Segmen UMKM dan Konsumer jadi Mesin Pertumbuhan Baru BNI

Selasa, 30 Apr 2024, 09:08 WIB

JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI konsisten mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif dan berkelanjutan pada periode awal tahun 2024.

Hal itu terlihat pada kinerja signifikan pada pengembangan segmen pembiayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan konsumer melalui perusahaan anak PT Bank Hibank Indonesia (hibank) dan BNI Finance sebagai mesin pertumbuhan baru di luar kredit korporasi blue chip yang terus tumbuh.

Ket. Foto: Direktur Utama Bank BNI, Royke Tumilaar saat memaparkan kinerja kuartal I-2024 di Jakarta, Senin (29/4) — Sumber: istimewa

alam paparan kinerja keuangan kuartal I-2024, Senin (29/4) Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar mengatakan pertumbuhan kredit segmen UMKM hibank mencapai 72 persen secara tahunan atau year on year/yoy. Sedangkan, pertumbuhan pembiayaan BNI Finance meningkat 370 persen yoy yang didominasi pembiayaan konsumer.

Kinerja kredit dari dua perusahaan anak tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan kredit secara konsolidasi. Total kredit BNI sepanjang kuartal I-2024 tercatat sebesar 695,16 triliun rupiah, tumbuh 9,6 persen yoy atau dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 634,3 triliun rupiah.

Dengan pertumbuhan kredit itu, BNI membukukan pendapatan bunga 15,87 triliun rupiah, tumbuh 7,2 persen yoy dari sebelumnya sebesar 14,8 triliun rupiah, yang didorong oleh kinerja fungsi intermediasi yang sehat.

Pertumbuhan yang kuat, jelas Royke juga didukung oleh perbaikan kualitas aset yang tecermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross yang turun dari 2,8 persen pada kuartal I-2023 menjadi 2,0 persen pada kuartal I-2024. Hal itu diikuti pula dengan credit cost yang turun 40 basis poin menjadi 1,0 persen.

Perseroan kata Royke tetap fokus pada peningkatan kualitas aset yang diharapkan akan mendorong kinerja fungsi intermediasi yang berkelanjutan di tengah tantangan geopolitik global, tekanan inflasi, dan suku bunga.

Selain pertumbuhan bisnis yang sehat, perusahaan juga mampu meningkatkan pendapatan nonbunga berupa fee based income dan loan recovery yang mencapai 5,1 triliun rupiah atau tumbuh 15,9 persen dari sebelumnya sebesar 4,4 triliun rupiah.

Dengan peningkatan itu, komposisi pendapatan non bunga telah berkontribusi sebesar 35 persen dari total pendapatan BNI pada kuartal I-2024, terutama berasal dari fee income surat berharga dan fee dari bisnis sindikasi.

Kombinasi dari perbaikan fundamental, termasuk peningkatan fee based income, efisiensi operasional, serta kualitas aset yang terus membaik mendorong BNI meraih laba bersih sebesar 5,33 triliun rupiah pada kuartal I-2024, atau tumbuh 2 persen yoy.

Royke juga menegaskan, perseroan terus melanjutkan transformasi perusahaan yang sudah berjalan selama tiga tahun agar mampu memberikan tingkat profitabilitas yang kuat dan sehat dalam jangka panjang.

"Fundamental BNI semakin sehat dan kuat berkat program transformasi yang menjadi langkah besar kami untuk terus tumbuh dan berkembang serta beradaptasi terhadap tantangan di tingkat nasional dan global," kata Royke.

Dia menegaskan kalau BNI berada di jalur yang tepat untuk mencapai aspirasi profitabilitas Return on Equity (RoE) hingga level 20 persen pada 2028 mendatang. Hal itu didasari oleh pertumbuhan aset yang stabil dan berkelanjutan dari segmen prospektif berisiko rendah serta kualitas aset yang semakin sehat.

