Kemenhub Dorong Implementasi Pembiayaan Hijau Proyek Perkeretaapian
Kamis, 21 Sep 2023, 16:33 WIBJAKARTA - Angkutan massal kereta api sebagai moda transportasi yang ramah lingkungan dinilai menjadi salah satu solusi mengatasi permasalahan perubahan iklim. Untuk itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong implementasi green financing (pembiayaan hijau) pada proyek-proyek perkeretaapian di Indonesia.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa Green financing menjadi salah satu terobosan baru bagi industri keuangan untuk bisa mengalokasikan dana kepada proyek pembangunan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek perlindungan dan mitigasi kerusakan lingkungan.
"Untuk menciptakan transportasi yang hijau, berkelanjutan, berkeadilan, berkeselamatan membutuhkan cost yang tinggi. Tetapi kalau ini tidak diwujudkan, masalah polusi dan perubahan iklim tidak bisa kita atasi," kata Budi pada Seminar Nasional: Strategi Green Financing Sektor Transportasi Untuk Daya Saing Perkeretaapian Berkeadilan yang diselenggarakan Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM di Jakarta, Rabu (20/9).
Dia juga menyebut, untuk membangun angkutan massal kereta api, selain membutuhkan investasi yang besar, pemerintah juga perlu mengalokasikan subsidi agar tarifnya terjangkau bagi masyarakat. "Lebih dari 30 persen alokasi anggaran kami diperuntukkan untuk memberikan subsidi," ucapnya.
Budi mendorong semua pihak untuk memiliki pemikiran yang sama bahwa pembangunan transportasi massal seperti kereta api adalah suatu keharusan karena berperan penting untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan yang paling rendah emisi gas buangnya dibandingkan moda transportasi lainnya.
"Untuk itu, konsep seperti green financing dan creative financing perlu terus kita dorong untuk mendapatkan dukungan pembiayaan," tuturnya.
Kemenhub terus konsisten melaksanakan aksi mitigasi perubahan iklim pada sektor transportasi. Beberapa rencana aksi mitigasi yang dilakukan di sektor perkeretaapian diantaranya yaitu: pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung, LRT Jabodebek dan MRT Jakarta, pengembangan KA perkotaan dan KA Bandara, serta pembangunan double track.
Perubahan Iklim
Pada kesempatan sama, Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Ikaputra mengatakan, pemerintah harus memutuskan kebijakan yang tepat dan pro terhadap upaya mengatasi masalah perubahan iklim.
"Ke depan terdapat sejumlah ancaman yang lebih besar daripada pandemi Covid-19 diantaranya yaitu dampak dari perubahan iklim yang akan menjadi the new pandemic, selain ancaman lainnya yaitu dampak perang Rusia-Ukraina dan transformasi digital," katanya.
Menurut Ikaputra pembangunan infrastruktur perkeretaapian, selain akan meningkatkan daya saing bangsa, juga diyakini mampu mengurangi resiko ancaman kebencanaan akibat perubahan iklim.
"Angkutan perkeretaapian belum cukup didukung pemerintah, karena investasinya besar, return lambat, fiskal negara yang tidak pas dengan kebutuhan pendanaan. Untuk itu perlu dirumuskan green financing yang tepat di sektor perkeretaapian," tuturnya.
Ikaputra berharap adanya sinergi yang baik antar Kementerian/Lembaga diantaranya yakni Kemenkomarves, Bappenas, Kemenkeu, Kemenhub untuk secara terpadu merencanakan dan menciptakan pemahaman yang sama tentang konsep green financing.
"Transportasi harus pro rakyat dan pro lingkungan untuk mewujudkan Indonesia maju," tutupnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Mohammad Zaki Alatas
Berita Terkait:
-
Carrick Tak Tutup Peluang Rashford Kembali ke Manchester United
-
Memasuki Musim Kemarau, BPBD DKI Siapkan Mitigasi El Nino dan Polusi Udara
-
Pameran Hari Keris Nasional
-
Keren! Dapur MBG Kini Hadir di Perbatasan
-
Perlintasan Liar Harus Ditutup Demi Keselamatan
-
Pencegahan penyakit campak di Deli Serdang
-
Grand Final Proliga 2026 Bergulir di Yogyakarta, Format Baru Tiga Laga Tentukan Juara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.