Depresiasi Rupiah Picu Harga Pangan Impor Makin Mahal

Sabtu, 21 Okt 2023, 00:04 WIB

NEW YORK - Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang juga Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, pada Kamis (19/10) waktu setempat, mengatakan inflasi di negaranya masih terlalu tinggi, meskipun terjadi perlambatan baru-baru ini. Hal itu mengisyaratkan peluang masih terbuka untuk kenaikan suku bunga acuan.

"Bukti tambahan dari pertumbuhan yang terus-menerus di atas tren atau tanda-tanda baru pengetatan pasar tenaga kerja dapat membenarkan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut," kata Powell di New York.

Ket. Foto: BHIMA YUDISTHIRA Direktur Eksekutif Celios - Pelemahan rupiah masih terus berlanjut bahkan berisiko tembus 16.100 per dollar AS jika BI lamban melakukan langkah mitigasi. — Sumber: Sumber: BI - KORAN JAKARTA/ONES

Dikutip dari Barron, the Fed baru-baru ini memperlambat kampanye agresif pengetatan moneternya yang menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 22 tahun, dengan tujuan untuk memperlambat inflasi tanpa mendorong perekonomian AS ke dalam resesi.

Inflasi umum, yang diukur dengan ukuran favorit the Fed, telah berkurang lebih dari setengahnya sejak mencapai puncaknya pada bulan Juni tahun lalu, namun masih tertahan di atas target jangka panjang sebesar dua persen.

"Inflasi masih terlalu tinggi, dan data yang baik dalam beberapa bulan hanyalah permulaan dari apa yang diperlukan untuk membangun keyakinan bahwa inflasi bergerak turun secara berkelanjutan menuju tujuan kita," kata Powell.

"Kita belum bisa mengetahui berapa lama angka yang lebih rendah ini akan bertahan atau di mana inflasi akan stabil pada kuartal-kuartal mendatang," katanya.

Powell mengatakan sikap kebijakan the Fed saat ini bersifat restriktif, yang menunjukkan bahwa kebijakan moneter berupaya untuk memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi dan inflasi.

"Perekonomian AS menangani suku bunga yang jauh lebih tinggi setidaknya untuk saat ini, tanpa kesulitan. Apakah kebijakan saat ini terasa terlalu ketat? Saya harus mengatakan tidak," tambahnya.

Data terbaru menunjukkan berlanjutnya kekuatan ekonomi AS yang didukung oleh ketahanan belanja konsumen, sementara pasar tenaga kerja yang ketat menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Menanggapi sikap otoritas moneter AS, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Eugenia Mardanugraha, mengatakan terlepas dari angka inflasi, Bank Indonesia (BI) harus merespons kebijakan the Fed dengan menaikkan suku bunga BI7 days Reverse Repo Rate.

"Saat ini, perbedaan antara suku bunga BI dan the Fed sangat tipis, hanya 0,5 persen, sehingga sinyal the Fed menaikkan suku bunga seharusnya direspons BI. Sebab, tingkat suku bunga BI tidak mungkin berada di bawah Fed Fund Rate (FFR) agar nilai tukar rupiah tidak menerus terdepresiasi.

Selisih Makin Tipis

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, pada kesempatan terpisah mengatakan pelemahan rupiah masih terus berlanjut bahkan berisiko tembus 16.100 per dollar AS jika BI lamban melakukan langkah mitigasi.

Meskipun BI sudah naikkan suku bunga, selisih imbal hasil antara surat utang AS dan SBN tenor 10 tahun hanya 3,1 persen.

"Selisihnya kecil sekali dengan memperhitungkan risk free asset, akan mengakibatkan investor keluar dari pasar keuangan. Tekanan dari eksternal cukup kuat dari kekacauan geopolitik dan data-data ekonomi global yang memburuk," jelas Bhima.

Dampak pelemahan rupiah pun pada akhirnya dibayar mahal karena memacu kenaikan harga barang-barang impor terutama pangan dan bahan bakar minyak (BBM). "Harga beras sudah naik tajam, bisa makin mahal karena impornya tinggi. Kemudian, BBM juga biaya impornya naik dan BBM nonsubsidi bisa terus naik. Imported inflation akan kita lihat dalam jangka pendek, daya beli masyarakat bakal melemah di akhir tahun," kata Bhima.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan the Fed masih akan mengejar inflasi ke bawah 2 persen. Meskipun kenaikan FFR lebih lambat, tetapi implikasinya tetap harus diantisipasi.

"Faktor lain seperti konflik dapat mendorong the Fed untuk kembali agresif," kata Aloysius.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.