiliki wilayah tutupan hutan di bawah 30 persen.

Kemudian menemukan aktivitas ekstraktif dan alih fungsi hutan di daerah inti penyangga pegunungan Latimojong telah memperparah banjir serta tanah longsor yang melanda Kabupaten Luwu, Enrekang, Sidrap, dan Wajo.

Pasalnya, kata dia, di sekitar kawasan penyangga pegunungan itu terdapat wilayah pertambangan emas dan beberapa aliran sungai di antaranya juga dibebani oleh pertambangan galian C atau penggalian pasir sungai berizin.

Kondisi itu, lanjut dia, semakin diperparah karena jenis tanah di sekitar wilayah itu masuk dalam kategori tanah andosol dan latosol yang rentan erosi utamanya ketika musim hujan tiba sehingga alih fungsi lahan untuk aktivitas ekstraktif dan perkebunan di kawasan itu akan mendorong terjadi banjir dan longsor.

"Secara umum kajian yang dilakukan menunjukkan bahwa daya dukung dan daya tampung air Gunung Latimojong telah menurun beberapa tahun terakhir seiring dengan kegiatan perusahaan itu maupun tambang ilegal," ujarnya.

Sebelumnya diketahui data dari Kantor SAR Makassar mengungkap identitas ke-13 orang korban meninggal dunia itu adalah Rumpak (97), Jatima (55), Rima (84), Muh Misdar (29), Mawi (57), Sukma (9), Kapila (84), Ambo Accung, Nadira (40), Sunarti (40), Ulfiana (8), Mutmita (5), dan Suardi (70).

Kepala Kantor SAR Makassar Mexianus Bebabel mengatakan, Suardi menjadi korban terakhir yang jasadnya ditemukan terseret sejauh 200 meter di bawah rakit mesin penghisap pasir di Sungai Cimpu, Latimojong, Luwu, pada Selasa (7/5) siang.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.