Situasi Makin Sulit, Pemerintah Diminta Fokus Jaga Kecukupan Pangan Rakyat

Jumat, 01 Des 2023, 05:11 WIB

>> Pemerintah dipastikan akan mengetatkan fiskal dan bank sentral menaikkan suku bunga.

Ket. Foto: Guber­nur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo — Sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

JAKARTA - Dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2023 yang berlangsung di Jakarta, Rabu (29/11), Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan prospek ekonomi global akan meredup pada 2024 sebelum kembali bersinar pada 2025. Hal itu karena fragmentasi geopolitik berdampak pada fragmentasi geoekonomi.

Hal itu terlihat pada lima karakteristik dari ketidakpastian yang melanda dunia saat ini. Pertama, slower & divergence growth, yang mana ekonomi global melambat 2,8 persen pada 2024 sebelum tumbuh kembali 3 persen pada 2025.

Kedua, gradual disinflation, yaitu kondisi di mana penurunan inflasi melambat, meskipun diberlakukan pengetatan moneter yang agresif di negara maju. Faktor ketiga, higher for longer, yang ditandai dengan masih tingginya suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserves (the Fed) yang diikuti dengan hasil US Treasury yang terus meningkat.

Kemudian, faktor keempat adalah tren strong dollar yang menyebabkan mata uang negara-negara lain terdepresiasi termasuk rupiah. Terakhir, kata Perry, adalah cash is the king, yang berarti terjadi pelarian modal dalam jumlah besar dari emerging market ke negara maju karena tingkat suku bunga yang tinggi serta imbal hasil yang lebih besar.

"Lima gejolak global tersebut berdampak negatif ke berbagai negara. Tidak terkecuali Indonesia, sehingga perlu kita waspadai dan antisipasi dengan respons kebijakan yang tepat untuk ketahanan dan kebangkitan ekonomi nasional," kata Perry.

Menanggapi pernyataan Gubernur BI, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Eugenia Mardanugraha, mengatakan tahun 2024 adalah tahun yang berat bagi perekonomian Indonesia sehingga pemerintah dipastikan akan mengetatkan fiskal dan bank sentral menaikkan suku bunga. Di sisi lain, 2024 adalah tahun politik di mana pengeluaran pemerintah pasti meningkat. "Menurut saya, pemerintah harus fokus pada kecukupan pangan rakyat. Apa pun yang terjadi, jangan sampai rakyat kekurangan makan dan obat-obatan," kata Eugenia.

Tingkat pengangguran diperkirakan akan meningkat, meskipun akan kembali bekerja saat perekonomian normal kembali pada 2025. "Pemerintah harus menjamin kelangsungan hidup keluarga mereka selama menganggur," tegasnya.

Senada dengan Eugenia, pakar pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Surabaya, Zainal Abidin, mengatakan bahwa dalam menghadapi situasi ekonomi yang semakin sulit, kecukupan pangan memang harus diprioritaskan mengingat pangan merupakan kebutuhan primer yang tidak dapat digantikan.

Untuk itu, pemerintah diminta benar-benar mewujudkan kemandirian pangan karena ancaman krisis di masa mendatang akan selalu muncul. "Sandang, pangan, papan mutlak harus dipenuhi, terutama pangan karena manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa makan. Sebenarnya ancaman krisis sendiri selalu ada, dan situasi ke depan memang semakin sulit karena manusia akan memperebutkan energi, air, dan makan," kata Zainal.

Satu-satunya jalan agar terhindar dari krisis pangan adalah memiliki kemandirian dan kedaulatan pangan. Dia mengakui hal itu tidak mudah karena harus ada keberpihakan pemerintah kepada produsen yaitu para petani.

"Kemandirian hanya bisa dicapai dengan men-support petani, seperti negara-negara lain juga melakukannya. Keberpihakan pemerintah adalah kunci awal menuju swasembada," kata Zainal.

Menaikkan Suku Bunga

Dari Yogyakarta, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan Indonesia tidak akan mudah menghadapi tahun 2024 karena ekonomi global yang penuh ketidakpastian bersamaan dengan perhelatan demokrasi di tahun politik yang sering kali membawa langgam kebijakan ekonomi yang royal.

Dia mengingatkan kalau pengeluaran yang besar di masa pemilu, yang terlihat baik dari pengeluaran pemerintah maupun konsumsi masyarakat hanya memberikan manfaat positif bagi ekonomi nasional secara temporer.

"Pengeluaran pemerintah yang berlebihan, apalagi mengabaikan prinsip-prinsip anggaran yang sehat hanya demi tampil populis, justru bisa meninggalkan beban bagi pemerintah berikutnya," katanya.

Kondisi tersebut, kata Aloysius, harus diantisipasi dengan memperkuat kendali dari sisi moneter. BI sangat mungkin akan kembali menaikkan suku bunga acuan, seperti dilakukan Oktober lalu.

Kendati sulit, pemerintah diharapkan tidak menjual kebijakan ekonomi populis demi tujuan-tujuan politik jangka pendek. "Kalaupun diperlukan, pengeluaran berupa bantuan-bantuan harus menyasar target yang jelas, yakni kelompok masyarakat yang rentan terhadap kenaikan harga pangan dan sulit memperoleh pekerjaan," jelas Aloysius.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

Korea Utara Tuding Rencana Perluasan Anggaran Pertahanan Jepang Sebagai 'Persiapan Perang'

Brentford Kalahkan Tottenham Hotspur dengan Skor Telak 3-0

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.