Kelompok Etnis Bersenjata Myanmar Klaim Kuasai Kota Penting di Utara

Sabtu, 06 Jan 2024, 14:38 WIB

BANGKOK - Aliansi dari kelompok-kelompok etnis minoritas bersenjata di Myanmar pada Jumat (5/1) malam mengklaim telah merebut kota di utara yang terkenal dengan operasi penipuan online, pukulan bagi junta militer Myanmar.

Militer menghadapi ancaman terbesar sejak merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 2021 setelah tiga kelompok etnis bersenjata - yang dikenal sebagai Aliansi Tiga Persaudaraan - melancarkan serangan besar-besaran pada Oktober di negara bagian Shan utara.

Ket. Foto: Anggota Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA) memegang bendera kelompok mereka saat berfoto di kendaraan lapis baja tentara yang ditangkap di Myanmar, Sabtu 28 Oktober 2023. — Sumber: AP/The Kokang

Sejak November, penduduk telah meninggalkan kota Laukkai, yang terletak di sebuah distrik yang berbatasan dengan Tiongkok yang dijalankan oleh milisi yang bersekutu dengan militer Myanmar dan terkenal dengan perjudian, prostitusi, dan penipuan online.

Aliansi tersebut - yang terdiri dari Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA), Tentara Arakan (AA) dan Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang (TNLA) - mengatakan bahwa kota tersebut kini berada di bawah kendali mereka.

"Seluruh anggota Komando Operasi Militer Angkatan Darat Myanmar di Laukkai dilucuti dan Laukkai menjadi wilayah bersih di mana tidak ada lagi anggota Angkatan Darat Myanmar," kata aliansi tersebut dalam pernyataannya.

Ia menambahkan sejumlah tentara junta, termasuk beberapa perwira, ditangkap dan dilucuti senjatanya.

Junta belum berkomentar.

Brigadir Jenderal TNLA Tar Bhone Kyaw mengkonfirmasi pada Sabtu (6/1) bahwa MNDAA telah merebut Laukkai.

"Itu adalah tanah mereka, mereka telah mendapatkannya kembali sekarang," katanya kepada AFP.

"Rakyat mereka tidak perlu lagi berada di bawah rezim militer," tambahnya.

Penipuan Online

Laukkai adalah kota yang jatuh ke dalam aliansi tersebut dan juga merupakan pusat perbatasan penting, sehingga merusak perdagangan antara Tiongkok dan junta Myanmar yang kekurangan uang.

Pemimpin Min Aung Hlaing menjadi terkenal pada tahun 2009 ketika, sebagai komandan regional, dia mengusir MNDAA dari kota tersebut.

Militer membentuk milisi yang kemudian menjadi kaya karena memproduksi narkoba dan menawarkan lokasi perjudian dan seks kepada pengunjung dari seberang perbatasan Tiongkok.

Meskipun Tiongkok adalah pemasok senjata utama dan sekutu junta, hubungan keduanya tegang dalam beberapa bulan terakhir karena kegagalan junta menindak operasi penipuan online yang menurut Beijing menargetkan warga negara Tiongkok.

Pada Sabtu, surat kabar pemerintah The Global New Light of Myanmar melaporkan, Min Aung Hlaing telah bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Sun Weidong di ibu kota Naypyidaw.

Keduanya "bertukar pandangan mengenai upaya untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di wilayah perbatasan antara Myanmar dan Tiongkok", katanya.

Meningkatnya pertempuran di dekat Laukkai mendorong Beijing meminta warganya meninggalkan daerah tersebut bulan lalu.

Para analis mengatakan Tiongkok memelihara hubungan dengan kelompok etnis bersenjata di Myanmar utara, beberapa di antaranya memiliki hubungan etnis dan budaya yang dekat dengan Tiongkok dan menggunakan mata uang serta jaringan telepon Tiongkok di wilayah yang mereka kuasai.

Serangan aliansi tersebut telah membangkitkan semangat penentang junta lainnya. Bentrokan telah menyebar ke timur dan barat Myanmar.

Menurut PBB, lebih dari setengah juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Puluhan kelompok etnis minoritas bersenjata memerangi militer Myanmar sejak merdeka dari Inggris pada 1948.

Beberapa kelompok menginginkan otonomi yang lebih besar, sementara yang lain hanya menginginkan hak untuk menjalankan perdagangan batu giok, obat-obatan, dan kayu yang menguntungkan di wilayah mereka.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Cabai Rawit Makin Pedas! Harga Capai Rp69.950/Kg dan Telur Ayam Rp29.250

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.