Peluang Ekspor Rempah-rempah Indonesia Masih Menjanjikan
Jumat, 23 Feb 2024, 00:18 WIBYogyakarta - Pakar Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Djagal Wiseso Marseno mengatakan peluang ekspor komoditas rempah-rempah Indonesia masih menjanjikan karena pasar herbal dan rempah-rempah kering dunia diprediksi terus meningkat di masa depan.
"Pangsa pasarnya itu diperkirakan ada 8,4 miliar dolar pada akhir 2028," kata Djagal dalam keterangannya di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, rempah-rempah masih menjadi komoditas andalan yang diekspor Indonesia yang terbukti dengan tingginya perdagangan lada, cengkeh, pala, hingga kayu manis ke negara-negara Eropa.
Kekayaan komoditas rempah, kata Djagal, juga berpotensi mendukung ketahanan pangan Indonesia lebih kuat dibanding negara lain.
Menurut dia, sejak berabad-abad lalu, Indonesia memiliki potensi sumber daya yang melimpah termasuk keragaman budaya dan rempah-rempah menjadi daya tarik tersendiri di mata dunia.
Karena itu, potensi tersebut perlu dikembangkan agar mampu menjadi nilai jual sekaligus fondasi ketahanan pangan nasional.
Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan Negara ASEAN, dia menyebut Indonesia masih menduduki peringkat empat di bawah Vietnam.
Padahal, dengan kondisi geografis Indonesia yang menguntungkan seharusnya mampu mendongkrak ketahanan pangan nasional.
"Itu menurut indeks global. Rempah-rempah ini tumbuh dengan mudah di negara tropis, perawatan dan ketahanannya juga mudah. Mudah diusahakan dengan skala kecil dan skala besar," kata dia.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof Supriyadi menambahkan selain rempah-rempah,, "stinky beans" atau kacang-kacangan dengan bau menyengat seperti petai dan jengkol juga memiliki potensi ekspor tinggi.
Menurut dia, tanaman petai dan jengkol tumbuh subur di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dan umumnya pada lahan yang dimiliki warga secara mikro dan menyebar, tidak dalam satu lahan yang besar.
"Proses produksi dan distribusi perdagangan petai ini masih kurang baik. Pengangkutan dilakukan besar-besaran, ditumpuk, untuk menghemat biaya. Padahal, kalau diperhatikan petai setelah dipanen masih melakukan respirasi, dan ini berpengaruh terhadap kualitas petai tersebut," ujar dia.
Berita Terkait:
-
BPS Catat Ekspor Papua Barat Turun 22,37 Persen hingga Agustus 2026
-
Fasilitas Dagang Bakal Dicabut 2027, Kemendag Kebut CEPA RI-Inggris
-
464 Sekolah Rusak Parah, DPRD Sampang Minta Pemkab Gunakan Dana BTT Darurat
-
KKP Tetapkan Kawasan Konservasi Teon, Nila & Serua Seluas 683 Ribu Ha
-
Cuaca Jakarta: BMKG Prakirakan Jakarta Timur Hujan Ringan pada Sabtu Sore
-
171 Desa Jadi Benteng Baru! Imigrasi Sumut Perketat Cegah TPPO dan TPPM
-
Semburan asap di Pasar Baru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.