Lonjakan Dolar AS Mendorong 'Pengetatan Semu' di Asia Tenggara
Jumat, 29 Sep 2023, 00:08 WIBSINGAPURA - Bank-bank sentral di Asia Tenggara memilih instrumen selain kenaikan suku bunga untuk mempertahankan mata uang mereka terhadap lonjakan dolar AS, karena prediksi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang lebih tinggi akan terus berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama.
Dilansir oleh Bloomberg, Bank Indonesia (BI) menjaga ketat likuiditas dengan menjual surat utang, sementara suku bunga antar bank Malaysia telah meningkat ke level tertinggi sejak Juli. Pergeseran ini terjadi meskipun sebelumnya ada seruan untuk menaikkan suku bunga di Asia Tenggara karena ancaman tekanan inflasi terkait pangan dan energi serta kenaikan suku bunga The Fed yang mendorong kehati-hatian.
"Kami memperkirakan bank sentral di seluruh kawasan akan terus menggunakan kombinasi pengetatan likuiditas dan intervensi untuk menghindari depresiasi lebih lanjut mata uang mereka terhadap dolar," kata Abhay Gupta , ahli strategi di Bank of America di Singapura.
"Bank sentral di Asia Tenggara menjadi lebih toleran terhadap pengetatan semu," tambahnya.
Kebijakan suku bunga negara berkembang di Asia sangat rendah dibandingkan dengan The Fed
Perbedaan antara suku bunga acuan dari Asia Tenggara dan Amerika Serikat terus melebar karena bank sentral di Indonesia, Filipina, dan Malaysia menghentikan kenaikan suku bunga pada paruh pertama tahun ini. Suku bunga acuan Malaysia kini berada pada diskon 250 basis poin terhadap batas atas suku bunga The Fed, yang merupakan rekor selisih. Deviasi standarnya juga 2,3 di bawah perbedaan suku bunga lima tahun. Indeks yang sama untuk Indonesia, Filipina, dan Thailand masing-masing berada di -2,2, -1,8, dan -1,7.
Meskipun terdapat kesenjangan suku bunga yang besar, Bank Indonesia sejauh ini menahan diri untuk tidak memberikan sinyal kenaikan suku bunga. Pemerintah malah mulai menjual sekuritas atau surat utang SRBI dengan tenor 6, 9, dan 12 bulan untuk menarik arus masuk asing dan mengurangi ketergantungan pada suku bunga acuan, yang jika terlalu diperketat dapat merugikan perekonomian.
"Bukan hanya Indonesia, bank sentral di Malaysia dan Filipina juga menggunakan penjualan tagihan untuk memperketat likuiditas dan mendorong suku bunga lebih tinggi," kata Gupta.
Suku Bunga Antar Bank Kuala Lumpur tiga bulan telah meningkat menjadi 3,57 persen, tertinggi sejak 13 Juli. Surat utang 56 hari Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menerima imbal hasil rata-rata sebesar 6,7191 persen pada 22 September, tertinggi sejak penjualan 25 Agustus.
Gubernur BSP pada Selasa (26/9) mengatakan, jika risiko dari harga energi dan transportasi terwujud, bank sentral dapat menaikkan biaya pinjaman sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16 November atau lebih awal. Bank sentral Thailand menaikkan suku bunga utamanya sebesar 25 basis poin ke level tertinggi dalam 10 tahun sebesar 2,5 persen pada Rabu sambil memberikan sinyal adanya risiko kenaikan terhadap inflasi.
Rilis inflasi September dari Indonesia, Filipina dan Thailand yang dijadwalkan minggu depan akan diawasi dengan ketat untuk melihat tanda-tanda peningkatan tekanan harga.
- Bank Indonesia (BI)
- Inflasi
- obligasi
- The Federal Reserve System (The Fed)
- Suku Bunga Acuan
- surat utang
- The Fed
- Gubernur Bank Indonesia (BI)
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
30 UMKM Binaan BI DKI Mejeng di KKI 2026, Target Perluas Pasar & Akses Pembiayaan
-
Terkait Penunjukan Destry, Pakar: Perkuat Koordinasi Fiskal-Moneter untuk Turunkan Risiko Ekonomi
-
Perhutani Jawa Barat dan Banten Modifikasi Kendaraan Polhut jadi Pemadam Kebakaran
-
BI Pastikan Uang Digital Tidak Akan Gantikan Uang Tunai
-
CIMB Niaga dan Ajaib Kolaborasi Integrasikan Layanan Perbankan dan Investasi
-
Tak Mau Tertinggal, DIY Siapkan Sembilan Koperasi Berbasis Digital
-
Atap Gedung Roboh Sejak 2024, Begini Nasib 270 Siswa SDN Kebayoran Lama Selatan 09
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.