Gelembung Ekonomi akibat Kredit ke Properti Mulai Pecah

Kamis, 01 Feb 2024, 00:04 WIB

JAKARTA - Likuidasi terhadap perusahaan pengembang raksasa China Evergrande menjadi sinyal kalau krisis utang mulai bergulir dari sektor properti. Pemberian kredit dari bank yang jor-joran selama ini memicu konsumen menjadikan sektor properti sebagai ajang spekulatif yang memicu gelembung ekonomi.

Bubble ekonomi tersebut sudah mulai pecah dengan likuidasi China Evergrande yang dikhawatirkan merambah ke perusahaan lainnya hingga ke sektor keuangan yang telah menyalurkan kredit secara jor-joran.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: Kementerian Pertanian - KJ/ONES

Bukan hanya di Tiongkok, negara-negara yang memiliki hubungan dagang dan ekonomi dengan negara ekonomi terbesar kedua dunia itu dikhawatirkan juga akan tertular sehingga dampaknya kian meluas.

Bahkan, banyak negara yang mendapat pembiayaan juga khawatir bakal kena rambatan krisis tersebut. Apalagi negara-negara yang otoritas sektor jasa keuangannya tidak mengontrol penyaluran kredit besar-besaran ke sektor properti.

Indonesia, misalnya, juga harus waspada karena penyaluran kredit ke sektor properti sudah jor-joran seperti pembiayaan ke berbagai pusat perbelanjaan (mal-mal) yang saat ini banyak yang mulai tutup.

Direktur Celios, Bhima Yudisthira, yang diminta pendapatnya dari Jakarta, Rabu (31/1), mengatakan sebagai implikasi dari risiko krisis properti di Tiongkok maka sangat perlu menjadikan sebagai pelajaran dan peringatan bagi industri perbankan di Tanah Air agar mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit ke sektor konstruksi khususnya kredit pemilikan rumah (KPR).

"Beberapa proyek yang alami bubble bisa berdampak sistemik ke sektor keuangan sehingga perlu dicermati dengan sangat hati hati," tegas Bhima.

Krisis properti di Tiongkok, jelasnya, seperti gelembung yang berdampak ke berbagai sektor pembiayaan. Perusahaan dan lembaga pembiayaan Tiongkok yang sebelumnya masif masuk ke proyek infrastruktur di luar teritori mereka seperti ke Indonesia, tentu juga akan berpikir ulang soal kalkulasi risiko.

"Fokus utama adalah menyelesaikan masalah domestik sehingga ekspansi Tiongkok dalam Belt and Road Initiative diperkirakan bisa terpengaruh," tegasnya.

Masalahnya, beberapa proyek strategis Indonesia bergantung pada pembiayaan negara tersebut. Dari sisi kinerja perdagangan juga perlu diwaspadai adanya kontraksi pada kinerja ekspor ke Tiongkok seiring dengan pelemahan konsumsi dan penjualan ritelnya.

Dihubungi pada kesempatan terpisah, Direktur Narasi Institute, Achmad Nur Hidayat, mengatakan indikator risiko saat ini cenderung meningkat. Para otoritas stabilisasi keuangan harus waspada terutama kolapsnya properti di Tiongkok.

"Kewaspadaan tersebut karena efek tular (contagon effect) sektor properti yang akan menghantam sektor keuangan Tiongkok dan akhirnya menyebar ke negara lain. Apalagi, dunia dalam 10 tahun terakhir menerima banyak likuiditas dari Tiongkok yang sumber utamanya berasal dari leveraging sektor keuangan Tiongkok," kata Achmad.

Lebih Fleksibel

Pada kesempatan lain, peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mendorong pemerintah dan bank untuk lebih fleksibel dalam menyalurkan kredit ke sektor produktif seperti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Peranan UMKM itu sangat penting terhadap perekonomian dan menyerap banyak tenaga kerja," tegas Awan.

Sebelumnya, pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Nugroho Sasikirono, mengatakan permintaan produk properti didorong oleh motif konsumsi dan investasi telah berdampak pada kenaikan harga properti.

Fenomena peningkatan permintaan itu sering kali tidak disertai dengan peningkatan kapasitas keuangan calon pembeli. Untuk itu, perbankan dalam melakukan ekspansi kredit properti harus mengedepankan prinsp kehati-hatian yang ketat agar tidak menjadi kredit bermasalah.

"Tren kenaikan harga produk sektor properti akan sangat bermanfaat bagi bank karena mendorong ekspansi kredit. Meski demikian, jika tidak diimbangi dengan aturan kehati-hatian yang memadai, karena ekspansi tanpa kehati-hatian akan meningkatkan risiko bisnis bank. Ekspansi kredit properti yang berlebihan dapat menciptakan risiko kredit macet dan secara agregat dapat menciptakan risiko sistemik dalam sistem keuangan suatu negara," pungkasya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.