• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Lempeng Tektonik Anak Benu...

Lempeng Tektonik Anak Benua India Terbelah Dua

Jumat, 15 Mar 2024, 06:10 WIB

Lempeng tektonik di bawah Tibet merupakan bagian dari Anak Benua India yang terbelah menjadi dua menurut laporan penelitian terbaru. Lempeng India yang terkelupas diyakini dapat mempengaruhi bahaya gempa bumi.

Himalaya adalah sebuah barisan pegunungan di Asia, yang memisahkan anak Benua India dari Dataran tinggi Tibet. Lokasi ini merupakan tempat gunung-gunung tertinggi di dunia, misalnya Gunung Everest dan Kangchenjunga.

Ket. Foto: — Sumber: afp/ Aamir QURESHI

Pegunungan itu memanjang sepanjang lima negara Afghanistan, Pakistan, India, Tiongkok, Bhutan, Nepal, dan Myanmar. Pegunungan itu adalah sumber dua sistem sungai besar dunia Sungai Indus dan Sungai Gangga-Brahmaputra.

Pegunungan Himalaya terbentuk karena tumbukan benua Eurasia dengan anak benua India. Dalam catatan geologi, ada sebuah Superbenua bernama Pangea yang terpecah sekitar 180 juta tahun lalu dan membentuk 2 benua raksasa (Laurasia dan Gondwana). Gondwana salah satu benua pecahan Pangea mulai terpecah sekitar 200-160 juta tahun lalu sehingga terpecah menjadi Antartika, Australia, Afrika, Amerika Selatan, dan Anak Benua India.

Anak Benua India terpisah dari benua raksasa tersebut sekitar 110 juta tahun yang lalu. Selanjutnya mulai bergerak ke utara mengarah ke Eurasia, kemudian bertabrakan dengan Eurasia sekitar 55 juta tahun lalu.

Lempeng India yang menggerakkannya sangat menekan ke Lempeng Eurasia. Tubrukan ini menyebabkan terbentuknya Pegunungan Himalaya. Ketinggian pegunungan ini semakin tinggi terus meninggi seiring dengan tabrakan India dan Eurasia sejak 55 juta tahun yang lalu.

Puncak-puncak di Himalaya yang menjulang tinggi merupakan medan pertempuran geologis. Di sini selama jutaan tahun terjadi tabrakan lempeng tektonik India dan Eurasia secara perlahan yang menciptakan pegunungan yang membentang dari Afghanistan, Pakistan, India, Tiongkok, Bhutan, Nepal dan Myanmar.

Krisis ini dimulai sekitar 60 juta tahun yang lalu ketika India, yang saat itu merupakan sebuah pulau, bertumbukan dengan lempeng Eurasia. Lama-kelamaan membuat permukaannya melengkung dan membentuk Himalaya, pegunungan tertinggi di Bumi.

Dari peristiwa tumbukan lempeng tersebut puncak Pegunungan Himalaya hanya sekedar kebisingan dan asap pertempuran. Di bawahnya pada kedalaman puluhan kilometer terjadi manuver tektonik memicu bentrokan tersebut sekaligus menyimpan misteri.

Lempeng tektonik benua, tidak seperti lempeng samudra yang padat dan tebal. Bobot materialnya lebih ringan, sehingga tidak mudah tenggelam, atau menukik, ke dalam mantel sehingga ketika terjadi tumbukan posisinya masih berada di atas.

Beberapa ilmuwan percaya bahwa Lempeng Hindia menolak untuk tenggelam ke dalam mantel dan terus meluncur secara horizontal di bawah kawasan Tibet. Pendapat lain menyatakan, bagian paling apung dari Lempeng Hindia berkerut seperti permadani di sepanjang tepi depan tumbukan, sehingga memudahkan bagian bawah lempeng untuk tenggelam ke kedalaman.

Kini, analisis baru mengenai gelombang gempa yang merambat di bawah Tibet dan gas yang naik ke permukaan menunjukkan kemungkinan lain, yang pada dasarnya memisahkan perbedaan antara kedua skenario tersebut.

