Sistem Logistik Harus Makin Efisien
Jumat, 15 Sep 2023, 08:26 WIBJAKARTA - Sistem logistik menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Biaya logistik yang makin efisien diyakini mampu meningkatkan daya saing ekonomi. Karena itu, pemerintah menargetkan penurunan biaya logistik menjadi 9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2045.
"Kuncinya, sekali lagi logistik. Kalau logistiknya membaik maka investasi yang ditanam akan menghasilkan hasil yang lebih baik," ujar Menteri Koordinator bidang Perekonomian (Menko), Airlangga Hartarto, dalam acara Era Baru Biaya Logistik untuk Indonesia Emas 2045 di Jakarta, Kamis (14/9).
Airlangga menyampaikan pemerintah terus berkomitmen meningkatkan kinerja logistik nasional melalui berbagai kebijakan, salah satunya dengan implementasi National Logistics Ecosystem (NLE) sebagai bentuk sinergi dan kolaborasi sistem informasi antar-instansi dan pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional. "Saya sangat mendukung target implementasi NLE yang penerapannya diperluas di 32 pelabuhan laut dan enam bandara untuk 2023," katanya.
Hasil evaluasi implementasi menunjukkan beberapa penerapan rencana aksi NLE sudah memberikan dampak positif, seperti Single Submission Pabean Karantina (SSm QC) yang berhasil mengefisiensi waktu hingga 22,37 persen. Tak hanya itu, SSm QC juga menghemat biaya sebesar 33,48 persen atau mencapai 191,32 miliar rupiah.
Lebih lanjut, kolaborasi antara Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kemenko yang melakukan perhitungan biaya logistik, memperlihatkan biaya logistik nasional Indonesia sebesar 14,29 persen terhadap PDB pada 2022.
Pada kesempatan sama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Bappenas, Suharso Monoarfa, mengatakan biaya logistik Indonesia ditargetkan turun menjadi 9 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2045. Suharso menjelaskan berdasarkan hasil kajian logistik yang dilakukan Bappenas, biaya logistik domestik saat ini mencapai 14,29 persen, sedangkan biaya logistik ekspor 8,98 persen.
Lebih lanjut, menurutnya, Kementerian PPN/ Bappenas melakukan pengukuran biaya logistik nasional menggunakan metodologi Input-Output. Berdasarkan perhitungan biaya logistik nasional, terdapat tiga komponen utama yang diperhitungkan, yakni biaya transportasi, biaya pergudangan dan penyimpanan persediaan (inventory) serta biaya administrasi.
Sistem Terintegrasi
Sementara itu, Bank Dunia mengungkapkan cara untuk menciptakan sistem logistik yang terintegrasi secara domestik dan internasional. "Pertanyaan yang sering diulang adalah bagaimana cara mengurangi biaya logistik per PDB. Kita punya target, 9 persen atau 8 persen pada 2045," ujar Konsultan Senior bidang Logistik Bank Dunia, Lamiaa Bennis.
Menurut Lamiaa, sistem logistik yang kuat dapat mengurangi biaya, memotong waktu, dan bisa lebih diandalkan. Selain itu, kata dia, sistem logistik yang kuat turut mempertimbangkan para pemangku kepentingannya. Dia menjelaskan terdapat tiga dimensi dalam kinerja logistik, yaitu biaya, waktu, dan reliabilitas.
- Airlangga Hartarto
- Bappenas
- Badan Pusat Statistik (BPS)
- Produk Domestik Bruto (PDB)
- Logistik
- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI
- Pembangunan Ekonomi
- Sistem Logistik
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Catat Tanggalnya, Puncak Arus Mudik Lebaran Diprediksi 18 Maret 2026
-
Lanud Sultan Hasanuddin Gelar Apel Halalbihalal Idul Fitri 1447 H/2026
-
Samsat Bekasi Beri Hadiah Warga yang Taat Bayar Pajak
-
BPS: Ekonomi Q1-2026 Tumbuh 5,61% Ditopang Konsumsi
-
Tempat wisata Rumah Marga Tjhia di Singkawang
-
Libur Lebaran, Atraksi Budaya di Pariaman Jadi Daya Tarik
-
Syahbandar Antisipasi Pemudik tak Kebagian Tiket di Pelabuhan Sampit
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.