- Home
-
- Luar Negeri
-
- Model Iklan 'AI' di Jepang...
Model Iklan 'AI' di Jepang Ciptakan Peluang dan Kekhawatiran
Sabtu, 04 Mei 2024, 02:50 WIBDalam sebuah tayangan iklan televisi di Jepang, seorang perempuan muda dengan wajah segar menawan mempromosikan minuman teh hijau yang menjanjikan umur panjang dan kesehatan. Tehnya asli, tetapi model yang memegang botol minuman itu tidak.
Perempuan ini diciptakan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif untuk iklan TV. Tren ini membuat para artis Jepang mengkhawatirkan mata pencaharian mereka. Sementara produsen minuman terkemuka, Itoen, ingin konsumen mengaitkan produk teh hijaunya dengan kesehatan masa depan.
"Guna mencapai tujuan itu, kami berupaya menunjukkan karakter dengan penampilan yang sama pada saat ini dan 30 tahun mendatang. Menurut kami, AI menjadi cara terbaik untuk melakukan hal itu," kata Yusuke Kamijo, pejabat pemasaran perusahaan ini.
Karakter ini diciptakan oleh Yuki Nakayama, kepala bagian teknologi perusahaan rintisan, AI Model. "Ratusan permintaan datang dari berbagai perusahaan sejak iklan tersebut ditayangkan. Kami terkejut dengan responsnya," kata Nakayama.
Nakayama menggunakan sistem AI generatif dengan hak cipta untuk membuat ribuan wajah. Ia mencari mata, alis, dan fitur wajah yang tepat, termasuk tahi lalat. Kemudian, ia mempersempitnya menjadi 200 pilihan untuk ditentukan oleh kliennya.
Nakayama mengatakan AI generatif cenderung membuat wajah terlihat kaku saat usianya bertambah. Maka itu untuk proyek ini, versi akhirnya memerlukan penyuntingan detail dengan tangan manusia. Ia mengatakan perusahaan rintisannya hanya menggunakan data yang sudah mendapatkan hak cipta.
"Kelebihan penggunaan karakter yang dihasilkan AI adalah bisa mengekspresikan sesuatu yang tidak dapat dilakukan manusia dan menunjukkan kreativitas yang lebih luas. Saya rasa AI generatif adalah alat yang unggul dalam memperluas cakupan seni kita. Menurut saya model manusia dan model AI memiliki tujuan yang berbeda," kata dia.
Iklan yang menggunakan model AI kini makin bertambah. Iklan pengembang properti, Parco, misalnya yang menggunakan teknologi canggih tersebut bukan hanya untuk model. Baru-baru ini, perusahaan itu membuat iklan yang menampilkan gambar, musik, dan narasi yang diciptakan melalui AI.
Miho Kinomura dari Studio Dog, direktur kreatif untuk iklan Parco tersebut, menjelaskan bahwa sewaktu memasukkan perintah ke perangkat lunak AI generatif, diperlukan instruksi detail terkait figur model, fesyen, dan tata cahaya. Ia mengatakan nuansa halus dalam penulisan kata-kata bahkan dapat membuat hasil gambarnya berubah.
Hasilnya, AI membuat direktur kreatif melakukan ratusan uji coba, sekitar sepuluh kali lipat dari upaya yang diperlukan untuk pengambilan gambar model manusia, kata dia. Sedangkan Proses kreatif ini berlangsung lebih dari enam bulan, menghabiskan lebih banyak waktu dibandingkan iklan biasa.
"Saya rasa AI generatif menunjukkan visual mengagumkan yang melampaui imajinasi kita, misalnya gambar latar belakangnya. Selain itu, melalui produksi ini, saya menyadari bahwa para kreator harus menunjukkan kompetensi yang tinggi agar AI bisa dimanfaatkan secara efektif," tegas Kinomura.
Artis Suarakan Keprihatinan
Di sisi lain penerapan AI yang berevolusi dengan cepat ini ternyata telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan artis. Salah satunya adalah aktris Megumi Morisaki merupakan ketua Asosiasi Pekerja Seni Jepang yang mewakili lebih dari 52.000 pekerja lepas.
"Kemunculan model AI sangat mengejutkan," kata Morisaki. "Mungkin bukan hanya berdampak pada model, tetapi juga penata gaya, penata cahaya, dan banyak pekerjaan lain yang terkait dengan pembuatan iklan. Jika ini menyebar, kita bisa menghadapi krisis yang pada akhirnya akan membuat pekerjaan berkurang," tutur dia.
Hampir 60 persen responden survei anggota asosiasi ini menyuarakan keprihatinan. Mereka juga mengkhawatirkan pelanggaran hak paten anggotanya. Morisaki telah menemukan bahwa fotonya digunakan untuk melatih AI.
Ia menambahkan bahwa para penampil di Jepang kerap bekerja tanpa menandatangani kontrak atau klausul yang menyerahkan semua hak paten mereka. Morisaki mengatakan para artis sudah dalam posisi yang lemah dan perkembangan terbaru ini akan makin memperburuk kondisi mereka.
Sementara itu Aoi Ueda, seorang pengacara spesialisasi isu terkait AI dan industri hiburan, menegaskan minimnya perlindungan hukum bagi para artis. "Para penampil terkenal barangkali tidak terpengaruh, tetapi mereka yang kurang terkenal mungkin jadi lebih rentan. Hanya manusia yang benar-benar dapat menciptakan sesuatu dari nol," kata dia. NHK/And
Redaktur: andes
Penulis: Andes
Berita Terkait:
-
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta akan Tindaklanjuti Temuan BRIN Soal Mikroplastik di Air Hujan
-
Momen Haru di Tokyo, Donald Trump Janji Bantu Jepang Pulangkan Warganya yang Diculik Korea Utara
-
Rahasia Orang Jepang Bikin Tabungan Gemuk, 6 Trik Kakeibo Ini Bikin Duit Nggak Cepat Habis!
-
Pipa Gas PT TGI Meledak di Inderagiri Hilir, 10 Orang Terluka
-
KAI Daop 7 Madiun Ungkap Perjalanan KA Terdampak Anjlokan KA Purwojaya Relasi Gambir–Cilacap
-
Stok Pulih, Harga BBM di SPBU BP Turun Mulai 1 November 2025
-
Shai Gilgeous-Alexander dan Jalen Brunson Dinobatkan sebagai Pemain Terbaik NBA Desember 2025
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.