Sebagian Lempeng Hindia tampak "delaminasi" (delaminating) saat meluncur di bawah Lempeng Eurasia, dengan bagian bawah yang padat terkelupas dari atas. Studi ini juga menemukan bukti adanya retakan vertikal, atau robekan, pada batas antara bagian lempengan yang terkelupas dan bagian sekitarnya yang masih utuh.

"Kami tidak mengetahui bahwa benua dapat berperilaku seperti ini, dan bagi ilmu Bumi, hal ini merupakan hal yang sangat mendasar," kata Douwe van Hinsbergen, ahli geodinamika di Universitas Utrecht dikutip dari lamanscience.org.

Bahaya Gempa

Dalam karya yang dipresentasikan pada Desember 2023 di konferensi American Geophysical Union dan dalam cetakan awal yang diposting daring, dapat membantu para ilmuwan lebih memahami pembentukan Pegunungan Himalaya yang perkasa dan bahkan mungkin bahaya gempa bumi di wilayah tersebut.

Fabio Capitanio, ahli geodinamika di Monash University, memperingatkan bahwa masih banyak ketidakpastian mengenai proses tersebut, dan data yang tersedia terbatas. "Itu hanya gambaran singkat saja," kata dia.

Namun penelitian ini merupakan langkah penting menuju pemahaman bagaimana lanskap modern terbentuk. "Ini jelas merupakan jenis pekerjaan yang perlu kami lakukan kedepannya," ujar Capitanio.

Para ilmuwan telah lama memperkirakan lempeng tektonik bisa terurai seperti ini. Lempeng tersebut merupakan kombinasi berlapis kerak apung dan batuan mantel atas yang lebih padat. Saat diperas dan dikentalkan, pelat mungkin terbelah di sepanjang antarmuka lemah antar lapisan. Umumnya proses tersebut sebagian besar dipelajari di bagian dalam lempeng benua yang tebal dan disimulasikan dalam model komputer.

"Ini adalah pertama kalinya… hal ini terjadi saat kondisi sedang turun," kata van Hinsbergen.

"Tabrakan Himalaya adalah tempat yang menjanjikan untuk mencari lempeng yang terkoyak," ujar Peter DeCelles, ahli geologi di Universitas Arizona.

Sebelum tumbukan dimulai, Lempeng Hindia memiliki ketebalan dan komposisi yang bervariasi, yang membantu menjelaskan bentuk bulan sabit di bagian depan Himalaya sepanjang 2.500 kilometer.

Ia membandingkan lempeng kuno tersebut dengan pari manta: sepasang sayap tipis kerak samudera yang mengapit bagian tengah kerak benua yang tebal. Lempengan samudera yang tipis langsung tenggelam ke bawah Lempeng Eurasia, sementara kerak benua yang tebal menghantam Eurasia seperti pendobrak.

Perbedaan kecepatan subduksi kemungkinan besar menarik dan merobek Lempeng Hindia ke berbagai arah. Para ilmuwan telah mengusulkan begitu banyak terobosan dalam beberapa tahun terakhir. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Karhutla dan Asap Jadi Ancaman, Wamenko Dorong Penanganan yang Lindungi Kesehatan

Gagal Juara Bukan Akhir! Timo Apresiasi Mental Tangguh Timnya

Ratu Tisha Ungkap Mimpi Besar Timnas Indonesia: Harus Punya Mental Baja!

Tiongkok Mendadak Tunda Misi Bulan Chang’e-7, Ada Masalah Usai Roket Meledak

Antisipasi Gempa Susulan, Misa Digelar di Halaman Gereja

ISPA Jadi Keluhan Terbanyak di Pengungsian Gempa NTT, Posko Kesehatan Disiagakan

Kemarau Panjang, Debit Situ Cileunca Menyusut dan Ganggu Pasokan Air Bersih Bandung Raya

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.