Ini Kunci untuk Tingkatkan Produksi Pangan

Kamis, 07 Des 2023, 01:14 WIB

Bandung - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan, kunci utama peningkatan produksi pangan di Indonesia, termasuk di Jawa Barat, adalah penanggulangan keluhan petani.

Menurut Amran, sedikitnya ada lima kunci utama untuk peningkatan produksi pangan yang semuanya adalah permasalahan yang kerap dihadapi petani, pertama adalah penyediaan benih, kedua distribusi pupuk, ketiga terkait irigasi, keempat persoalan hama, dan kelima terkait penyuluhan pertanian.

"Jika lima kunci utama yang merupakan permasalahan yang dihadapi petani diselesaikan, penanganan masalah pangan iniinsyaallahselesai," kata Amran dalam pertemuan dengan para Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional (KTNA) se-Indonesia dan Rakor Upsus Akselerasi Padi dan Jagung di Wilayah Jabar 2023-2024, Bandung, Rabu.

Amran menyebutkan, usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu pertama memastikan distribusi pupuk lancar dengan mencabut regulasi yang menghambat seperti ketentuan kartu tani, kemudian menganggarkan untuk perbaikan dan revitalisasi irigasi tersier, memastikan kelancaran subsidi benih, dan memastikan kualitas SDM penyuluh pertanian.

"Kita tahu apa masalahnya, keluhannya, kita tanggulangi baru kita minta produksinyainsyaallahkalau kelima keluhan tadi kita penuhi, produksi pangan Indonesia juga akan meningkat," ucapnya.

Peningkatan produksi pangan, kata Amran, terus diupayakan pemerintah Indonesia sebagai antisipasi atas ancaman krisis pangan yang kini tengah dihadapi dunia akibat pemanasan global.

Bahkan jika cita-cita tersebut sukses dilaksanakan, menurutnya Indonesia akan menjadi lumbung pangan dan bisa membantu negara lain yang kekurangan pangan.

"Kondisi global untuk pangan saat ini sangat mengkhawatirkan. Pemanasan global membuat suhu naik 1,2 derajat. Dan sudah masuk zona oranye, ini bukan biasa-biasa. Ini jadi perhatian pemerintah, makanya kami melibatkan berbagai pihak, terutama TNI, dalam menjaga ketahanan pangan," kata Amran.

Indonesia sendiri sempat tiga kali mencapai swasembada beras dari 2017 sampai 2019. Namun pada 2023 ini, produksi beras menurun dari 31 juta ton menjadi 30 juta ton, karenanya, Indonesia kembali mengimpor beras sebesar 3,5 juta ton.

Ia mengatakan, upaya impor pun per tahun 2023 ini, bisa dibilang sulit, di mana sebanyak 20 negara penghasil pangan memilih menyimpan produksi pangannya untuk persediaan dalam negeri yang merupakan pertama kalinya dalam sejarah pertanian dunia.

"Karenanya permasalahan-permasalahan petani harus bisa ditanggulangi demi pangan kita," ucapnya.

Upaya lainnya yang bisa dilakukan dalam membuat Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, kata Amran, adalah dengan mencetak sawah baru di kawasan rawa mineral.

Amran menargetkan mencetak sawah rawa seluas satu juta hektare pada 2024 sehingga produksi beras naik 2,5 juta ton dan dapat mengurangi ketergantungan impor, sekaligus respon atas penurunan produksi pangan pada 2023.

Kemudian pada 2025 ditargetkan mencetak sawah rawa seluas dua juta hektare dan menambah panen lima juta ton.

"Pada 2026, tiga juta hektare dengan target penambahan 7,5 juta ton, terus bertambah sampai bisa memproduksi tambahan beras di atas 12,5 juta ton," ucapnya.

Amran mengatakan penambahan sawah baru ini sudah dimulai di Kalimantan Selatan dan Sumatra Selatan, namun ia pun berharap Jawa Barat dapat kembali meningkatkan produksi berasnya mengingat provinsi ini adalah lumbung padi nasional.

"Ada peluang besar kalau Jabar mau gerak, karena Jabar memang lumbung nasional," kata Amran.

Sementara itu, Ketua KTNA Muhammad Yadi Sofyan mengatakan pihaknya sangat yakin atas arahan Amran dan akan mendukung program-program Kementerian Pertanian, khususnya untuk peningkatan produksi tanaman pangan.

Namun, Yadi juga meminta Kementerian Pertanian memperhatikan pula komoditas kedelai.

"Di daerah, ada yang minta agar KTNA siapkan juga kedelai, selain beras dan jagung. Mudah-mudahan tahun depan tidak hanya padi dan jagung (yang diperhatikan). Karena impor kita terlalu besar, dua juta ton lebih, Rp24 triliun hanya untuk kedelai," katanya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Karhutla Makin Mengancam, Kemenhub Fasilitasi Pesawat Asing untuk Perkuat Penanganan

Aturan Baru Florida Bikin Geger! Ngebut Ditilang, Berkendara Lambat Juga Kena

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

Krisis Air Bersih di Natuna! Pemkab Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kekeringan Meteorologis, BMKG Ingatkan Seluruh Wilayah Jateng untuk Siaga

Curanmor Merajalela! Polda Banten Bongkar Sindikat yang Beraksi di 14 Lokasi

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.