"Dengan program transformasi, kami konsisten melakukan peningkatan kapabilitas SDM dan optimalisasi teknologi sebagai faktor enablers yang krusial. Kami yakin hal ini akan terus mendorong peningkatan produktivitas bisnis, efisiensi operasional, serta kontribusi perusahaan anak," ujar Royke.

BNI terus melakukan perbaikan struktural melalui transformasi yang telah dijalankan dari awal tahun 2020. Beberapa hal yang telah BNI lakukan dalam empat tahun terakhir meliputi penguatan struktur pemodalan, perbaikan internal bisnis proses, hingga penguatan struktur organisasi yang telah memberikan dampak signifikan pada pertumbuhan bisnis BNI.

Peningkatan Kapasitas Pemasar

Tantangan terbesar selanjutnya kata Royke adalah perubahan perilaku nasabah yang menuntut kecepatan. Untuk merespon hal tersebut, BNI pada 2024 akan fokus pada transformasi peningkatan produktivitas tenaga pemasar (sales) di seluruh kantor wilayah dan cabang. Langkah ini bertujuan agar BNI dapat memberikan layanan yang optimal, responsif, serta secara konsisten memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Transformasi peningkatan produktivitas sales yang dilakukan mencakup peningkatan kapabilitas cross-selling tenaga pemasar, penguatan tools digital sebagai pendukung proses penjualan, serta peningkatan manajemen kinerja yang dapat meningkatkan efektivitas kerja sales.

"Kami percaya bahwa transformasi ini dapat memberikan dampak positif pada pertumbuhan bisnis dan kualitas aset secara keseluruhan di masa depan," kata Royke.

Terkait perkembangan geopolitik global, nilai tukar, tekanan inflasi serta suku bunga, Royke mengatakan, perseroan senantiasa menganalisis semua perkembangan secara cermat guna dapat mengambil keputusan bisnis yang tepat.

"Dengan optimisme terhadap kondisi makro ekonomi Indonesia yang tetap sehat dan stabil, BNI yakin bahwa langkah-langkah yang telah dilakukan akan terus mendukung pertumbuhan bisnis BNI secara berkelanjutan," kata Royke.

Royke menjelaskan, BNI telah melakukan langkah-langkah prudent dan strategis dalam mengelola kondisi likuiditas terutama pendanaan valas melalui penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan kebijakan pricing yang efisien. Selain melalui sumber DPK, BNI memanfaatkan positioning yang kuat di pasar Internasional untuk memperoleh alternatif pendanaan lain yang lebih luas.

BNI baru-baru ini menerbitkan obligasi global senilai 500 juta dollar AS atau sekitar 7,95 triliun rupiah pada tanggal 5 April 2024. Penerbitan Obligasi Global dengan tenor 5 tahun itu mendapat respon positif dari investor global, ditandai dengan kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 6,4 kali dari rencana nilai yang diterbitkan. Tingginya kepercayaan investor global membuat BNI mampu menekan yield obligasi hanya di kisaran 5,3 persen ketika bookbuilding atau pembentukan harga.

Sebagai langkah strategis ke depan, BNI akan lebih hati-hati dalam menyalurkan kebutuhan kredit berbasis valas dan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah, sambil terus menjaga kualitas portofolio kredit valas.

"Selain itu, BNI juga menerapkan manajemen risiko yang ketat dengan melakukan stress test terhadap kondisi makro ekonomi Indonesia mulai dari pergerakan nilai tukar hingga suku bunga ke depan," tambah Royke.

Kredit Tumbuh Sehat

Direktur Finance BNI Novita Widya Anggraini dalam kesempatan yang sama mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai langkah antisipatif dalam mengelola risiko yang terkait dengan tekanan inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan tekanan suku bunga.

Kredit BNI utamanya terdistribusi ke segmen kredit korporasi swasta sebesar 272,1 triliun rupiah atau tumbuh 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023. BNI juga mencatat penyaluran kredit ke BUMN sebesar 102,7 triliun rupiah atau tumbuh 23 persen dibandingkan kuartal I-2023.

