Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Utang Sudah Menjadi Hantu bagi Fiskal Indonesia

📅 Selasa, 07 Mei 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Utang Sudah Menjadi Hantu bagi Fiskal Indonesia Doc: Sumber: Bank Indonesia – Litbang KJ/and - KJ/ONES

JAKARTA - Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa semua negara saat ini khawatir pada harga minyak, tingkat bunga, dan pinjaman semestinya ditindakjanjuti para menteri-menteri melalui kebijakan fiskal dengan mengurangi penarikan utang.

Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, mengatakan pemerintah jangan sebatas mewacanakan kekhatiran ekonomi global, tetapi justru harus menunjukkan konsistensi dalam setiap kebijakan.

Menurut dia, pernyataan Presiden bahwa seluruh pemimpin dunia mengkhawatirkan membengkaknya bunga utang, semestinya diwujudkan dalam kebijakan fiskal pemerintah dengan terus mengurangi jumlah utang.

"Cicilan bunga utang kita hampir 500 triliun rupiah atau 15 persen dari total APBN. Belum jatuh tempo pokok utang, sementara kemampuan kita meningkatkan pendapatan negara tidak membaik," kata Maruf.

Apalagi, pekan lalu, Kemenkeu mengumumkan bahwa pendapatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) turun. Kondisi tersebut menandakan kemampuan meningkatkan pendapatan juga turun.

Maruf menyebut utang telah menjadi hantu bagi fiskal Indonesia. Debt trap yang menghancurkan Indonesia di akhir 90-an bisa terulang di masa depan dalam bentuk yang lain.

Jika dulu utang Indonesia dalam bentuk utang luar negeri pada lembaga-lembaga multilateral, hari ini utang didominasi oleh SBN. Dengan melemahnya performa ekonomi Indonesia di tengah gonjang-ganjing ekonomi global, bunga SBN Indonesia terus meningkat. "Jangan hanya berlindung kepada angka positif neraca keseimbangan primer, karena itu tidak menggambarkan percepatan penambahan utang dan perlambatan pertumbuhan pendapatan," tandas Maruf.

Dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2024 di Jakarta, Senin (6/5), Presiden meminta jajarannya agar berhati-hati mengelola setiap rupiah dari APBN maupun APBD di tengah situasi perekonomian dunia yang sulit.

"Semua negara kini takut terhadap harga minyak, dan masalah bunga pinjaman. Semua pada takut masalah itu, karena begitu bunga pinjaman naik sedikit saja, beban fiskal itu akan sangat besar," kata Presiden.

Bentuk Otokritik

Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, yang diminta pendapatnya mengatakan apa yang disampaikan Presiden sebenarnya juga bentuk otokritik terhadap kabinetnya sendiri, khususnya terhadap tim ekonominya. "Ini mengkritik diri sendiri dan harapannya harus lebih mengerem menarik utang baru lagi ke depannya," tegas Badiul.

Peringatan Presiden, jelas Badiul, sebagai bentuk kehati-hatian dan untuk mengantisipasi segala kemungkinan sebagai dampak dari krisis global yang akan berdampak pada perekonomian nasional, terutama kenaikan harga minyak dunia.

Berkaitan dengan suku bunga pinjaman, pemerintah harus menunjukkan komitmennya. "Jangan sampai bunga pinjaman naik, tapi pemerintah tetap menjadikan pinjaman luar negeri sebagai instrumen pembiayaan utama setelah APBN, sehingga utangnya semakin menumpuk, itu namanya inkonsisten," tandas Badiul.

Meskipun pemerintah masih menganggap utang negara selama ini masih terkendali dan terkelola dengan baik, tetapi dampaknya bisa muncul dalam jangka panjang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...
Megapolitan
Urus SIM Tak Repot Lagi, Ad...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.