Diperkirakan 4,7 Miliar Orang Akan Melakukan Perjalanan Udara di 2024

Jumat, 08 Des 2023, 00:00 WIB

JENEWA - Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau International Air Transport Association (Iata), pada Rabu (6/12), mengatakan maskapai penerbangan diperkirakan akan mengalami permintaan perjalanan udara yang lebih tinggi pada tahun 2024, dengan perkiraan 4,7 miliar orang akan melakukan perjalanan.

Dikutip dari The Straits Times, jumlah ini akan menjadi rekor tertinggi dalam sejarah dan sekitar 4 persen lebih banyak dibandingkan 4,5 miliar orang yang melakukan penerbangan pada tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19 mendatangkan malapetaka pada perjalanan udara.

Ket. Foto: Pesawat terlihat di Bandara Internasional Benito Juarez, Mexico City, beberapa waktu lalu. Maskapai penerbangan diperkirakan akan mengalami permintaan perjalanan udara yang lebih tinggi pada 2024. — Sumber: DANIEL SLIM/AFP

Ketika merilis proyeksi ini, Iata mencatat bahwa industri penerbangan diproyeksikan akan mencapai laba bersih sebesar 25,7 miliar dollar AS pada tahun 2024 seiring berjalannya waktu pemulihan kerugian besar yang terjadi selama pandemi.

Iata adalah asosiasi perdagangan yang mewakili 320 maskapai penerbangan yang secara kolektif mencakup 83 persen lalu lintas udara global.

Badan industri ini memperkirakan bahwa profitabilitas bersih maskapai penerbangan akan stabil pada tahun 2024, namun akan terus tertinggal dibandingkan biaya modal pada tingkat global.

"Pendapatan industri penerbangan diperkirakan akan meningkat 7,6 persen hingga mencapai rekor 964 miliar dollar AS pada tahun 2024, dari yang lebih baik dari perkiraan sebesar 896 miliar dollar AS pada tahun 2023. Angka ini akan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan biaya sebesar 6,9 persen pada tahun 2024 yang berjumlah 914 miliar dollar AS," kata Iata.

Direktur Jenderal Iata, Willie Walsh, mengatakan proyeksi laba bersih tahun 2024 sebesar 25,7 miliar dollar AS merupakan penghormatan terhadap ketahanan industri, mengingat kerugian besar yang ditanggungnya dalam beberapa tahun terakhir. Laba bersih diperkirakan mencapai 23,3 miliar dollar AS pada tahun 2023. Walsh menggambarkan pemulihan industri ini sebagai sesuatu yang mengesankan.

"Namun, proyeksi margin laba bersih untuk tahun 2024 sebesar 2,7 persen adalah jauh di bawah apa yang dapat diterima oleh investor di hampir semua industri lainnya," tambahnya.

Margin laba bersih adalah ukuran seberapa besar pendapatan atau keuntungan bersih yang dihasilkan sebagai persentase dari pendapatan.

Laba operasional diperkirakan akan meningkat sebesar 21,1 persen menjadi 49,3 miliar dollar AS pada tahun 2024, namun margin laba bersih industri ini akan meningkat kurang dari separuh angka tersebut, sebagian besar disebabkan oleh perkiraan suku bunga yang lebih tinggi pada tahun 2024.

Dengan mempertimbangkan angka-angka ini, Walsh, yang merupakan CEO British Airways, mencatat bahwa maskapai penerbangan hanya akan menahan 5,45 dollar AS untuk setiap penumpang yang diangkut. Jumlah ini, katanya, cukup untuk membeli basic grande latte di Starbucks London dan terlalu sedikit untuk industri penerbangan, yang menjadi sandaran 3,5 persen produk domestik bruto global.

Dia menyebutkan peraturan yang memberatkan, banyaknya pemain di industri ini, biaya infrastruktur yang tinggi, dan rantai pasokan yang dihuni oleh sejumlah kecil perusahaan sebagai faktor-faktor yang menurunkan keuntungan maskapai penerbangan.

Masih Terhambat

Direktur kebijakan dan ekonomi Iata, Andrew Matters, mengatakan lalu lintas penumpang di Asia-Pasifik pasti akan menyusul pada tahun 2024, melampaui wilayah lainnya dengan proyeksi pemulihan sebesar 127 persen dibandingkan tahun 2019.

Asosiasi tersebut mengatakan maskapai penerbangan di Asia- Pasifik diperkirakan memperoleh laba bersih sebesar 1,1 miliar dollar AS pada tahun 2024, meningkat dari perkiraan kerugian bersih sebesar 100 juta dollar AS pada tahun 2023.

Menurutnya, pemulihan masih terhambat karena berbagai alasan. Pertama, pencabutan pembatasan perbatasan Tiongkok yang baru dilakukan pada pertengahan tahun 2023 telah menyebabkan perjalanan global Tiongkok tetap berada pada angka 40 persen di bawah tingkat sebelum pandemi.

"Kedua, perjalanan udara domestik di Asia-Pasifik telah pulih melampaui tingkat sebelum pandemi," kata Walsh.

"Ketiga, penundaan pengiriman jet berbadan lebar baru yang berdampak pada maskapai penerbangan tidak hanya di Asia-Pasifik, tetapi juga secara global akan berkurang secara bertahap pada tahun 2024," tambahnya.

Redaktur: andes

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.