Pada segmen kredit konsumer, Kredit Pemilikan Rumah (BNI Griya) juga tumbuh 10,3 persen yoy menjadi 60,1 triliun rupiah. Adapun Kredit Tanpa Agunan tumbuh 17 persen menjadi 52,1 triliun rupiah. Sementara itu, pertumbuhan Kartu Kredit juga mencapai 10,4 persen menjadi 14,2 triliun rupiah.

"Kami melihat seluruh sektor mampu tetap tumbuh positif, berkualitas, dan resilient dengan fokus pada sektor perdagangan di tengah tekanan geopolitik global, nilai tukar, inflasi serta kenaikan suku bunga," jelas Novita.

Lebih lanjut, dukungan pada segmen UMKM yang dilaksanakan BNI Group juga menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini ditunjukkan oleh kinerja luar biasa dua perusahaan anak, yaitu hibank dan BNI Finance.

"Melihat besarnya potensi dari segmen UMKM, BNI berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik melalui solusi digital. Jadi, itulah sebabnya kami fokus untuk mengembangkan hibank menjadi bank digital yang kuat secara fundamental," kata Novita.

Pertumbuhan kredit juga ditopang pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 780,23 triliun rupiah atau tumbuh 4,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023 seiring dengan peningkatan transaksi berbasis dana murah.

Kontribusi dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) masih mendominasi sebesar 543,50 triliun rupiah atau 69,7 persen dari total DPK. CASA BNI tersebut naik 6,0 persen dibandingkankuartalI-2023.

"Kami menyadari adanya tren kenaikan suku bunga yang berdampak pada kenaikan biaya dana pada kuartal I-2024, sehingga terjadi penurunan margin. Namun demikian margin bunga bersih (NIM) masih dapat dijagapadalevel4 persen," kata Novita.

Lebih lanjut Novita mengatakan, pada kuartal pertama tahun ini, kualitas aset BNI juga tercatat semakin membaik yang terlihat dari penurunan rasio Non Performing Loan (NPL) dan rasio Loan at Risk (LaR).

Rasio NPL gross pada akhir kuartal I-2024 turun ke level 2,0 persen, jauh lebih rendah daripada kuartal I-2023 yang tercatat 2,8 persen. Berikutnya, rasio Loan at Risk turun ke level 13,3 persen dari tahun sebelumnya pada level 16,3 persen.

Digital Banking

BNI tambah Novita akan melanjutkan pertumbuhan digital banking yang menjadi salah satu agenda utama perseroan. BNI secara konsisten meningkatkan kapabilitas dan terus inovatif dalam pengembangan solusi keuangan digital yang sesuai dengan kebutuhan nasabah khususnya di segmen ritel melalui BNI Mobile Banking.

Jumlah pengguna BNI Mobile Banking pada kuartal I-2024 mencapai 16,9 juta atau tumbuh 18,5 persen yoy. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan nilai transaksi yang mampu mencapai 347 triliun rupiah dalam kuartal I-2024, tumbuh 35,9 persen. Sementara jumlah transaksi tumbuh 54,9 persen menjadi 318 juta.

"Pencapaian ini merupakan refleksi bahwa kami berada di jalur yang tepat dalam transformasi digital yang berjalan secara mulus mengikuti kebutuhan nasabah," kata Novita.

Novita menyebutkan bahwa BNI Mobile Banking telah menjadi Super Apps Ecosystem yang menghadirkan solusi finansial untuk kebutuhan harian, wealth management, digital lifestyle, digital loan & credit card, personal financial management, experience & engagement, hingga sejumlah valueaddedservices.

"Melalui BNI Mobile Banking, kami terus memperluas layanan dengan memanfaatkan ekosistem kami untuk menjawab setiap kebutuhan nasabah di era perbankan digital modern ini. Hal ini bertujuan untuk membantu pertumbuhan nasabah dari hanya melakukan transaksi dasar hingga mencapai tujuan keuangan mereka," katanya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Vitto Budi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.